Tekanan Daya Beli Ubah Perilaku Konsumen di Surabaya
Penulis : Agung Dharma Putra 11 Aug 2026 | 21:58 WIB
Sejumlah warga berbelanja pakaian untuk kebutuhan Lebaran di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Bogor, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)
SURABAYA, investor.id – Tekanan daya beli membuat perilaku konsumen berubah. Masyarakat kini semakin selektif dalam mengeluarkan uang dan cenderung menahan pembelian barang di luar kebutuhan pokok hingga tersedia diskon, cashback, atau program promosi yang dinilai memberikan keuntungan.
Pengamat ekonomi sekaligus Dewan Penasihat KADIN Jawa Timur, Jamhadi, mengatakan bahwa pelemahan daya beli di tengah kondisi ekonomi saat ini mendorong masyarakat menerapkan strategi konsumsi yang lebih pragmatis, terencana, dan sensitif terhadap harga (price-sensitive).
Menurut dia, masyarakat sebenarnya belum sepenuhnya kehilangan daya beli. Namun, porsi pendapatan yang dapat digunakan untuk kebutuhan di luar kebutuhan pokok atau pendapatan diskresioner semakin terbatas. Kondisi tersebut membuat konsumen lebih mengutamakan kebutuhan sehari-hari dan menunda pembelian lainnya.
“Masyarakat sebenarnya tidak sepenuhnya kehilangan daya beli, melainkan mengalami penurunan porsi pendapatan diskresioner. Akibat keterbatasan ini, konsumen mengadopsi pola wait and see. Mereka menahan transaksi non-esensial sampai muncul insentif harga (promo/diskon) yang dianggap sepadan dengan nilai uang mereka (value for money),” ungkap Jamhadi, Selasa (11/8/2026).
Menurut Jamhadi, pola belanja dengan menunggu diskon tersebut turut mengubah jumlah transaksi dan nilai pembelian dibandingkan kondisi normal. Nilai rata-rata setiap transaksi cenderung mengecil karena konsumen membeli dalam jumlah lebih sedikit atau mengurangi barang pelengkap. Kondisi tersebut juga membuat pembelian impulsif (impulse buying) menurun tajam.
“Frekuensi belanja barang non-pokok cenderung menurun atau tertahan di level moderat,” imbuh Jamhadi.
Diskon Jadi Pemicu Transaksi
Jamhadi menilai diskon, cashback, cicilan, dan berbagai program promosi kini memiliki pengaruh dominan terhadap keputusan konsumen untuk berbelanja. Promosi berperan sebagai stimulus atau pemicu utama keputusan pembelian (buying trigger).
Menurut dia, diskon langsung dan cashback bahkan mampu meningkatkan volume transaksi harian sekitar 20%–50% selama periode kampanye, seperti Harbolnas, payday sale, atau pameran yang menawarkan potongan harga.
Sementara itu, cicilan 0% dan Buy Now Pay Later (BNPL) menjadi salah satu penopang pembelian barang dengan nilai lebih tinggi atau durable goods, seperti elektronik, gawai, dan furnitur. Skema tersebut memungkinkan konsumen menjaga arus kas bulanan ketika membeli barang yang dibutuhkan.
Tekanan daya beli juga mendorong perubahan pilihan merek. Jamhadi menyebut terjadi tren down trading atau brand switching secara masif, ketika konsumen beralih dari merek premium ke merek kelas menengah, private label, atau produk lokal dengan kualitas yang dinilai setara tetapi harga lebih terjangkau.
“Terjadi tren down trading atau brand switching secara masif. Konsumen beralih dari merek premium ke merek mid-tier, private label (merek internal ritel), atau produk lokal berkualitas setara yang harganya lebih ramah kantong demi menyesuaikan kemampuan finansial tanpa mengorbankan fungsi produk,” jelasnya.
Menurut Jamhadi, pola tersebut menunjukkan masyarakat tetap melakukan konsumsi, tetapi semakin mempertimbangkan nilai yang diperoleh dari setiap rupiah yang dikeluarkan.
Jamhadi memperkirakan penghentian program promosi secara mendadak dapat kembali menekan volume transaksi. Hal ini karena sebagian konsumen saat ini telah menjadikan promo sebagai salah satu pertimbangan utama sebelum membeli.
“Pasar saat ini didominasi oleh promo driven consumers. Begitu stimulus harga hilang, konsumen kembali ke mode saving atau sekadar melakukan riset harga hingga skema promo berikutnya muncul,” tutupnya.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Konsumsi Melambat, Kelas Menengah Makin Terjepit
Keyakinan Konsumen Masih di Level Optimistis
IKK Melorot Terus, Airlangga Sebut Efek Normalisasi Pasca-Idulfitri
Paylater Jadi Bantalan Konsumsi Masyarakat
International 3 menit yang lalu Perubahan Iklim Bikin Panas Ekstrem Makin Lama dan Meluas WMO menyebut panas ekstrem makin sering, intens, dan berlangsung lama seiring perubahan iklim yang terus meningkatkan suhu global.
Macroeconomy 4 menit yang lalu Daya Beli Lesu, Masyarakat Putuskan Belanja Cuma Saat Ada Diskon Daya beli tertekan membuat masyarakat menahan belanja dan memilih bertransaksi saat ada diskon, cashback, cicilan, atau promo.
Market 11 menit yang lalu Mitratel Terapkan ESG Terbaik di Industri, Ini Imbasnya ke Saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel konsisten memperkuat penerapan ESG. Ini berimbas positif ke saham.
Macroeconomy 35 menit yang lalu Defisit JKN Rp 2 Triliun per Bulan, Pemerintah Siapkan Strategi Pemerintah menyiapkan evaluasi tarif dan manfaat untuk menjaga JKN yang menghadapi proyeksi defisit arus kas Rp 2 triliun per bulan.
Business 43 menit yang lalu Penutupan Tambang Ilegal Dongkrak Produksi Timah Penertiban tambang ilegal dan penutupan jalur penyelundupan timah di Bangka Belitung beri dampak positif terhadap kinerja PT Timah Tbk.
International 45 menit yang lalu Joby Perluas Bisnis ke Sektor Pertahanan lewat Akuisisi US$500 Juta Joby memperluas bisnis ke sektor pertahanan melalui akuisisi Resonant Sciences senilai US$500 juta yang ditargetkan rampung pada 2027.
Tag Terpopuler
Terpopuler
Ramalan Laba GOTO Akhir 2026 & 2027, Keluar Target Harga Baru
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow