Pengguna Kripto Indonesia Tembus 22 Juta Orang Hingga Juni 2026

Smallest Font
Largest Font

Jumlah pengguna aset kripto di Indonesia tercatat mencapai 22,69 juta orang hingga Juni 2026, sebagaimana dilansir dari Detik Finance pada Minggu (23/8/2026). Pertumbuhan ini mendorong penguatan ekosistem melalui regulasi serta peningkatan peran institusi.

Co-Founder Indodax Oscar Darmawan menilai kepatuhan terhadap aturan menjadi modal utama untuk menarik minat investor institusional. Namun, penyediaan layanan yang relevan juga wajib berjalan beriringan guna menjaga keamanan konsumen.

"Compliance tetap diperlukan karena menjadi salah satu fondasi agar institusi dapat masuk ke industri ini. Namun, pada saat yang sama, inovasi juga perlu terus berjalan. Jika produk dan layanan di dalam negeri semakin berkembang, pengguna akan memiliki lebih banyak alasan untuk tetap berada di ekosistem yang teregulasi dan mendapatkan perlindungan yang lebih baik," ujar Oscar Darmawan, Co-Founder Indodax.

Pengembangan regulatory sandbox oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi sarana penting dalam menguji coba beragam gagasan baru sebelum diluncurkan secara menyeluruh di pasar.

"Perkembangan inovasi di industri kripto sangat cepat. Dengan adanya regulatory sandbox, inovasi dapat diuji dan dievaluasi terlebih dahulu sebelum diterapkan lebih luas. Pendekatan ini dapat membantu ekosistem kripto Indonesia berkembang dengan lebih tertata sekaligus memberikan ruang bagi percepatan inovasi," jelas Oscar Darmawan, Co-Founder Indodax.

Pemerintah turut memproyeksikan teknologi blockchain dan aset digital sebagai penopang investasi nasional. Wilayah seperti Bali bahkan diarahkan untuk bertransformasi dari sekadar kawasan wisata menjadi pusat inovasi teknologi, Web3, serta keuangan digital.

"Pemerintah dapat membangun kerangka, regulator memberikan kepastian, tetapi perusahaan dan inovator yang membangun masa depan," ujar Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi.

Sektor ini tidak lagi bertumpu pada spekulasi harga semata. Instrumen baru seperti tokenized stocks makin membuka akses masyarakat terhadap saham global secara lebih ringkas tanpa perlu membuka akun broker asing.

"Dulu, aset kripto mungkin dianggap seperti scam. Saat ini, regulasinya sudah jauh lebih jelas dan perlindungan konsumen juga semakin diperkuat. Memang dulu lebih sulit, tetapi sekarang sudah jauh lebih mudah," ujar Calvin Kizana, CEO Tokocrypto.

Integrasi teknologi Web3 dan instrumen keuangan tradisional ini dinilai mempermudah masyarakat dalam berinvestasi, meski aspek pemahaman risiko tetap perlu diprioritaskan.

"Banyak orang ingin berinvestasi di saham Amerika, tetapi sebelumnya harus membuka brokerage account di luar negeri dan melalui banyak layer. Dengan tokenized stocks, aksesnya menjadi lebih mudah," kata Calvin Kizana, CEO Tokocrypto.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed