Neraca Perdagangan Indonesia Kembali Mencatat Surplus pada Juli 2026
Penulis : Arnoldus Kristianus 1 Sep 2026 | 16:17 WIB
Foto udara kapal tanker membongkar muat crude palm oil (CPO) di Terminal Belawan, Medan, Sumatera Utara, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Yudi Manar)
JAKARTA, investor.id – Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada Juli 2026, tetapi ruang surplus tersebut masih tipis dan belum sepenuhnya lepas dari tekanan. Impor yang tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan ekspor berpotensi menjadi tantangan, terutama di tengah agenda pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan dan efek ketidakpastian ekonomi global.
Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata, Faisal Rachman, mengatakan bahwa kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan diperkirakan menjaga permintaan domestik tetap kuat. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan impor lebih tinggi.
“Kami masih melihat adanya risiko penurunan terhadap kinerja neraca perdagangan Indonesia. Kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan diperkirakan akan menjaga permintaan domestik tetap kuat dan mendorong pertumbuhan impor yang lebih tinggi,” ucap Faisal, Selasa (1/9/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mencatat surplus tipis US$ 0,12 miliar. Surplus tersebut terjadi setelah nilai ekspor mencapai US$ 26,22 miliar, sedangkan impor mencapai US$ 26,09 miliar.
Nilai ekspor Juli 2026 meningkat 6,05% dibandingkan Juli 2025. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh peningkatan nilai ekspor nonmigas. Sementara itu, nilai impor Juli 2026 melonjak 27,02% secara tahunan. Dengan demikian, laju pertumbuhan impor masih bergerak lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekspor.
Faisal menuturkan, ketegangan geopolitik yang terus berlangsung di Timur Tengah juga menimbulkan risiko kenaikan harga minyak global. Kondisi tersebut selanjutnya dapat meningkatkan nilai impor minyak Indonesia.
Di sisi lain, pertumbuhan ekspor diperkirakan mengalami moderasi seiring melemahnya permintaan global serta berlanjutnya ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan.
Ketidakpastian global tersebut dikhawatirkan mengganggu rantai pasok global dan mendorong sejumlah negara menerapkan kebijakan yang lebih berorientasi ke dalam negeri atau inward-looking policies. Kondisi itu berpotensi menekan kinerja ekspor Indonesia.
“Meskipun perdagangan global semikonduktor dan chip terkait artificial intelligence terus berkembang, keterlibatan Indonesia yang masih terbatas dalam rantai pasok bernilai tinggi tersebut membuat manfaat langsung terhadap ekspor Indonesia kemungkinan tetap terbatas,” tutur Faisal.
Dengan perkembangan ekspor dan impor tersebut, Faisal memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar menjadi 2,49% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026.
Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan defisit transaksi berjalan sebesar 0,09% dari PDB pada 2025. Sementara itu, cadangan devisa Indonesia diperkirakan turun menjadi US$ 143–147 miliar pada akhir 2026, dari US$ 156,47 miliar pada akhir 2025.
“Dalam kondisi tersebut, kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan kebijakan moneter yang saat ini berorientasi pada stabilitas,” terang Faisal.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Impor Juli 2026 Melonjak 27,02%
Inflasi Kembali Tembus 3%, BI-Rate Bisa Naik Lagi
Ekspor RI Sentuh US$ 26,22 Miliar pada Juli 2026
Rupiah Waswas, Muncul Risiko Twin Deficits
Market 2 menit yang lalu IHSG Melesat, 8 Saham Kompak ARA Indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat ke level 6.599,9 pada penutupan perdagangan, Selasa (1/9/2026). Ada delapan saham mentok ARA.
Market 5 menit yang lalu Dividen BRI (BBRI) plus Target Sahamnya BRI mengindikasikan payout ratio turun menuju 60% untuk memperkuat modal, sementara saham BBRI tetap direkomendasikan buy. Simak targetnya!
Macroeconomy 6 menit yang lalu Surplus Tipis, Neraca Perdagangan Indonesia Masih Rentan Surplus neraca perdagangan Juli 2026 hanya US$ 0,12 miliar. Impor melonjak 27,02%, sementara ekspor tumbuh 6,05%.
International 17 menit yang lalu Pengawasan Ketat Regulator Bayangi Ambisi Produsen Mobil Listrik China China perketat pengawasan keselamatan mobil listrik di tengah ambisi produsen memangkas durasi produksi hingga 18 bulan.
International 27 menit yang lalu Tekan Harga BBM, Trump Kumpulkan Pelaku Industri Minyak Presiden Trump kumpulkan pengusaha minyak untuk tekan harga BBM di SPBU jelang Pemilu Sela Kongres AS.
Market 30 menit yang lalu Rupiah Kembali Masuk Tren Koreksi Pada perdagangan Selasa (1/9/2026), nilai tukar rupiah ditutup melemah 22 poin (0,12%) ke level Rp 17.744 per dolar AS.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow