Aksi Protes Data Center Berujung Penangkapan di Amerika Serikat

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Gelombang aksi penolakan terhadap pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan semakin marak di Amerika Serikat. Fasilitas komputasi tersebut makin disorot lantaran dinilai memicu pencemaran lingkungan serta menguras pasokan listrik secara masif. Kondisi ini membuat makin banyak warga nekat mengambil risiko hukum demi menghentikan proyek tersebut, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.

Catatan Futurism menunjukkan setidaknya 37 tindakan penangkapan telah terjadi akibat demonstrasi anti-data center di AS. Selain penangkapan, pihak kepolisian juga mencatat sedikitnya 12 kejadian tambahan untuk menghadang massa maupun pembicara yang hendak mendatangi pejabat daerah pemberi izin proyek. Angka kejadian sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi karena banyak kasus tidak terpantau media.

Gerakan anti-data center ini memiliki keunikan karena tidak didominasi oleh kelompok politik atau demografi tertentu. Para penentang berasal dari beragam strata sosial, mulai dari pemilik lahan pertanian, guru fisika, generasi muda Gen Z, kalangan senior boomers, hingga masyarakat kawasan pedesaan serta pinggiran kota.

Kesamaan mendasar dari para aktivis yang ditangkap adalah kekecewaan terhadap jajaran pejabat hasil pemilu demokratis. Para pejabat dinilai gagal menyuarakan aspirasi warga lokal dan justru berpihak pada kepentingan korporasi teknologi skala besar.

Intimidasi dan Penangkapan di Ruang Publik

Tindakan tegas aparat penegak hukum mewarnai sejumlah aksi penolakan warga. Kasus Pablo Payan (42), seorang manajer pemeliharaan di Indiana, menjadi salah satu contoh insiden penangkapan saat forum warga berlangsung pada Mei lalu. Payan diamankan aparat saat menghadiri rapat umum pembahasan proyek fasilitas data raksasa milik Amazon di Kota Hobart. Ia digiring keluar dan ditangkap atas tuduhan mengganggu ketertiban umum serta masuk tanpa izin, setelah menolak mencatatkan identitasnya sebelum angkat bicara.

"Menurut saya, saya diusir untuk membuktikan bahwa hukum ada di pihak mereka, dan jika masyarakat terus mencoba mengekspresikan diri serta berbicara, mereka juga akan diintimidasi atau ditangkap oleh penegak hukum. Jadi, menurut saya itu adalah ajang pamer kekuasaan," kata Payan. Rangkaian demonstrasi sejatinya berlangsung damai dan baru berujung gesekan fisik ketika aparat melakukan penindakan agresif.

Sebagian besar penjeratan hukum bermula dari pelanggaran aturan minor, seperti melampaui batas waktu bicara. Insiden serupa dialami Lux Claridge, seorang guru fisika asal Emporia, Kansas. Claridge ditangkap aparat kepolisian hanya karena memberikan tepuk tangan dukungan kepada warga yang berorasi menolak pembangunan kawasan pusat data seluas 1.000 hektar.

"Saya sangat yakin bahwa bertepuk tangan adalah hak Amandemen Pertama yang saya miliki. Saya berhak melakukannya selama saya tidak mengganggu ketertiban, dan saya tetap berargumen bahwa saya sama sekali tidak mengganggu," kata Claridge.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed