Danantara Klaim Raih Laba Rp330 Triliun Lampaui Temasek
Danantara Indonesia mengumumkan telah meraup laba Rp330 triliun dan menargetkan laba Rp360 triliun tahun ini, mengklaim angka tersebut lebih besar dibandingkan laba Temasek Holdings, perusahaan investasi milik pemerintah Singapura, pada Senin (24/8/2026).
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyatakan target laba tahun ini hampir dua kali lipat dibandingkan Temasek yang menurutnya mencatat laba bersih sekitar Rp136 triliun.
"Jadi kalau secara size daripada net income tentu kita sudah lebih besar daripada Temasek, tahun ini kami harapkan Rp360 triliun, hampir 2 kali lipat daripada Temasek, dari Rp136 triliun ke Rp360 triliun," ujar Dony Oskaria dalam Squawk Box CNBC Indonesia.
Dony menegaskan pentingnya menyampaikan capaian tersebut kepada publik guna menunjukkan kemampuan Indonesia dalam mengembangkan perusahaan andal.
"Saya rasa tidak banyak orang yang tahu bahwa net income kami, laba perusahaan kami di Danantara lebih besar daripada Temasek. Ini mungkin tidak banyak orang yang tahu," tambahnya.
Namun, data laba Temasek menurut laporan resmi untuk tahun buku yang berakhir 31 Maret 2026 menunjukkan laba bersih grup sebesar S$32,4 miliar atau sekitar Rp451,66 triliun dengan kurs Rp13.940 per dolar Singapura, berbeda dari angka S$12 miliar yang disebutkan Danantara.
Laporan keuangan konsolidasi Danantara masih dalam proses audit menyeluruh atas berbagai entitas BUMN di bawah ekosistemnya.
Dony juga menyampaikan progres restrukturisasi BUMN dengan penyelesaian 70 persen penataan BUMN berkinerja negatif, dan menyebut sisa 30 persen fokus pada sektor karya, logistik, dan pengelolaan dana pensiun dengan kebutuhan biaya sekitar Rp100 triliun.
"(30%) Yang kita sedang selesaikan itu kan adalah di karya-karya saya harapkan ini selesai. The rest is relatifly kita sudah bisa kita lakukan. Perusahaan kita sudah dalam kondisi yang cukup sehat," ujar Dony.
Transformasi PT Pos Indonesia terkait pengelolaan dana pensiun ditargetkan selesai akhir tahun ini untuk menutup defisit hampir Rp4 triliun akibat pengelolaan investasi yang keliru.
"Harapansaya sih bisa selesai di akhir tahun ini juga," kata Dony.
Dony menyebut penataan dana pensiun menjadi pilar penting agar beban defisit tidak terus membebani induk entitas di masa mendatang.
"Dan yang terakhir adalah dana pensiun kita. Tiga ini yang sebetulnya masih menjadi PR kita," ujarnya.
Restrukturisasi juga mencakup pemangkasan portofolio dan pembebanan biaya penataan untuk menghindari kelemahan tata kelola berulang.
"Koreksi, impairment, cut loss dan lain sebagainya harus kita terpaksa, harus kita lakukan dalam angka perbaikan ini. Tapi inilah cost yang ke depannya kita tidak mau lagi ini terjadi," tambah Dony.
Dony menjelaskan kekurangan dana pensiun disebabkan pengelolaan investasi yang tidak optimal sehingga pendiri wajib melakukan top-up dana besar.
"Karena itu kan esensinya adalah pengelolaan daripada investasinya. Jika pengelolaan investasinya dilakukan sembarangan, menyebabkan rencana manfaat yang diterima oleh penerima manfaat atau pensiunan itu tidak tercukupi, maka pendiri berkewajiban untuk melakukan top-up. Ini jumlahnya cukup besar," jelasnya.
Kasus defisit dana pensiun di PT Pos Indonesia menjadi contoh nyata besarnya dana yang harus disuntik ulang.
"Contohnya misalnya di PT Pos kita kekurangan itu hampir Rp4 triliun, satu perusahaan, yang harus kita top-up karena tadi. Persoalannya apa? Investasinya tidak dikelola dengan baik. Jadi semuanya persoalannya sama," ujar Dony.
Selanjutnya, Danantara mengarahkan skema pensiun BUMN beralih ke sistem iuran pasti untuk menghindari beban finansial tak terukur di masa depan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow