Serangan Siber di Indonesia Naik 93 Persen pada Semester 1 Tahun 2026
Jumlah serangan siber yang menargetkan infrastruktur Indonesia pada Semester 1 Tahun 2026 meningkat drastis sebesar 93,33 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, menurut laporan terbaru AwanPintar.id.
Laporan "Ancaman Digital di Indonesia Semester 1 Tahun 2026" mencatat total 257.976.333 serangan siber selama enam bulan pertama tahun ini, dengan rata-rata 16 serangan setiap detiknya, dilansir dari Detik iNET.
Yudhi Kukuh, Founder AwanPintar.id, menyatakan bahwa lonjakan ini disebabkan oleh meluasnya permukaan serangan akibat transformasi digital yang pesat di berbagai sektor.
"Termasuk oleh masifnya pemanfaatan layanan cloud, AI, dan peningkatan transaksi online di masyarakat," ujar Yudhi.
Serangan yang paling dominan kini adalah upaya merebut kendali penuh atas sistem melalui akses administrator. Persentasenya melonjak dari 2,76 persen pada tahun lalu menjadi 43,65 persen saat ini.
Fenomena ini menjadi peringatan bagi organisasi karena akses administrator yang direbut biasanya membuka jalan bagi serangan ransomware, pencurian data besar, dan sabotase jaringan.
Ancaman terbesar berikutnya adalah eksploitasi anomali protokol jaringan dengan kategori Generic Protocol Command Decode yang mencapai 27,22 persen, seringkali berupa serangan DDoS terarah.
Selain itu, percobaan pencurian data juga naik menjadi 13,97 persen, di mana pelaku memakai alat otomatis dan teknik brute force untuk membobol kata sandi lemah dalam hitungan detik.
Laporan juga mengungkap pola serangan digital yang terstruktur, dengan China sebagai sumber serangan utama ke Indonesia sebesar 21,94 persen, diikuti Amerika Serikat 10,83 persen.
Sementara itu, serangan lokal meningkat signifikan terutama dari Banyuwangi (4,53 persen) dan Tangerang (3,46 persen).
Modus pencurian kredensial sebagian besar (99,28 persen) dilakukan secara diam-diam melalui instalasi DoublePulsar Backdoor.
Serangan malware dan eksploitasi celah keamanan (CVE) kembali meningkat tajam pada Maret hingga Juni 2026 setelah sempat mereda di awal tahun.
Hal ini menunjukkan risiko tinggi terhadap sistem yang terlambat menerima pembaruan keamanan.
Untuk menghadapi ancaman yang makin kompleks, penerapan tata kelola keamanan yang ketat seperti manajemen hak akses yang disiplin, penggunaan autentikasi multifaktor (MFA), dan pembaruan intelijen ancaman secara berkala sangat diperlukan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow