Naluri Manusia dan Perubahan dalam Komunikasi
Penulis : Rudolf Tjandra *) 10 Aug 2026 | 18:22 WIB
Foto ilustrasi. Warga melihat barang dagangan melalui perangkat elektronik pada aplikasi platform niaga elektronik (e-commerce) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)
JAKARTA, investor.id – Beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah kutipan dalam sebuah buku lama yang membuat saya terdiam sejenak. Buku itu menyatakan bahwa naluri manusia membutuhkan jutaan tahun untuk berkembang, dan bahwa para komunikator seharusnya tidak hanya memperhatikan apa yang berubah pada diri manusia, tetapi juga apa yang tidak berubah: dorongan kita untuk bertahan hidup, dihargai, meraih kesuksesan, mencintai, dan merawat orang-orang terdekat.
Pemikiran itu membekas bagi saya. Setelah beberapa dekade bekerja dengan konsumen dan merek, saya semakin yakin bahwa kita telah terlalu terpukau oleh “konsumen baru” dan kurang memberi perhatian pada hakikat manusia yang tetap bertahan dari generasi ke generasi.
Hal ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Kita sedang berada dalam momentum demografi yang luar biasa, ketika enam generasi dapat hidup pada saat yang sama, berbagi kota, rumah tangga, tempat kerja, dan pasar yang sama. Tapi, cara seorang remaja menemukan sebuah merek di TikTok akan sangat berbeda dengan kakek-nenek yang membeli produk rumah tangga hanya pada merek yang sudah dikenalnya. Karena itu, mudah bagi kita untuk menyimpulkan bahwa Generasi Z (Gen Z) benar-benar berbeda secara mendasar.
Tentu saja, mereka berbeda. Setiap generasi memang berbeda. Mereka mewarisi dunia yang berbeda. Teknologi, referensi budaya, dan ekspektasi mereka dibentuk oleh pengalaman yang tak pernah dialami orang tua mereka. Cara mereka berkomunikasi dan menemukan produk dengan pun berbeda.
Namun, di sinilah perusahaan bisa terjebak secara strategis. Sebagian mengabaikan perbedaan-perbedaan ini dan terus berkomunikasi dengan konsumen seperti biasa, sama seperti sebelumnya. Sebagian lainnya bergerak ekstrem ke arah sebaliknya, merancang strategi Gen Z yang rumit seolah-olah spesies konsumen baru tiba-tiba muncul. Keduanya melewatkan peluang yang lebih besar.
Pertanyaan yang menurut saya lebih tepat bukanlah, “Bagaimana membuat merek kita relevan bagi Gen Z?” Melainkan, “Bagaimana kita tetap relevan bagi manusia, sambil memahami bahwa setiap generasi mengekspresikan sisi kemanusiaannya dengan cara berbeda?”
Paradoks Gen Z atau Paradoks Manusia?
Ambil contoh kesehatan. Baru-baru ini saya melihat penelitian tentang Generasi Z dan konsumsi gula yang menunjukkan kesenjangan menarik antara niat dan perilaku. Sebagian besar responden menyatakan sangat mementingkan kesehatan, sementara banyak di antara mereka yang telah mencoba mengurangi asupan gula atau frekuensi konsumsinya. Namun, penelitian tersebut melaporkan bahwa tidak ada satu pun yang secara rutin mengonsumsi minuman bebas gula. Rasa tetap menjadi faktor pendorong terkuat, dengan skor yang jauh lebih tinggi daripada kandungan gula.
Sekilas, hal ini tampak seperti paradoks Generasi Z. Namun, saya justru melihatnya sebagai paradoks kemanusiaan. Sebagian besar dari kita tahu perbedaan antara apa yang seharusnya kita lakukan dan apa yang ingin kita lakukan. Kita ingin lebih sering berolahraga, makan lebih sehat, menabung lebih banyak, dan hidup lebih berkelanjutan. Namun, datanglah kesenangan, kenyamanan, kebiasaan, acara sosial, dan kepuasan instan yang kerap kali menghalangi niat tersebut.
Ini bukanlah kegagalan satu generasi saja. Ini merupakan salah satu ciri tertua dari perilaku manusia.
Implikasinya bagi strategi bisnis sangat penting. Sebuah merek yang baik tidak seharusnya sekadar menyuruh orang untuk berperilaku lebih baik. Merek harus membuat perilaku yang lebih baik menjadi lebih menarik, lebih mudah dilakukan, lebih terjangkau, dan idealnya lebih menyenangkan.
Di sinilah wawasan mengenai perbedaan generasi menjadi berguna. Wawasan ini seharusnya membantu kita memahami perubahan cara manusia mengekspresikan suatu kebutuhan, bukan membuat kita beranggapan bahwa kebutuhan dasarnya telah menghilang.
Seorang konsumen Generasi Z berbicara tentang kesehatan, kebugaran, keberlanjutan, atau kesejahteraan mental; sedangkan konsumen yang lebih tua berbicara tentang vitalitas, umur panjang, atau keluarga. Bahasa, momentum, dan saluran yang digunakan berbeda-beda. Namun, di balik semua itu terdapat aspirasi yang sangat familier: Saya ingin hidup lebih baik.
Hal yang sama berlaku untuk pengakuan dan relevansi. Seorang pemuda mungkin mencari pengakuan melalui media sosial, gaya pribadi, atau identitas profesional. Seseorang yang lebih tua mungkin mencarinya melalui prestasi, keahlian, keluarga, atau kontribusi kepada lingkungan sekitar. Bentuk ekspresinya berubah sesuai konteks dan tahap kehidupan, tetapi keinginan untuk merasa berarti penting tidak pernah menjadi usang.
Inilah mengapa saya semakin yakin bahwa merek yang kuat dibangun di atas nilai-nilai manusia yang bersifat abadi, sambil tetap relevan dengan perkembangan zaman dalam cara mengekspresikannya.
Ketika Kesejahteraan Mengubah Ekspektasi Konsumen
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Survei Ipsos: Keamanan dan Kepercayaan Menjadi Penentu Pilihan Bank Digital
International 5 menit yang lalu LVMH Lepas Saham SirDavis ke Beyonce LVMH menjual kepemilikannya di SirDavis kepada Beyoncé, mengakhiri kemitraan bisnis wiski premium yang dimulai dua tahun lalu.
InveStory 18 menit yang lalu Jebakan Generasi Z: Risiko Merek Melupakan Hakikat Manusia Kanal akan berubah. Bahasa akan berkembang. Tren akan berlalu. Namun, sifat manusia, jauh lebih sulit untuk diciptakan ulang.
Market 40 menit yang lalu Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Selasa, 11 Agustus 2026 Prediksi IHSG Selasa 11 Agustus 2026 menguji level 6.300-6.450. Simak rekomendasi saham DSSA, ESSA, HRTA dan WIFI.
Market 40 menit yang lalu Prediksi Harga Emas Antam (ANTM) Selasa 11 Agustus 2026 Harga emas Antam (ANTM) diprediksi bergerak fluktuatif di sekitar level ini pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Business 55 menit yang lalu Avian Brands Perkuat Penerapan GCG PT Avia Avian Tbk (AVIA) atau Avian Brands memperkuat penerapan GCG dengan mengikuti program KPPU.
Business 59 menit yang lalu Proyek Gasifikasi Batu Bara Jadi Revenue Baru BUMI PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memperkuat strategi hilirisasi melalui pengembangan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol.
Tag Terpopuler
Terpopuler
Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 9 Agustus 2026, Cek Rinciannya Prediksi Harga Emas Antam (ANTM) Senin 10 Agustus 2026
Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Senin 10 Agustus 2026, Cek Rinciannya
Penulis : Rudolf Tjandra *) 10 Aug 2026 | 18:22 WIB
Kita hidup di dunia di mana konsumen memiliki lebih banyak pilihan daripada yang bisa dibayangkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Terlepas dari ketimpangan dan ketidakpastian ekonomi, umat manusia secara material jauh lebih sejahtera dibandingkan berabad-abad yang lalu. Semakin banyak orang yang memiliki akses ke pendidikan, informasi, produk, pengalaman, dan teknologi yang dulu hanya tersedia bagi segelintir orang.
Kesejahteraan mengubah ekspektasi. Konsumen tidak lagi hanya bertanya, “Apakah saya bisa memilikinya?” Semakin sering, mereka bertanya, “Apakah ini bagus? Apakah ini lebih baik? Apakah ini sepadan? Apakah ini membuat hidup saya lebih baik?”
Bagi merek, kondisi ini meningkatkan standar yang harus dipenuhi. Sekadar tersedia, murah, atau sedang populer tidak lagi cukup. Sebuah merek harus memperoleh kepercayaan dan menunjukkan perbedaan yang bermakna jika ingin tetap relevan dan memiliki daya tawar.
Ada alasan mengapa pepatah lama bahwa “barang bagus tidak murah” dan “barang murah tidak bagus” masih tetap relevan, meskipun kenyataannya lebih kompleks. Konsumen memahami bahwa nilai dan harga bukanlah hal yang sama. Mereka bersedia membayar lebih jika perbedaannya terasa nyata dan berarti bagi mereka.
Namun, produk premium tidak selalu tidak terjangkau.
Salah satu peluang paling menarik di pasar konsumen massal adalah apa yang saya sebut sebagai “premium terjangkau” (affordable premium): menciptakan penawaran yang secara nyata lebih unggul, tetapi tetap dapat diakses oleh segmen yang dipilih, sekaligus menjadi sesuatu yang aspiratif bagi mereka yang saat ini belum mampu membelinya. Posisinya berada di antara komoditisasi dan eksklusivitas. Di ruang inilah sebuah merek dapat memberikan kemajuan bagi konsumen sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi bisnis.
Saya percaya, di wilayah inilah persaingan untuk membangun merek generasi berikutnya di Indonesia akan ditentukan. Bukan dengan bertanya apakah kita sudah cukup “Gen Z”, melainkan dengan bertanya apakah kita sudah cukup relevan bagi kemajuan manusia.
Perusahaan terbaik akan memahami kode-kode budaya dari berbagai generasi tanpa terjebak di dalamnya. Mereka akan tahu kapan harus menggunakan televisi, TikTok, atau bahasa baru. Mereka akan memahami bahwa saluran hanyalah sarana, bukan strategi; tren hanyalah sinyal, bukan tujuan; dan sesuatu yang sedang populer memang dapat menarik perhatian, tetapi tidak dapat menggantikan nilai yang bertahan lama.
Pengalaman saya sebagai praktisi, yang diperkuat oleh studi bertahun-tahun mengenai strategi dan perilaku manusia, telah mengajarkan kepada saya bahwa konteks sangatlah penting. Namun, konteks seharusnya mempertajam pemahaman kita tentang manusia, bukan mengalihkan perhatian kita dari mereka.
Kita perlu berhenti memperlakukan setiap generasi seolah-olah mereka hidup di planet yang berbeda. Mereka hanyalah bab-bab berbeda dalam kisah manusia yang sama.
Remaja yang hari ini ingin dikagumi, suatu hari nanti akan menjadi orang tua yang ingin melindungi anak-anaknya. Profesional muda yang ambisius dan ingin sukses pada akhirnya akan menjadi eksekutif berpengalaman yang ingin tetap relevan. Sepanjang perjalanan tersebut, kosakatanya berubah, tetapi keinginan manusia untuk memaksimalkan nilai kehidupannya tetap sama.
Ujian Sesungguhnya bagi Merek
Bagi para pemimpin bisnis, hal ini menghadirkan tantangan yang lebih berat daripada merancang kampanye untuk Generasi Z. Hal ini menuntut kita untuk memahami orang-orang secara mendalam sehingga dapat melihat baik perbedaannya maupun kesinambungannya: apa yang benar-benar baru, dan apa yang sekadar ekspresi baru dari sesuatu yang sudah sangat lama ada.
Itulah, bagi saya, ujian sesungguhnya bagi sebuah merek yang bertahan dalam jangka panjang. Bukan apakah merek tersebut tetap terlihat muda, menggunakan bahasa kekinian, atau mengikuti platform populer. Ujian sebenarnya adalah apakah, dari generasi ke generasi, merek tersebut tetap mampu membantu manusia menjalani hidup sedikit lebih baik, merasa sedikit lebih baik, mencapai sedikit lebih banyak, peduli sedikit lebih dalam, dan menjadi sosok yang mereka cita-citakan.
Kanal akan berubah. Bahasa akan berkembang. Tren akan berlalu. Namun, sifat manusia, untungnya, jauh lebih sulit untuk diciptakan ulang.
Mungkin itulah pelajaran paling berguna bagi siapa pun yang berusaha membangun merek untuk masa depan: jangan mengejar generasinya, pahamilah manusia sebagai makhluk universal.
*) Eksekutif senior dengan pengalaman kepemimpinan lebih dari tiga dekade di industri kesehatan konsumen dan nutrisi Indonesia, serta akademisi-praktisi di bidang strategi dan kepemimpinan.
Survei Ipsos: Keamanan dan Kepercayaan Menjadi Penentu Pilihan Bank Digital
Business 60 menit yang lalu Proyek Gasifikasi Batu Bara Jadi Revenue Baru BUMI PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memperkuat strategi hilirisasi melalui pengembangan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol.
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow