Spanyol Mengerahkan Militer Sikapi Gelombang Migran di Ceuta
Pemerintah Spanyol mengerahkan pasukan militer ke Ceuta pada Kamis (30/7/2026) setelah ribuan migran menerobos wilayah eksklave Afrika Utara tersebut dari Maroko, yang mengakibatkan sembilan orang tewas.
Gelombang kedatangan massal melintasi laut di kawasan pemecah gelombang Tarajal serta penerobosan pagar perbatasan membuat aparat Garda Sipil kewalahan menjaga wilayah seluas 18,5 kilometer persegi itu. Otoritas Spanyol mengonfirmasi sembilan jenazah korban tenggelam telah ditemukan di sepanjang jalur penyeberangan.
Pemerintah daerah Ceuta mencatat sekitar 2.000 hingga 3.000 migran yang didominasi pemuda tiba dalam sehari, hingga menciptakan krisis kemanusiaan berat. Pengelola pusat penampungan melaporkan fasilitas penerimaan telah melebihi kapasitas operasional.
Menanggapi situasi darurat tersebut, Kementerian Dalam Negeri Spanyol mengirimkan 60 prajurit Angkatan Bersenjata untuk memperkuat pengamanan perbatasan. Selain itu, Madrid menerjunkan unit polisi khusus dan tim penyelam sehingga total tambahan personel keamanan mencapai sekitar 230 orang.
Juru bicara pemerintah Spanyol mengonfirmasi penemuan para korban tewas di sekitar perbatasan. "Sembilan jenazah telah ditemukan," katanya dilansir AFP, Jumat (31/7/2026).
Petugas Garda Sipil melaporkan penetrasi terjadi secara masif dari arah laut kawasan Tarajal. Juru bicara Garda Sipil menyatakan para migran masuk "secara besar-besaran dari laut" melalui Tarajal.
Masyarakat lokal Ceuta menyaksikan langsung kepanikan di area perbatasan saat arus kedatangan terjadi. "Sungguh menyayat hati melihat begitu banyak orang menderita, dan siapa yang tahu berapa banyak yang sebenarnya tenggelam di sepanjang jalan," kata salah satu warga di Ceuta kepada AFP.
Saksi tersebut menambahkan bahwa para pendatang langsung menghadapi kondisi sulit saat tiba di daratan Spanyol. "Saat tiba, mereka dihadapkan kenyataan pahit bahwa mereka tak punya apapun, dan orang-orang memperlakukan mereka seolah bukan siapa-siapa," imbuh dia.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol menegaskan komitmen militer dalam mendampingi petugas lapangan di Afrika Utara. "Angkatan Bersenjata akan memperkuat Garda Sipil dalam menjalankan wewenangnya dan wewenang lain yang mungkin diperlukan untuk menjaga keamanan di kota Ceuta," demikian pernyataan Kementerian Dalam Negeri Spanyol, dikutip AFP.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyatakan penanganan krisis menjadi prioritas utama pemerintahannya. "Kami memobilisasi semua sumber daya yang diperlukan, bekerja sama dengan otoritas Maroko dan internasional, dan mempersiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk memulihkan keadaan normal sesegera mungkin," kata dia.
Sanchez menambahkan koordinasi lintas lembaga terus dimaksimalkan lewat unggahan media sosial. “Kami sedang memobilisasi semua sumber daya yang diperlukan… dan mempersiapkan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk memulihkan keadaan normal secepat mungkin. Ini adalah saatnya untuk menemukan solusi, dengan penuh tanggung jawab dan kerja sama,” tulis Sanchez di platform media sosial X.
Perwakilan petugas perbatasan menguraikan kondisi kritis di lapangan akibat lonjakan massa. "Situasinya kekacauan mutlak," katanya. Ia menambahkan, "Tidak mungkin memberikan angka pasti, tetapi ada ribuan migran yang menyeberang," sambil menyebut perbatasan "runtuh sepenuhnya."
Perwakilan asosiasi hak asasi manusia Maroko menilai pembukaan jalur tersebut sangat tidak biasa. "Perbatasan Tarajal dibuka dalam kondisi tak biasa pagi ini dan orang-orang menyeberang," merujuk pada pembukaan perbatasan yang tidak biasa pada pagi hari itu.
Perdana Menteri Pedro Sanchez dijadwalkan meninjau lokasi bersama Menteri Dalam Negeri Fernando Grande-Marlaska pada Jumat (31/7/2026) untuk mempercepat proses pemulangan migran ilegal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow