Masuknya Produk Cina Tantang Daya Saing UMKM Lokal
Masuknya produk murah dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) atau Cina lewat perdagangan elektronik menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Dikutip dari Detik Finance, penguatan ekosistem pasar domestik serta pemanfaatan jejaring lokal dinilai menjadi faktor penting agar pelaku usaha dalam negeri tetap memiliki daya saing.
Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM M. Riza Damanik menjelaskan bahwa perdagangan digital telah memicu lonjakan jumlah UMKM yang masuk ke platform daring pascapandemi Covid-19. Kendati demikian, keberlanjutan usaha tidak hanya bertumpu pada aktivitas digital, melainkan juga didukung oleh faktor sosial dan budaya.
Menurut M. Riza Damanik, studi mengenai platform digital sejauh ini terlalu berfokus pada tingkat partisipasi atau produktivitas pelaku usaha. Padahal, aspek hubungan dengan pelanggan dan jaringan bisnis memiliki peran yang tidak kalah krusial.
"Agar bisa sehat, perlu dibangun kebijakan yang baik untuk memastikan agar seluruh produk yang dihasilkan di Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri," ujar Riza.
Di sisi lain, hasil penelitian sementara dari Amore Minayora selaku periset University of the West of England (UWE) menunjukkan pandangan berbeda. Serbuan produk impor dinilai tidak serta-merta mematikan daya saing pelaku usaha lokal.
Dalam seminar bertajuk Jakarta Hustle: Resilience and Resourcefulness Beyond E-Commerce Platform di Gedung SMESCO Jakarta, Rabu (8/7/2026), Amore menyebutkan bahwa ketahanan UMKM di Ibu Kota banyak ditopang oleh ekosistem lokal.
"Masuknya barang-barang dari Cina melalui platform perdagangan daring tidak membuat pengusaha kecil dan menengah mati langkah. Ketahanan pengusaha UMKM di Jakarta berasal dari kedekatan akses dan relasi dengan jejaring lokal seperti rantai pasok lokal, penyedia jasa logistik, serta hubungan dengan konsumen di luar platform daring," kata Amore.
Amore menambahkan, interaksi langsung dengan pembeli menjadi strategi efektif yang membantu pelaku usaha bertahan di tengah persaingan pasar digital. Pemerintah sendiri merespons dinamika ini dengan meluncurkan berbagai kebijakan, termasuk memfasilitasi kolaborasi antara platform e-commerce dan pelaku usaha domestik.
Pemerhati Cina dari Universitas Pelita Harapan Johanes Herlijanto mengungkapkan bahwa dugaan mengenai praktik predatory pricing oleh produk Cina marak berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Namun, tuduhan tersebut dinilai belum terbukti secara hukum.
Johanes Herlijanto mengakui keunggulan harga yang dimiliki produk asal Negeri Tirai Bambu tersebut. Sekitar sepuluh tahun lalu, keberadaan produk murah ini bahkan membantu sebagian pelaku UMKM memperoleh barang dengan harga terjangkau untuk dijual kembali.
"Para pedagang toko daring bisa mendapat barang yang murah untuk dijual," ujar Johanes.
Meski begitu, sistem perdagangan digital saat ini memungkinkan penjual luar negeri bertransaksi langsung dengan konsumen Indonesia. Perubahan ini menuntut pelaku usaha lokal untuk segera merombak strategi bisnis mereka.
CEO SMESCO Indonesia Doddy A. Matondang menambahkan, hasil riset sementara ini mengonfirmasi bahwa peluang berkembang bagi pelaku usaha domestik masih terbuka lebar. Pelaku UMKM diharapkan terus beradaptasi dan memaksimalkan jejaring internal guna menghadapi tantangan produk impor.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow