Benjamin Netanyahu Klaim Iran Berupaya Membunuh Salah Satu Putranya

Smallest Font
Largest Font

Tuduhan terkait ancaman pembunuhan terhadap keluarganya dilayangkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap pihak Teheran pada hari Senin, saat berbicara dalam sebuah wawancara telepon dengan stasiun televisi Channel 14 Israel.

"Sesuatu yang luar biasa terjadi: Iran menargetkan salah satu anak saya. Iran berusaha membunuh salah satu anak saya," kata Netanyahu.

Pemimpin rezim Zionis tersebut tidak membeberkan rincian mengenai metode maupun waktu pelaksanaan dari dugaan upaya pembunuhan tersebut. Tidak disebutkan pula apakah sasaran dugaan penargetan itu mengarah kepada Avner atau Yair.

Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu ketika menanggapi kabar penolakan pengawalan oleh badan keamanan domestik Israel, Shin Bet, terhadap mantan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Letnan Jenderal (Purn) Gadi Eisenkot yang akan bersaing melawannya pada pemilu mendatang.

Di tingkat regional, dinamika keamanan terus memanas setelah Arab Saudi pada 27 Juli mencegat drone asal wilayah Irak yang menyasar fasilitas minyak di Provinsi Timur dan Riyadh, serta menuding milisi berafiliasi Teheran berada di balik serangan itu.

Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi langsung memerintahkan penyelidikan resmi terkait temuan peluncuran drone tersebut setelah Riyadh menegaskan haknya untuk membalas.

Sementara itu, dinamika pertahanan Teheran kian menegang menyusul mandeknya dialog perundingan pasca-MoU dengan Amerika Serikat yang sempat dimediasi Pakistan dan Qatar pada bulan Juni akibat sengketa aturan pelayaran di Selat Hormuz.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan stabilitas nasionalnya di tengah tekanan ekonomi serta penemuan cadangan gas alam baru sebesar 7,50 triliun kaki kubik.

"Musuh memperkirakan bahwa jika Iran runtuh, negara ini akan menjadi seperti Venezuela. Hal itu tidak hanya tidak terjadi, tetapi Iran justru menjadi kekuatan yang memukau dunia melalui ketahanan, solidaritas, dan kekompakannya," tegas Pezeshkian.

Ia menekankan langkah diplomasi yang tetap diupayakan pihaknya untuk mencegah eskalasi permusuhan di kawasan secara menyeluruh.

"Teheran berupaya dengan segenap kemampuan untuk menghindari perpecahan, konflik, dan ego," imbuh Pezeshkian.

Di sisi lain, masa negosiasi 60 hari antara Teheran dan Washington resmi berakhir tanpa terobosan baru menyangkut sanksi dan program nuklir, mendorong perubahan sikap pertahanan yang lebih agresif.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan kesiapan negaranya beralih ke strategi militer ofensif jika jalur diplomatik menemui kebuntuan total.

"Jika sebuah negara memiliki senjata nuklir, hal itu bisa jadi lebih murah dan lebih efektif dibandingkan memiliki ratusan jet F-35 serta menghabiskan dana dalam jumlah sangat besar untuk kemampuan militer lainnya," ujar Rezaei.

Rezaei turut menyalahkan kepemimpinan Donald Trump yang dinilai merusak tatanan stabilitas keamanan internasional pasca-serangan terhadap fasilitas negara tersebut.

"Trump telah melakukan kesalahan dengan menyerang Iran...Banyak negara kini mencari cara untuk meninjau kembali tatanan nuklir internasional," kata Rezaei.

Pernyataan tersebut ditutup Rezaei dengan menyoroti dampak kebijakan luar negeri Washington terhadap kepatuhan non-proliferasi global.

"Bukankah itu tindakan yang bodoh?" kata Rezaei.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed