Konsumsi Konten dan Perkembangan Media Massa

Smallest Font
Largest Font

Penulis : *) Nugroho Agung Prasetyo / S.Sos / MSi 20 Jul 2026 | 10:46 WIB

Nugroho Agung Prasetyo, S.Sos, MS.i (Praktisi Komunikasi ISKI Pusat & Pengamat Televisi)

*) Praktisi Komunikasi ISKI Pusat/Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie dan LSPR

Setiap hari masyarakat menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengonsumsi konten dibandingkan sebelumnya. Video ditonton sejak pagi hingga malam. Podcast menemani perjalanan menuju tempat kerja. Berita dibaca melalui telepon genggam, sementara siaran langsung berbagai peristiwa dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Namun, di tengah meningkatnya konsumsi informasi dan hiburan tersebut, banyak perusahaan media justru menghadapi tekanan bisnis. Pengurangan karyawan, restrukturisasi organisasi, penggabungan ruang redaksi, hingga penutupan biro daerah menjadi fenomena yang berulang dalam beberapa tahun terakhir.

Mengapa paradoks ini terjadi? Jika masyarakat masih menonton televisi, masih mendengarkan radio, dan bahkan mengonsumsi konten lebih banyak daripada sebelumnya, mengapa bisnis media justru menghadapi tantangan?

Jawabannya bukan karena masyarakat berhenti membutuhkan media. Yang sedang berubah adalah cara masyarakat mengakses informasi, cara perusahaan membeli komunikasi, dan cara media menciptakan nilai ekonomi.

Data menunjukkan bahwa industri komunikasi sesungguhnya masih bertumbuh. Laporan PwC Global Entertainment & Media Outlook 2025–2029 memperkirakan Indonesia menjadi salah satu pasar hiburan dan media dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan laju sekitar 8,4 persen per tahun. Bahkan, pasar iklan televisi nasional diproyeksikan masih tumbuh sekitar 7,7 persen per tahun hingga 2029. Pada saat yang sama, pertumbuhan paling pesat terjadi pada iklan digital, video daring, media sosial, dan Connected TV (CTV). Artinya, kebutuhan komunikasi tidak menurun. Yang berubah adalah ke mana investasi komunikasi itu diarahkan.

Dengan kata lain, uang iklan tidak hilang. Uang itu berpindah. Perubahan tersebut berjalan seiring dengan perubahan perilaku masyarakat. Dulu, televisi dan radio menjadi pintu utama masyarakat memperoleh informasi. Kini, pintu itu bertambah banyak. Berita datang melalui media sosial, video pendek, aplikasi percakapan, podcast, mesin pencari, hingga kreator konten. Masyarakat tidak lagi bergantung pada jadwal siaran. Mereka memilih sendiri apa yang ingin ditonton, kapan, dan melalui perangkat apa.

Perubahan perilaku ini tercermin dalam Digital News Report 2025 yang diterbitkan Reuters Institute for the Study of Journalism di University of Oxford. Laporan tersebut menunjukkan bahwa media sosial kini menjadi salah satu sumber utama akses berita bagi masyarakat Indonesia yang terhubung ke internet. Platform seperti YouTube, WhatsApp, Instagram, Facebook, dan TikTok memainkan peran yang semakin besar dalam distribusi informasi. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan yang sedang terjadi bukan sekadar perpindahan platform, melainkan perubahan mendasar dalam cara masyarakat menemukan, mengonsumsi, dan membagikan informasi.

Perubahan perilaku audiens kemudian diikuti oleh perubahan perilaku pengiklan. Jika dahulu perusahaan cukup membeli slot iklan televisi atau radio untuk menjangkau khalayak, kini mereka menginginkan hasil yang lebih terukur. Mereka ingin mengetahui berapa banyak orang yang melihat iklan, bagaimana responsnya, apakah pesan dipahami, hingga apakah kampanye tersebut mendorong perubahan perilaku konsumen.

Tidak mengherankan jika PwC memperkirakan sekitar 80 persen pendapatan iklan global pada 2029 akan berasal dari platform digital, meningkat dibandingkan sekitar 72 persen pada 2024. Bagi pengiklan, komunikasi tidak lagi sekadar soal jangkauan, tetapi juga efektivitas dan akuntabilitas.

Di sinilah media penyiaran memasuki persimpangan jalan. Selama puluhan tahun, model bisnis media bertumpu pada penjualan inventori: slot iklan, durasi siaran, atau halaman media. Model tersebut berhasil ketika pilihan media masih terbatas. Kini, perusahaan memiliki banyak pilihan untuk menjangkau konsumennya. Persaingan tidak lagi terjadi antarsesama stasiun televisi atau radio, tetapi dengan seluruh ekosistem digital yang memperebutkan perhatian masyarakat setiap saat.

Fenomena ini mengingatkan pada pemikiran Theodore Levitt dalam artikel klasik Marketing Myopia. Levitt berpendapat bahwa banyak perusahaan gagal bukan karena produknya tidak lagi dibutuhkan, melainkan karena mereka keliru mendefinisikan bisnisnya sendiri.

Jika media terus mendefinisikan dirinya semata-mata sebagai perusahaan penyiaran, ruang pertumbuhannya akan semakin terbatas. Sebaliknya, jika media melihat dirinya sebagai perusahaan komunikasi yang membantu membangun hubungan antara organisasi dengan publik, peluang baru justru terbuka.

Sesungguhnya, perusahaan media memiliki modal yang sangat kuat. Mereka memiliki jurnalis yang memahami dinamika isu publik, produser yang piawai membangun narasi, studio produksi, jaringan distribusi, kemampuan memproduksi konten audio visual, serta kredibilitas yang dibangun selama bertahun-tahun. Aset-aset tersebut sulit ditiru oleh banyak pelaku digital.

Masalahnya, sebagian besar aset itu masih diarahkan untuk mendukung bisnis penyiaran, bukan dikembangkan menjadi sumber pertumbuhan baru.

Padahal kebutuhan pasar telah berubah. Dunia usaha kini membutuhkan lebih dari sekadar ruang promosi. Mereka membutuhkan strategi komunikasi, pengelolaan reputasi, hubungan media, komunikasi krisis, produksi konten digital, pengelolaan media sosial, analisis media dan percakapan publik, penyelenggaraan forum, hingga pelatihan komunikasi bagi para pemimpinnya.

Dengan kata lain, pasar tidak lagi hanya membeli media. Pasar membeli solusi komunikasi.

Karena itu, transformasi media seharusnya tidak berhenti pada digitalisasi platform. Menghadirkan siaran di YouTube, TikTok, atau layanan streaming memang penting, tetapi belum menyelesaikan persoalan model bisnis.

Yang lebih mendasar adalah mengubah cara mendefinisikan perusahaan media. Dari perusahaan penyiaran menjadi perusahaan solusi komunikasi (communication company). Penyiaran tetap menjadi fondasi, tetapi diperkuat dengan layanan produksi konten, komunikasi korporasi, hubungan media, pengelolaan isu dan krisis, media intelligence, social listening, riset audiens, penyelenggaraan forum publik, pengembangan komunitas, hingga pelatihan komunikasi. Dengan pendekatan seperti ini, sumber pendapatan menjadi lebih beragam dan tidak lagi bergantung pada penjualan slot iklan.

Transformasi tersebut tidak berarti mengaburkan batas antara bisnis dan jurnalisme. Justru sebaliknya, kredibilitas jurnalistik harus tetap menjadi fondasi utama. Independensi ruang redaksi adalah modal kepercayaan yang tidak boleh dipertaruhkan. Yang berubah adalah cara perusahaan memanfaatkan kompetensi yang dimiliki untuk menciptakan nilai tambah di luar produk jurnalistiknya, dengan tetap menjaga pemisahan yang tegas antara aktivitas editorial dan aktivitas komersial.

Peter Drucker pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar ketika menghadapi perubahan bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan tetap menggunakan cara berpikir lama. Barangkali, pesan itulah yang paling relevan bagi industri media hari ini.

Pada akhirnya, yang sedang berakhir bukanlah kebutuhan masyarakat terhadap media, melainkan sebuah model bisnis yang dibangun ketika pilihan komunikasi masih sangat terbatas. Masa depan media penyiaran tidak lagi ditentukan oleh seberapa luas jangkauan frekuensinya atau seberapa tinggi rating programnya, melainkan oleh kemampuannya membangun kepercayaan, memahami perubahan perilaku publik, dan menghadirkan solusi komunikasi yang relevan. Di era ketika perhatian menjadi sumber daya paling berharga, media yang bertahan bukanlah media yang paling besar, melainkan media yang paling mampu beradaptasi tanpa kehilangan integritasnya.

Editor: Euis Rita Hartati

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Market 37 menit yang lalu Saham-Saham Ini Naik Tajam, Ada yang Mentok ARA IHSG hari ini melesat pada sejam perdagangan. Sejumlah saham naik tajam dan masuk daftar top gainers, bahkan ada yang mentok ARA

Market 42 menit yang lalu WTJJ Resmi Bergabung dengan UN Global Compact PT WIKA Tirta Jaya Jatiluhur (WTJJ) resmi menjadi anggota United Nations Global Compact Network Indonesia (IGCN).

Business 47 menit yang lalu VinFast Lebarkan Sayap ke Molis Jenama otomotif asal Vietnam VinFast mulai merambah pasar motor listrik (Molis) di Indonesia

Market 1 jam yang lalu Siap-siap Harga Emas Terkoreksi Lagi, Ini Biang Keroknya Analis menilai harga emas masih rentan merosot, karena konflik di Timur Tengah kembali meningkatkan sentimen di pasar.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed