Manulife Ungkap Mayoritas Masyarakat Ingin Mandiri Finansial Saat Pensiun
Sebanyak 93 persen masyarakat Indonesia memandang kemandirian serta kebebasan finansial sebagai warisan baru yang sangat penting bagi keluarga. Angka tersebut melampaui rata-rata kawasan Asia yang berada di level 82 persen.
Hasil temuan tersebut dilansir dari Investor Daily berdasarkan laporan Manulife Asia Care Survey 2026. Temuan ini menandai adanya pergeseran nilai dalam keluarga Indonesia terkait kesiapan menghadapi masa tua.
Masyarakat Indonesia rata-rata berencana mengalokasikan 60 persen aset finansialnya guna mendukung kemandirian pribadi, terutama kebutuhan perawatan kesehatan. Sementara itu, 40 persen sisanya dialokasikan untuk diwariskan kepada anak serta keluarga.
"Temuan Manulife Asia Care Survey 2026 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin menyadari bahwa hidup lebih lama perlu diiringi dengan persiapan yang lebih matang. Kemandirian di usia lanjut kini dipandang sebagai salah satu bentuk kepedulian terbesar yang dapat diberikan kepada keluarga," ungkap Presiden Direktur & CEO PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Lauren Sulistiawati, dalam keterangan yang diperoleh pada Senin (27/7/2026).
"Ketika seseorang mampu menjaga kesehatan dan kesiapan finansialnya, ia tidak hanya melindungi dirinya sendiri, tetapi juga membantu generasi berikutnya melangkah lebih ringan. Selama 41 tahun hadir di Indonesia, Manulife berkomitmen mendampingi masyarakat Indonesia untuk mempersiapkan masa depan yang lebih panjang dengan perlindungan dan solusi yang membantu mereka hidup lebih mandiri dan percaya diri," lanjutnya.
Survei yang melibatkan lebih dari 9.000 responden se-Asia dan 1.000 responden Indonesia ini mencatat bahwa kebebasan usia lanjut tidak sekadar keamanan finansial. Sebanyak 65 persen responden memaknai kebebasan tersebut sebagai kemampuan untuk tidak membebani orang lain.
"Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin menyadari pentingnya mempersiapkan kemandirian finansial agar tidak menjadi beban generasi berikutnya. Namun, mengandalkan tabungan saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa pensiun yang kian panjang, biaya kesehatan yang terus meningkat, dan kebutuhan akan pendapatan yang berkelanjutan. Karena itu, rencana investasi yang cermat, sesuai profil risiko dan dijalankan dengan disiplin, menjadi sebuah keharusan," tutur CEO & Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Afifa dalam keterangannya.
Masyarakat Indonesia memperkirakan bakal menjalani sekitar 13 hingga 14 tahun masa tua dengan bantuan perawatan kesehatan atau finansial. Sekitar 6 dari 10 responden merasa cemas terhadap kemampuan membiayai perawatan kesehatan di masa mendatang.
Sebanyak 71 persen responden menempatkan kesehatan dan kualitas hidup sebagai prioritas utama. Meskipun 89 persen percaya pemeriksaan rutin dapat menjaga kemandirian pensiun, nyata baru 56 persen yang rutin melakukan pemeriksaan medis tahunan.
Dari sisi finansial, 87 persen masyarakat berencana mengandalkan tabungan pribadi untuk pensiun, serta 73 persen memilih jalur investasi. Hanya sepertiga responden yang masih berharap mendapat dukungan dana dari anak saat pensiun nanti.
Tantangan semakin besar dirasakan kelompok usia 35–44 tahun serta generasi sandwich. Sebanyak 62 persen responden menanggung perawatan keluarga, sementara 68 persen memikul tanggung jawab finansial keluarga.
Lebih dari 69 persen responden yang menanggung beban finansial keluarga mengeluhkan dampak kondisi tersebut pada pencapaian kemandirian jangka panjang mereka.
"Bagi banyak keluarga Indonesia, tantangan saat ini bukan hanya mempersiapkan masa depan mereka sendiri, tetapi juga mendukung kebutuhan orang tua dan anak-anak di saat yang bersamaan. Temuan ini menunjukkan bahwa membangun kemandirian menjadi semakin penting, sekaligus semakin menantang. Karena itu, perencanaan perawatan kesehatan dan finansial jangka panjang perlu dimulai sedini mungkin. Kemandirian tidak dibangun dalam semalam, melainkan melalui langkah-langkah yang konsisten, mulai dari menjaga kesehatan, memiliki perlindungan yang memadai, hingga mempersiapkan masa depan finansial dengan baik," jelas Lauren.
Komunikasi antaranggota keluarga menjadi kunci penting. Sebanyak 82 persen responden meyakini diskusi terbuka soal pensiun berdampak positif, dan 78 persen mengaku sudah memulai percakapan tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow