Ekonom Sebut Target Pertumbuhan Ekonomi 2027 Terlalu Optimistis
Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,8 persen hingga 6,5 persen dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dinilai terlalu optimistis, khususnya pada batas atas. Penilaian ini disampaikan oleh Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet pada Rabu (12/8/2026), sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Proyeksi batas atas 6,5 persen dianggap sulit terealisasi lantaran memerlukan akselerasi pertumbuhan lebih dari satu poin persentase dalam setahun, di tengah keterbatasan prospek ekonomi global. Menurut Yusuf, lonjakan tajam secara historis hanya terjadi saat ada lonjakan harga komoditas (windfall) atau basis pertumbuhan yang sangat rendah. Saat ini IMF memproyeksikan ekonomi dunia hanya tumbuh sekitar 3 persen dan negara berkembang di kisaran 3,5 persen.
"Kalau kita lihat target pertumbuhan 5,8% sampai 6,5%, rentangnya terlalu lebar dan batas atasnya sulit dijadikan target kerja yang realistis. Untuk sampai ke 6,5% di 2027 kita butuh lompatan lebih dari satu poin persen dalam setahun," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia.
Ia menambahkan bahwa penetapan angka batas atas tersebut lebih mencerminkan dinamika lain dibanding perhitungan teknis.
"Saya melihat 5,8% masih menantang tapi masuk akal. Angka 6,5% lebih terdengar sebagai pesan politik daripada proyeksi teknokratis," tutur Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia.
Untuk memacu pertumbuhan pada 2027, Yusuf mendorong pemerintah memprioritaskan investasi swasta padat karya dan berorientasi ekspor. Langkah ini penting mengingat konsumsi rumah tangga bergerak lambat pada triwulan II-2026, sedangkan tingginya pertumbuhan impor menekan kontribusi neto perdagangan.
Selain masalah pertumbuhan, target defisit APBN 2027 yang disepakati pemerintah dan DPR sebesar 1,8 persen hingga 2,4 persen terhadap PDB juga dinilai penuh tantangan. Pasalnya, defisit APBN 2026 diproyeksikan membengkak menjadi 2,85 persen dari target awal 2,68 persen akibat kenaikan beban subsidi dan kompensasi. Di sisi lain, asumsi harga minyak Indonesia (ICP) 2027 di rentang US$ 70-US$ 95 per barel menyimpan risiko besar, mengingat setiap kenaikan US$ 1 per barel berpotensi menambah defisit sekitar Rp 6,8 triliun.
"Perencanaan sebaiknya diletakkan di kisaran 85 sampai 90 dolar, bukan di batas bawah," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia.
Menghadapi risiko ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga minyak global, Yusuf menekankan pentingnya penyesuaian strategi fiskal secara matang agar tidak mengganggu pos belanja produktif.
"Pemerintah wajib menyiapkan skenario berlapis, termasuk automatic adjustment pada belanja nonprioritas, pemanfaatan Saldo Anggaran Lebih secara terukur, serta reformasi subsidi energi agar lebih tepat sasaran. Tanpa itu, setiap guncangan eksternal akan langsung dibayar dengan pemotongan belanja produktif di tengah tahun," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow