Target Pertumbuhan Ekonomi 5,9% di 2027 Butuh Kerja Ekstra

Smallest Font
Largest Font

Penulis : Nasori / Thomas E Harefa 26 Aug 2026 | 11:51 WIB

JAKARTA, investor.id – Target pertumbuhan ekonomi 5,9% pada 2027 membutuhkan kerja ekstra. Penyusutan belanja modal pemerintah membuat tambahan daya dorong ekonomi harus lebih banyak datang dari investasi swasta, BUMN dan Danantara, sekaligus hilirisasi, ekspor bernilai tambah, serta peningkatan produktivitas. Tanpa akselerasi mesin-mesin tersebut, target pertumbuhan berisiko sulit dicapai.

Tantangannya tidak ringan. Sejumlah ekonom memperkirakan, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) perlu tumbuh sekitar 8–10% untuk menopang pertumbuhan 5,9%. Angka tersebut jauh di atas pertumbuhan PMTB sebesar 6,87% pada kuartal II-2026, yang sebenarnya sudah tergolong kuat.

Di sisi lain, berkurangnya belanja modal pemerintah berisiko melemahkan fungsi APBN sebagai pemantik investasi swasta. Karena itu, penurunan belanja modal tidak cukup hanya digantikan dengan perpindahan sumber pembiayaan kepada Danantara atau BUMN. Pemerintah harus mampu menciptakan crowding-in, sehingga setiap rupiah yang berkurang dari APBN justru mengundang investasi non-APBN dalam jumlah lebih besar.

Tantangan berikutnya adalah kualitas investasi. Pertumbuhan PMTB yang tinggi perlu lebih banyak berasal dari investasi mesin, teknologi dan ekspansi kapasitas produksi yang meningkatkan produktivitas. Pada kuartal II-2026, ketika PMTB tumbuh 6,87%, investasi mesin dan perlengkapan justru hanya tumbuh 1,32%.

Selain itu, pemerintah harus memastikan investasi menghasilkan lapangan kerja dan memperdalam rantai nilai domestik. Hilirisasi perlu diperluas dari sektor mineral yang padat modal menuju manufaktur, pertanian, perkebunan, kelautan dan perikanan sehingga kenaikan investasi dapat sekaligus mengangkat daya beli dan konsumsi masyarakat.

Pemerintah pun dituntut memperbaiki iklim investasi, mulai dari kepastian hukum dan konsistensi regulasi hingga besaran pembiayaan. Ketersediaan modal saja tidak cukup jika proyek tidak bankable, perizinan tersendat atau dunia usaha tidak melihat prospek permintaan yang kuat. Dengan kata lain, pertaruhan pertumbuhan 2027 bukan semata pada besarnya investasi, tetapi kemampuan mengubah investasi menjadi kapasitas produksi, produktivitas, dan pekerjaan baru.

Pandangan tersebut mengemuka dari Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty, peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, serta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, yang dihimpun Investor Daily dalam kesempatan terpisah beberapa hari terakhir.

Editor: Nasori

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

CSIS: Belanja Produktif APBN 2027 Masih Terbatas

BI-Rate Berpeluang Naik jika Risiko Global Kembali Memburuk

Stabilitas untuk Pertumbuhan

Bunga Utang Kian Membebani Fiskal

Tiga Risiko Masih Mengintai Perbankan

International 2 menit yang lalu AS Tangguhkan Pemrosesan Visa Imigran dari Seluruh Dunia AS tangguhkan pemrosesan visa imigran global demi pelatihan petugas konsuler. Jadwal wawancara belum dipastikan.

Macroeconomy 4 menit yang lalu Butuh Upaya Ekstra Kejar Pertumbuhan Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) perlu tumbuh sekitar 8–10% untuk menopang pertumbuhan 5,9%.

Market 28 menit yang lalu Arkora Hydro (ARKO) Buka Babak Baru, Saham Ditarget Segini Arkora Hydro (ARKO) akuisisi Endorshine Energy Solutions (EES) dan masuk bisnis PLTS Batam-Bintan. Pluang melihat katalis saham ARKO.

Market 29 menit yang lalu Ada Haji Isam, Emiten Jadi Untung, Saham Bagger Saham Abadi Nusantara Hijau Investama (PACK) kembali melompat.

International 33 menit yang lalu Pasca Gempuran, Putin Resmi Tekan Dekrit Ambil Alih Perusahaan Swasta Putin resmi terbitkan dekrit ambil alih perusahaan swasta jika gagal halau serangan drone Ukraina ke infrastruktur vital. Simak!

Market 35 menit yang lalu Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026, Simak Update-nya Harga emas perhiasan hari ini, Rabu siang (26/8/2026), di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi (HRTA), dan Laku Emas cenderung menguat

Tag Terpopuler

Terpopuler

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026, Cek Rinciannya Emiten Batu Bara Dapat US$1 Miliar, Saham Mau ke Rp30 Ribu Emiten Raffi Ahmad Akuisisi RS Jantung Cirebon

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Senin 24 Agustus 2026, Simak Update-nya Prediksi Harga Emas Antam (ANTM) Rabu 26 Agustus 2026

Penulis : Nasori / Thomas E Harefa 26 Aug 2026 | 11:51 WIB

Berbalik Turun

Buku II Nota Keuangan beserta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 menunjukkan, pemerintah menargetkan ekonomi tumbuh 5,9%, sementara belanja modal hanya dialokasikan Rp295,23 triliun. Nilainya turun 19,7% dibandingkan outlook 2026 sebesar Rp367,44 triliun dan sekitar 31% dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp427,05 triliun.

Belanja modal memang bukan satu-satunya pembentuk PMTB. Investasi nasional juga berasal dari swasta, BUMN, PMA maupun sumber lain. Namun, belanja modal pemerintah memiliki peran strategis menyediakan infrastruktur dasar dan aset publik yang dapat menurunkan biaya sekaligus risiko investasi swasta. Karena itu, persoalannya bukan sekadar kehilangan Rp72,2 triliun belanja modal dibandingkan outlook 2026, melainkan apakah sumber non-APBN mampu memberikan daya ungkit lebih besar.

Nota Keuangan sendiri memperlihatkan adanya perubahan pola pembiayaan pembangunan. Pemerintah menempatkan optimalisasi Danantara dan perbaikan iklim investasi sebagai bagian dari penopang optimisme pertumbuhan 2027. Pembiayaan anggaran juga diarahkan menjadi instrumen untuk mendorong investasi dan produktivitas.

Josua Pardede menilai, target 5,9% masih mungkin dicapai, tetapi tergolong ambisius. Bank Permata sendiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2027 sekitar 5,22% dengan PMTB tumbuh 6,03%. Berdasarkan perhitungan sensitivitasnya, untuk menutup kesenjangan tersebut, PMTB perlu tumbuh sekitar 8–9%.

“Sekadar mengganti penurunan belanja modal APBN belum cukup; investasi swasta dan Danantara juga harus tumbuh jauh lebih cepat,” kata Josua. Berdasarkan kalkulasinya, selain menutup penurunan belanja modal sekitar Rp72,2 triliun, dibutuhkan tambahan investasi non-APBN sekitar Rp170–200 triliun di atas jalur dasar untuk mendekatkan pertumbuhan dari proyeksi 5,2% menuju 5,9%. Kedua angka tersebut merupakan pendekatan berbeda sehingga tidak dapat dijumlahkan.

Menurut Josua, RAPBN 2027 pada dasarnya sedang mengubah cara negara mendorong investasi. Risiko pencapaian pertumbuhan bergeser dari kemampuan pemerintah membelanjakan APBN kepada kemampuan menggerakkan Danantara, BUMN, perbankan, dan terutama sektor swasta. “Jika perpindahan ini berhasil, hasilnya dapat lebih efisien dan ruang fiskal lebih sehat. Jika gagal, 2027 justru dapat mengalami kekurangan investasi ketika dorongan fiskal melemah,” pungkas dia.

Editor: Nasori

CSIS: Belanja Produktif APBN 2027 Masih Terbatas

Penulis : Nasori / Thomas E Harefa 26 Aug 2026 | 11:51 WIB

Kebutuhan Investasi Membengkak

Telisa Aulia Falianty bahkan menilai, target pertumbuhan 5,9% sangat agresif. Dengan mempertimbangkan fundamental makroekonomi, inflasi dan kondisi daya beli, dia menilai, pertumbuhan sekitar 5,4–5,5% lebih realistis.

Persoalan mendasarnya adalah efisiensi investasi Indonesia yang masih rendah. Dengan incremental capital-output ratio (ICOR) yang tinggi, kebutuhan pembiayaan untuk menghasilkan tambahan pertumbuhan menjadi sangat besar. Telisa menyebut, kebutuhan investasi nasional untuk mengejar pertumbuhan 5,9% dapat mencapai Rp8.705 triliun.

Menurut Telisa, penyusutan belanja modal lebih banyak mencerminkan sempitnya ruang fiskal. RAPBN 2027 harus menanggung pembayaran bunga utang Rp650,31 triliun, sementara berbagai belanja wajib lainnya membuat struktur APBN semakin kaku. Kondisi tersebut menyebabkan ruang untuk belanja produktif semakin terbatas.

Dari kebutuhan investasi yang disebutnya Rp8.705 triliun tersebut, Telisa mengatakan, APBN diproyeksikan hanya menyediakan sekitar Rp459 triliun dan BUMN-Danantara sekitar Rp330 triliun. Dengan demikian, sekitar 91% atau Rp7.973 triliun harus dimobilisasi dari swasta dan pasar modal.

Namun, mobilisasi modal sebesar itu tidak boleh menghasilkan crowding-out. Penggalangan dana besar oleh Danantara dan BUMN di pasar domestik berpotensi mengurangi likuiditas bagi swasta dan menaikkan biaya modal. “Tanpa adanya kredibilitas kebijakan yang rasional dan transparan, mustahil meyakinkan swasta untuk melakukan ekspansi modal,” kata Telisa.

Karena itu, Telisa mendorong hilirisasi diperluas ke sektor yang lebih banyak menyerap tenaga kerja. Pertanian, perkebunan, kelautan, perikanan serta manufaktur seperti tekstil dan makanan-minuman dinilai dapat menjadi pasangan bagi hilirisasi mineral yang selama ini cenderung padat modal.

Editor: Nasori

CSIS: Belanja Produktif APBN 2027 Masih Terbatas

PMTB Harus Melompat

Yusuf Rendy Manilet juga menilai target 5,9% cukup berat jika dilihat dari sisi pengeluaran. Dengan konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh sekitar 5%, kontribusinya terhadap pertumbuhan hanya sekitar 2,7 poin persentase. Akibatnya, investasi harus mengambil porsi akselerasi yang jauh lebih besar.

“PMTB perlu tumbuh sekitar 8% sampai 10%, padahal pada triwulan II-2026 pertumbuhannya 6,87% dan itu sudah tergolong sangat kuat,” ujar Yusuf. Apalagi, mesin yang melaju paling kencang pada kuartal II-2026 justru konsumsi pemerintah dengan pertumbuhan 15,97%.

Menurut dia, persoalan belanja modal bukan terutama soal besarnya Rp295 triliun dibandingkan keseluruhan PMTB nasional. Yang lebih penting adalah fungsi belanja pemerintah sebagai pemicu investasi. Ketika belanja modal pusat turun, Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik hanya Rp5 triliun dan transfer daerah belum kembali ke level sebelumnya, pembentukan modal publik ikut melemah. “Padahal infrastruktur publik justru dibutuhkan untuk menurunkan biaya dan risiko investasi swasta,” jelas Yusuf.

Dengan kondisi tersebut, Yusuf memperkirakan, pertumbuhan yang lebih realistis berada pada kisaran 5,2–5,5%. Pemerintah harus memastikan penurunan peran fiskal langsung benar-benar diimbangi oleh peningkatan investasi swasta, bukan justru menciptakan jeda ketika investasi publik melemah tetapi investasi swasta belum cukup cepat masuk.

Mesin Baru Disiapkan

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui, tambahan pertumbuhan menuju kisaran 6% harus berasal dari beberapa sumber. Salah satu yang terpenting adalah investasi yang tumbuh lebih cepat daripada produk domestik bruto (PDB). “Tambahan yang kita perlukan datang dari beberapa sektor. Pertama adalah investasi, yang diharapkan tumbuh lebih cepat daripada PDB,” ujar dia.

Pemerintah juga melakukan debottlenecking untuk mempercepat realisasi investasi, bahkan dengan menyelesaikan hambatan hingga tingkat perusahaan. Selain itu, enam mesin pertumbuhan disiapkan, yakni hilirisasi dan upstreaming, swasembada energi, ekosistem bullion dan bank emas, pengelolaan devisa hasil ekspor sumber daya alam, digitalisasi-semikonduktor-AI, serta KEK dan kawasan industri. Sebanyak 26 proyek hilirisasi dan upstreaming telah memasuki tahap groundbreaking.

Airlangga menegaskan, investasi tidak boleh sekadar mengejar nominal. Proyek harus makin menggunakan rantai nilai domestik dan menghasilkan nilai tambah lebih tinggi. Pemerintah juga mendorong B50, pengembangan teknologi dan sumber dana manusia (SDM), serta ekspor bernilai tambah sebagai sumber pertumbuhan. “Investasi bukan hanya harus meningkat, tetapi juga harus menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi bagi perekonomian domestik,” tegas Airlangga.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed