Swayasa Prakarsa Alokasikan Rp12 Miliar Hasil IPO Bayar Utang UGM
PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP) mengalokasikan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) sebesar Rp12 miliar untuk pelunasan utang kepada Universitas Gadjah Mada dan anak usahanya pada penawaran awal Minggu, 23 Agustus 2026. Perusahaan manufaktur produk kesehatan ini mengincar dana segar hingga Rp45,22 miliar dengan melepas maksimum 323 juta saham baru atau setara 30,30 persen modal disetor pada kisaran harga Rp130 hingga Rp140 per saham. Alokasi pembayaran utang tersebut mencakup pelunasan kewajiban sebesar Rp10 miliar kepada Yayasan Universitas Gadjah Mada serta pembayaran sebagian utang Rp2 miliar kepada PT Gama Multi Usaha Mandiri.
Selain pembayaran utang, perseroan menganggarkan Rp12,2 miliar untuk belanja modal yang mencakup pembangunan gedung manajemen dan distribusi seluas 1.450 m2 di Cangkringan, Sleman senilai Rp10,7 miliar, kendaraan logistik Rp1 miliar, dan aset gedung Rp500 juta.
Sisa dana IPO sebesar Rp15,8 miliar dialokasikan untuk modal kerja, mencakup belanja bahan baku Rp5 miliar, operasional Rp4,6 miliar, peralatan produksi Rp2,3 miliar, pemasaran Rp2 miliar, pengembangan produk Rp1 miliar, peningkatan SDM Rp500 juta, dan sistem informasi Rp400 juta. Direktur Utama PT Swayasa Prakarsa Tbk, Bondan Ardiningtyas, menjelaskan arah transformasi perseroan melalui aksi korporasi di bursa saham tersebut.
"Bagi kami, IPO bukan sekadar aksi korporasi untuk memperoleh pendanaan. Langkah ini merupakan bagian dari transformasi PT Swayasa Prakarsa menjadi perusahaan yang semakin transparan, akuntabel, dan berkelanjutan, sekaligus memperluas dampak inovasi kesehatan karya anak bangsa," ujar Bondan Ardiningtyas, Direktur Utama PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP). Perseroan menjadwalkan pengembanan portofolio alat kesehatan baru untuk mendukung ekspansi bisnis operasional mendatang.
"Produk baru yang dikembangkan meliputi stent jantung, EVD, dan Ventilator Neonatal," tulis prospektus SWAP. Langkah IPO ini ditempuh di tengah penurunan kinerja keuangan 2025, di mana laba bersih perseroan merosot 58,96 persen menjadi Rp1,42 miliar akibat penurunan penjualan Ventilator V-01, serta rugi bersih Rp570,59 juta pada dua bulan pertama 2026. Struktur kepemilikan saham pasca-IPO akan mengubah porsi PT Gama Multi Usaha Mandiri dari 97,16 persen menjadi 67,72 persen, sementara publik memegang 30,30 persen saham dan UGM tetap bertindak sebagai pemegang saham pengendali.
Masa penawaran umum dijadwalkan berlangsung pada 2 hingga 8 September 2026 dengan penjamin pelaksana emisi efek PT Sukadana Prima Sekuritas, sebelum pencatatan saham di BEI pada 10 September 2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow