Telkom Indonesia Ungkap Lonjakan AI Kuras Kapasitas Kabel Laut Bifrost

Smallest Font
Largest Font

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengungkapkan pembangunan kabel laut Bifrost rute Singapura-Amerika Serikat yang memakan waktu lima tahun langsung kehabisan kapasitas dalam kurun waktu kurang dari satu tahun setelah beroperasi, Selasa (25/8/2026), dilansir dari Detik iNET.

Director of Wholesale & International Service Telkom Indonesia Budi Satria Dharma Purba menjelaskan bahwa cepatnya pengisian kapasitas infrastruktur tersebut dipicu oleh ledakan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan bandwidth sangat besar.

"Untuk membangun kabel itu dibutuhkan waktu sekitar lima tahun. Tetapi kurang dari satu tahun, kapasitasnya sudah habis," ujar Budi dalam konferensi pers Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 di Nusa Dua.

Menurut penjelasannya, kondisi tersebut mencerminkan laju pertumbuhan permintaan konektivitas yang melampaui kecepatan industri telekomunikasi dalam merampungkan pembangunan infrastruktur fisik baru.

"Artinya, pertumbuhan demand sekarang jauh lebih cepat dibandingkan waktu yang kita butuhkan untuk membangun infrastruktur. Kebutuhannya sangat tinggi," katanya.

Budi merincikan bahwa lonjakan konsumsi konektivitas untuk mendukung kebutuhan pemrosesan komputasi dan AI dapat meningkat secara drastis jika dibandingkan dengan pemakaian era terdahulu.

"Untuk kebutuhan compute, kebutuhan connectivity bisa lebih dari 10 kali, bahkan 10-20 kali dibandingkan sebelumnya. Ini realitas yang terjadi," kata Budi.

Pertumbuhan infrastruktur ini juga berpengaruh pada anak usaha TelkomGroup, Telin, yang mencatatkan pertumbuhan pendapatan di atas 20% secara tahunan dari bisnis konektivitas kabel laut internasional. Pengembangan data center di Jakarta dan Batam menuntut jaminan konektivitas global.

"Kalau Indonesia ingin menjadi pusat pertumbuhan data center untuk mendukung AI, konektivitas globalnya juga harus tersedia," ujarnya.

Durasi pembangunan yang mencapai lima tahun kini menjadi tantangan utama industri untuk mengimbangi laju pertumbuhan permintaan konektivitas yang terus meningkat.

"Kalau saat ini membangun kabel membutuhkan waktu sekitar lima tahun, pertanyaannya apakah proses tersebut bisa dipercepat sehingga pembangunan dapat mengikuti demand," katanya.

Selain masalah rantai pasok dan perubahan peta pembangun kabel laut yang kini didominasi perusahaan teknologi besar hingga 70%, faktor geopolitik di jalur krusial seperti Selat Hormuz dan Laut Merah turut mengancam jalur komunikasi global menuju Eropa dan Asia.

CEO Telin Abdul Rahman Ansyori menegaskan bahwa situasi ini menuntut perubahan model operasional di industri digital melalui kerja sama erat antar-pemain.

"Kolaborasi sekarang tidak lagi hanya menjadi best practice di industri. Kolaborasi sudah menjadi operating model. Dan ini tidak hanya berlaku sekarang, tetapi juga untuk masa depan," tegas Abdul.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed