Laba Bersih Archi Indonesia Melonjak 132 Persen Pada Semester I 2026
PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) membukukan lonjakan laba bersih sebesar 132,81 persen secara tahunan menjadi US$ 80,25 juta pada semester I-2026. Pertumbuhan kinerja emiten tambang emas ini ditopang oleh kenaikan pendapatan dan perbaikan efisiensi operasional perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia, pendapatan konsolidasi perseroan tumbuh 67,48 persen secara tahunan dari US$ 192,43 juta menjadi US$ 322,29 juta. Kontribusi terbesar berasal dari segmen penambangan emas senilai US$ 252,70 juta serta segmen perdagangan dan pengolahan emas sebesar US$ 69,59 juta.
Kenaikan pendapatan diikuti oleh peningkatan beban pokok penjualan sebesar 53,70 persen menjadi US$ 176,28 juta. Laba kotor perseroan pun melesat 87,82 persen menjadi US$ 146,01 juta, sementara laba usaha tumbuh 97,40 persen menjadi US$ 145,96 juta. Hasil tersebut turut terdongkrak oleh lonjakan pendapatan operasi lain sebesar 209,32 persen menjadi US$ 8,29 juta dan pemangkasan beban operasi lain hingga 14,70 persen menjadi US$ 985.072.
Analisis mengenai faktor pembentuk prospek pertumbuhan perseroan disampaikan oleh pihak analis pasar modal di Jakarta.
"Efisiensi operasional, realisasi persediaan, serta ekspansi kapasitas menjadi sejumlah faktor yang membentuk prospek pertumbuhan ARCI," kata Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali.
Sebagian pertumbuhan kinerja pada enam bulan pertama tahun ini dipengaruhi oleh pemulihan penjualan persediaan emas yang sempat tertahan pada kuartal pertama. Namun, perbaikan fundamental jangka panjang dinilai tetap memiliki pijakan yang kuat.
Perseroan merencanakan penambahan kapasitas pengolahan bijih sebesar 2 juta ton per tahun pada 2027 dari kapasitas saat ini yang mencapai 4 juta ton per tahun. Ekspansi tersebut diproyeksikan menambah produksi emas 30 ribu hingga 40 ribu ons per tahun serta memungkinkan pengolahan material berkadar lebih rendah. Selain itu, porsi produksi dari proyek tambang bawah tanah Kopra yang memiliki kadar emas 3 hingga 4 gram per ton turut membantu memperbesar basis produksi.
Program eksplorasi perseroan secara konsisten mengalokasikan anggaran minimal US$ 10 juta per tahun di wilayah Marawuwung, Kopra, dan Araren. Langkah tersebut berhasil menemukan potensi mineralisasi emas dengan kadar rata-rata 5 hingga 27 gram per ton.
Dari sisi neraca per 30 Juni 2026, total aset ARCI tercatat sebesar US$ 1,07 miliar. Ekuitas perseroan menguat menjadi US$ 413,64 juta, sementara total liabilitas berada pada angka US$ 660,97 juta. Di luar lini bisnis utama, perseroan juga mengembangkan proyek pembangkit listrik panas bumi berkapasitas 40 MW untuk mendukung kebutuhan energi operasional sekaligus memberikan opsi diversifikasi pendapatan.
Di tengah potensi kenaikan kinerja, perusahaan sekuritas memberikan rekomendasi pembelian untuk saham emiten ini dengan target harga Rp 2.200 dalam periode 12 bulan. Saham ARCI tercatat bertengger di level Rp 1.390 per lembar, atau telah menguat 95,7 persen dalam kurun waktu satu tahun.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow