Saham BUMI Dilego Asing Rp 172,9 Miliar Meski Laba Melonjak
Aksi lepas saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) oleh pemodal luar negeri masih berlanjut di pasar reguler Bursa Efek Indonesia. Seperti dilansir dari Investor Daily, investor asing mendatangkan transaksi jual bersih sebesar Rp 172,9 miliar pada periode 27 hingga 31 Juli 2026. Tekanan jual ini muncul berdasarkan laporan data Stockbit Sekuritas yang dihimpun pada Minggu (2/8/2026).
Padahal di sisi lain, keseluruhan pasar BEI justru membukukan transaksi beli bersih asing yang menembus Rp 7,1 triliun dalam sepekan terakhir, membalikkan keadaan pekan sebelumnya yang sempat net sell Rp 3,3 triliun. Gerak pergerakan harga saham emiten batu bara ini sempat ditutup menguat 1,8% ke posisi Rp 165 pada perdagangan Jumat (31/7/2026). Meskipun demikian, raihan tersebut belum mampu menahan koreksi saham BUMI yang terhitung susut 3,5% selama sepekan.
Kinerja bulanan BUMI sebenarnya mencatatkan lonjakan hingga 25%. Namun jika ditarik dari awal tahun, performa saham emiten ini merosot 54,9% secara year to date.
Pelepasan saham oleh asing ini terjadi tatkala emiten gabungan Grup Bakrie dan Grup Salim tersebut mencetak perbaikan kineja keuangan. BUMI berhasil meraup laba bersih sebesar US$ 72,3 juta pada semester I-2026, memuncak 87,4% ketimbang periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 38,6 juta. Peningkatan laba tersebut ditopang oleh pendapatan perusahaan yang terkerek 27,9% menjadi US$ 866,8 juta dari sebelumnya US$ 677,9 juta. Pihak manajemen BUMI menjelaskan bahwa faktor pendorong utama kinerja ini berasal dari kenaikan volume produksi, efisiensi operasional penambangan, serta pulihnya harga jual rata-rata komoditas batu bara.
"Perbaikan tersebut juga mendorong ekspansi margin dan peningkatan profitabilitas di seluruh lini usaha," ungkap manajemen BUMI dalam keterangannya.
Berdasarkan penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 111, beban pokok pendapatan BUMI membengkak 26,3% dari US$ 570,9 juta menjadi US$ 720,8 juta. Kendati demikian, laba kotor tetap sanggup terangkat 36,3% hingga mencapai US$ 145,9 juta.
Peningkatan operasional juga dibarengi kenaikan beban usaha sebesar 21,4% menjadi US$ 62,8 juta dari US$ 51,7 juta. Kondisi tersebut tidak menghalangi laba usaha BUMI untuk melesat 50,3% menjadi US$ 83,1 juta, dibandingkan US$ 55,3 juta pada semester pertama tahun sebelumnya.
Seiring kenaikan laba usaha, margin usaha perseroan terkerek naik menuju 9,6% dari angka 8,2%. Pada saat yang sama, laba sebelum pajak mengalami kenaikan 102,5% menjadi US$ 104,3 juta dari posisi awal US$ 51,5 juta.
"Perbaikan itu mencerminkan daya ungkit operasional yang kuat selama semester I-2026," sebut manajemen BUMI.
Lonjakan signifikan turut tercatat pada laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk, yakni membumbung 188,4% menjadi US$ 58,9 juta dari US$ 20,4 juta. Laju pertumbuhan bagian laba ini melampaui pertumbuhan total laba bersih perseroan.
Menurut keterangan resmi perseroan, lonjakan laba bersih entitas induk tersebut turut didorong oleh masuknya sumbangan laba dari unit aset BUMI yang beroperasi di Australia. Aset tersebut belum terhitung ke dalam basis laporan keuangan BUMI pada periode semester I-2025.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow