Taswina Putri Terpilih Menjadi Calon Paskibraka Pusat 2026 Asal Sulsel

Smallest Font
Largest Font

Siswa SMAN 1 Bone, Taswina Putri, terpilih menjadi Calon Paskibraka Tingkat Pusat Tahun 2026 mewakili Provinsi Sulawesi Selatan pada Jumat (14/8/2026), dilansir dari Detikcom. Keberhasilan tersebut mengulang jejak sang kakak, Taslindah, yang bertugas di tingkat nasional 21 tahun lalu.

Pengumuman ini menjadikan Wina sebagai perwakilan putri asal Kabupaten Bone yang berhasil menembus tingkat nasional setelah dua dekade. Motivasi melangkah ke tingkat pusat tumbuh dari ingatan masa kecil saat melihat seragam Paskibraka milik kakaknya.

"Saya terinspirasi dari sejak kecil karena di mana mama saya itu selalu memperlihatkan baju Paskibraka yang telah dipakai sama kakak saya sendiri," tutur Taswina Putri, Calon Paskibraka Tingkat Pusat 2026.

Kelulusan ini mengharukan sang kakak yang juga melatih Paskibraka di Kabupaten Bone. Penantian panjang selama 21 tahun berakhir ketika sang adik berhasil menggantikan posisinya sebagai perwakilan perempuan dari Bone.

"Kakak saya merasa bangga karena setelah 21 tahun, baru ada yang gantiin dia (dari Bone), perempuan, dan itu adik dia sendiri," tutur Taswina Putri.

Pengalaman mengikuti ekstrakurikuler pramuka, seni tari, dan marching band sejak SMP menjadi fondasi fisik dan mental Wina. Kesehariannya diisi dengan latihan persiapan seleksi serta pembagian waktu belajar.

"Saya melatih mental, fisik, dan juga sikap saya di sekolah itu," tutur Taswina Putri.

Kedekatannya dengan rutinitas Paskibraka terbangun karena kerap mendampingi kakaknya melatih anggota Paskibraka sejak kecil. Hal itu memberinya gambaran mengenai proses latihan hingga karantina di Desa Bahagia.

"Dari kecil, karena saya selalu ikut kakak saya setiap dia melatih. Dia melatih angkota paskibraka, jadi saya sudah tahu bahwa paskibraka itu bakal diginiin, bakal dilatih, bakal ada yang dinamakan Desa Bahagia, jadi saya sudah tahu," tutur Taswina Putri.

Persiapan akademis juga dilakukan untuk menghadapi Seleksi Wawasan Kebangsaan (TWK) dan Seleksi Intelegensia Umum (TIU). Ia memanfaatkan waktu malam hari demi menyeimbangkan tugas sekolah dan materi ujian.

"Malam (hari). Bahkan kita harus seimbangkan antara tugas (sekolah) dengan pembelajaran TWK (Tes Wawasan Kebangsaan) dan TIU (Tes Intelegensia Umum). Jadi antara yang dulu dan sekarang itu sangat berbeda (kesehariannya," ujar Taswina Putri.

Rasa kurang percaya diri sempat muncul akibat perbandingan tinggi badan dengan peserta lain. Ketinggian tubuhnya yang tercatat 166 cm pada seleksi tingkat kabupaten sempat memicu keraguan.

"Bahkan kakak saya juga awalnya kayak mikir, 'adik saya mungkin gak bisa ya', kayak 'mungkin kayak sampai di sini aja karena ada yang lebih tinggi dari dia'," ucap Taswina Putri.

Kondisi fisik tersebut sempat membuatnya menangis saat proses pengukuran. Namun, ia memilih menyerahkan hasil seleksi pada takdir sambil tetap berusaha.

"Aku sempat ini juga, nangis, pas pengukuran tinggi, karena tinggi saya itu 166 (cm) pas di (seleksi) kabupaten. Terus teman saya yang tinggi itu 168 (cm), jadi saya mikir kalau memang takdir saya (selesai) di sini, ya udah gak apa-apa," tutur Taswina Putri.

Proses seleksi dijalani secara mandiri tanpa mengandalkan status sang kakak sebagai pelatih. Ujian kesamaptaan B seperti push up dan sit up dapat dilalui dengan baik, meski lari 12 menit terasa menantang.

"Habis itu saya jalani tes dengan usaha saya sendiri, walaupun kakak saya pelatih, tapi saya sama sekali tidak mengandalkan kakak saya, saya tetap mengandalkan diri saya sendiri. Terus saya tes, yang paling susah menurut saya itu samapta, karena saya itu bukan orang yang suka lari, apalagi pelari 12 menit itu menurut saya agak susah. Tapi untuk dites samapta 2, di samapta B, seperti push up, sit up, menurut saya itu lumayan gampang," tutur Taswina Putri.

Setelah lolos seleksi kabupaten, Wina melanjutkan persiapan tingkat provinsi dengan menampilkan Tari Songkok Recca khas Bone. Meski sempat minder melihat peserta lain, ia berhasil menduduki peringkat pertama pada tahap pantukhir.

"Tapi saya tanamkan dalam diri saya, tetap semangat, jangan mundur, tetap maju, walaupun di depan itu banyak yang lebih dari saya sendiri. Habis itu saya menjalani tes di pantukhir, itu yang ranking 1, alhamdulillah nama saya disebut," tutur Taswina Putri.

Tiga pasang wakil Sulawesi Selatan kemudian mengikuti verifikasi pusat bersama 227 peserta dari 38 provinsi. Momen emosional menyertai kelulusan setiap tahapan tes.

"Setiap tes itu, pasti kita setiap tes nangis karena kayak kita bisa lewatin tes ini, dan kita ternyata bisa sampai di tahap ini," tutur Taswina Putri.

Pengumuman kelulusan menjadi puncak perjuangan yang disambut haru oleh keluarganya. Sang kakak memberikan pelukan hangat saat nama Wina dipastikan lolos ke tingkat nasional.

"Kakak saya langsung meluk saya karena bangga bisa lulus, bisa gantiin dia," tutur Taswina Putri.

Kesempatan berinteraksi dengan pemuda dari berbagai daerah memberikan pemahaman baru tentang kebhinekaan. Wina memandang momen pemusatan latihan sebagai wadah persatuan nasional.

"Ini merupakan hal yang baru bagi saya karena kita disatukan untuk bisa mengibarkan bendera merah putih. Jadi bertemu dengan teman-teman dari lintas provinsi, dari Sabang hingga Merauke itu hal yang sangat wow bagi saya sendiri," ucap Taswina Putri.

Memasuki pemusatan tingkat pusat, fokus utama diarahkan pada membangun rasa percaya diri dan menjalankan tugas dengan baik tanpa membedakan posisi bertugas.

"Kita tetap harus pede, karena di Paskibraka itu kita semua dianggap sama, walaupun sebenarnya nanti akan ada yang mendapatkan seperti pembawa baki, danpok, tapi di mata pelatih atau di mata pamong, kita itu semua sama. Jadi cara mengatasinya yaitu pastinya dengan motivasi diri sendiri, atau termotivasi dari teman-teman, dan juga tetap semangat," tutur Taswina Putri.

Pengalaman Paskibraka dijadikan bekal disiplin untuk mendaftar ke Akademi Kepolisian (Akpol). Pilihan karir di kepolisian menjadi rencana utamanya setelah sempat tidak mendapat izin orang tua untuk menjadi pramugari.

"Katanya pramugari itu terbang terus jauh dari orang tua. Karena saya anak bungsu, jadi saya ikut plan 2, plan 2 saya itu Akpol (Akademi Kepolisian)," cerita Taswina Putri.

Wina menargetkan pencapaian karir di kepolisian yang melebihi posisi sang kakak saat ini. Kakaknya diketahui aktif bertugas sebagai Polisi Wanita (Polwan).

"Kakak saya bukan (ikut) Akpol, tapi kakak saya itu polwan. Tapi saya mau lebih tinggi lagi dari dia," tutur Taswina Putri.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed