Polisi dan Inovator Manfaatkan Teknologi AI untuk Berbagai Layanan

Smallest Font
Largest Font

Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) makin meluas untuk mengatasi berbagai masalah sosial, mulai dari reunifikasi keluarga korban penculikan di China, pembantu navigasi tunanetra di Mesir, hingga penindakan lalu lintas di Tangerang Selatan.

Di China, sistem pengenalan wajah berbasis perbandingan wajah lintas usia membantu kepolisian Hebei menemukan Xie Qingshuai pada 27 November 2023 setelah hilang diculik selama 25 tahun sejak Januari 1999. Pria yang tumbuh di Chengdu tersebut berhasil diidentifikasi menggunakan sistem kecerdasan buatan buatan perusahaan Beijing, Deepglint, yang mencocokkan fitur wajah genetik dari foto orang tua dan kakaknya.

Keberhasilan teknologi perbandingan wajah lintas usia ini menandai kemajuan sistem pencarian orang hilang di China yang juga dikembangkan oleh perusahaan teknologi lain seperti Baidu dan Tencent. Laporan China Daily mencatat kepolisian Provinsi Fujian bahkan berhasil menemukan lebih dari 500 orang hilang dalam waktu enam bulan memanfaatkan sistem pengenalan wajah buatan YouTu Lab.

"Saya telah menunggu hari ini selama 25 tahun," kata Xie Kefeng, ayah kandung Xie Qingshuai.

Penemuan Xie Qingshuai yang mengandalkan konfirmasi tes DNA tersebut menjadi salah satu dari empat kasus pencarian orang hilang yang sukses diselesaikan oleh kepolisian lewat bantuan perangkat lunak Deepglint dalam kurun waktu enam bulan.

Sementara itu di Kairo, Mesir, seorang pemuda berusia 20 tahun bernama Mark Morad mengembangkan aplikasi berbasis AI bernama ScribeMe untuk membantu penyandang tunanetra memahami lingkungan sekitar. Aplikasi yang dapat diintegrasikan dengan kacamata pintar Ray-Ban Meta ini mampu mendeskripsikan objek, situasi visual, hingga membaca materi pelajaran secara waktu nyata melalui deskripsi suara.

Pengembangan ScribeMe bermula dari pengalaman pribadi Mark dan adiknya, Karen Morad, yang kehilangan penglihatan akibat kondisi langka pada saraf optik. Mark mempelajari pemrograman secara otodidak melalui YouTube hingga berhasil menciptakan aplikasi yang kini telah digunakan oleh ribuan pengguna di sekitar 140 negara serta mendukung 20 bahasa.

Di sektor penegakan hukum lalu lintas domestik, Satuan Lalu Lintas Polres Tangerang Selatan memaksimalkan tiga unit mobil patroli berteknologi ETLE mobile berbasis AI dan satu perangkat ETLE handheld. Perangkat bergerak ini memindai serta merekam pelanggaran jalan raya secara otomatis untuk memvalidasi penindakan tilang elektronik di wilayah hukumnya.

"Ketika mobil dinas kami itu jalan mau melakukan gatur (pengaturan lalu lintas) atau sedang melakukan gatur, kamera ETLE itu on terus. Jadi dia capture terus semua pelanggaran yang dia lihat tanpa pandang bulu," ujar Danny, Kasat Lantas Polres Tangsel AKP Danny Trisespianto Arief Sutarman.

Danny juga mengklarifikasi isu yang beredar di media sosial mengenai keberadaan kamera pemantau di kawasan Graha Raya. Kepolisian memastikan tidak ada kamera ETLE statis yang dipasang di tiang jalan di seluruh wilayah hukum Polres Tangerang Selatan.

"Jadi sampai saat ini, ETLE yang ada di Polres Tangerang Selatan itu bukan ETLE statis," ujar Danny.

Sistem ETLE mobile di Tangerang Selatan bekerja secara otomatis memproses tangkapan gambar pelanggaran ke pusat data Polres Tangsel secara waktu nyata, sebelum notifikasi tilang beserta bukti foto dikirimkan kepada pemilik kendaraan melalui SMS atau WhatsApp.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed