Migran Padati Perbatasan Maroko Jelang Penyeberangan Massal ke Ceuta
Ribuan migran memadati kota Fnideq di Maroko utara yang berbatasan langsung dengan wilayah eksklave Spanyol, Ceuta, sepanjang hari Kamis untuk mencoba menembus wilayah Uni Eropa melalui jalur darat dan laut.
Gelombang besar pergerakan massa tersebut dilaporkan oleh Reuters terjadi setelah para migran berkumpul sejak malam sebelumnya di sekitar kawasan perbatasan. Otoritas Spanyol langsung memperkuat pengamanan dengan mengirimkan tambahan personel militer dan polisi ke wilayah seluas 18,5 kilometer persegi tersebut.
Televisi pemerintah Spanyol TVE melaporkan bahwa sekitar 2.000 hingga 3.000 migran berhasil memasuki wilayah Ceuta pada hari Kamis. Mayoritas dari kelompok yang berhasil menyeberang itu dilaporkan melintasi perbatasan sebelum tengah hari.
Arus migrasi massal ini juga dikonfirmasi telah memakan korban jiwa, di mana otoritas setempat menemukan sembilan jenazah di wilayah tersebut. Kelompok migran yang terdiri dari perempuan, anak-anak, warga Maroko, hingga warga Sub-Sahara Afrika ini terus menyusuri garis pantai dan sebagian mencoba berenang karena pintu perbatasan ditutup rapat.
Salah seorang migran yang datang dari kota Tangier memberikan kesaksian mengenai situasi di gerbang perbatasan yang sudah tertutup.
"Saya terlambat," kata Brahim, 32 tahun, salah seorang migran.
Ia menambahkan bahwa akses menuju gerbang utama praktis sudah tidak dapat dilewati ketika dirinya tiba di lokasi kejadian. Pengetatan ini terjadi setelah pemerintah Maroko mengerahkan truk meriam air dan memperkuat pasukan keamanan untuk memukul mundur massa.
Bentrokan sempat pecah di sekitar lokasi perbatasan ketika aparat berusaha menghentikan pergerakan massa. Saksi Reuters di lapangan melaporkan adanya kerusakan yang jelas terlihat, termasuk bangkai satu unit bus dan tujuh kendaraan yang hangus terbakar.
Seorang migran lainnya yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kepanikan yang terjadi di jalur sempit sepanjang pesisir pantai akibat kepadatan massa.
"Saya takut kehilangan nyawa," ujar migran tersebut.
Ia menggambarkan kondisi sangat berbahaya ketika ribuan orang saling mendorong dan menginjak satu sama lain dalam waktu yang bersamaan. Banyak dari mereka, termasuk anak di bawah umur, memilih berjalan kaki hingga larut malam atau melewati jalur pegunungan demi menghindari pos pemeriksaan petugas.
Situasi lonjakan ini terjadi di tengah kebijakan migrasi Spanyol yang relatif terbuka di bawah pemerintahan Sosialis. Madrid belum lama ini meluncurkan program legalisasi yang memungkinkan sekitar 500.000 migran tanpa dokumen untuk memperoleh status hukum resmi, yang memicu lonjakan pengajuan hingga dua kali lipat dari target awal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow