Keluarga Sutrimo Ungkap Kejanggalan Kematian Pramuwisma Febrie Adriansyah

Smallest Font
Largest Font

Keluarga Sutrimo mencurigai kematian pramuwisma mantan Jampidsus Febrie Adriansyah yang ditemukan tewas di depan klinik kecantikan Mordent, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pihak keluarga menemukan sejumlah kejanggalan terkait barang pribadi yang belum dikembalikan serta informasi dokumen kronologi medis yang dinilai tersembunyi.

Sutrimo yang berasal dari Desa Wlahar, Wangon, Banyumas, awalnya dikabarkan meninggal akibat kadar gula darah menembus angka 600. Namun, kejanggalan mulai dirasakan keluarga setelah barang pribadi almarhum seperti telepon seluler dan dompet tak kunjung diserahkan kembali, serta nomor kontak pengantar jenazah yang mendadak tidak aktif.

Kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, mengonfirmasi status pekerjaan almarhum dengan Febrie Adriansyah. Aan menceritakan awal mula Sutrimo direkrut hingga dipercaya mengurus rumah tangga Febrie setelah sebelumnya bekerja sebagai tukang bangunan.

"Oh, betul. Kalau itu betul. Cuma tentang apakah dia karumga atau bukan, keluarga nggak ada yang tahu," kata Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Aan menjelaskan bahwa pekerjaan almarhum tidak sebatas urusan konstruksi, melainkan meliputi beragam kebutuhan harian pemilik rumah.

"Pak Sutrimo itu memang pekerjaan dulunya awalnya adalah tukang. Memang membiayai bangunan dan lain-lain. Setahu keluarga Pak Sutrimo ini ya bangun rumah Pak Febrie," kata Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Hubungan kerja yang berlangsung cukup lama tersebut membuat almarhum kerap dipercayakan berbagai urusan personal maupun pembayaran tagihan rumah tangga.

"Sehari-hari pekerjaan Pak Sutrimo itu macam-macam. Kadangkala disuruh ngerjain proyek. Kalau tidak keluar, ya Pak Sutrimo di rumah ngurusin rumah-rumahnya Pak Febrie," ungkap Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Sutrimo dinilai menjadi salah satu orang kepercayaan yang menangani perbaikan fisik hingga administratif rumah tangga tempatnya bekerja.

"Misalnya benerin apa segala macam. Termasuk disuruh bayar listrik, bayar apa. Jadi salah satu kepercayaannya beliau," kata Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Mengenai penerimaan awal jenazah di rumah duka, Aan menyebutkan bahwa pihak keluarga awalnya tidak menyimpan rasa curiga karena jenazah sudah dalam kondisi dikafani.

"Pertama memang pada saat mereka terima mayat, memang mayat sudah dikafani, sudah bersih, dan tidak ada yang mencurigakan," kata Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Jenazah almarhum langsung dimakamkan malam itu juga tanpa adanya prasangka buruk dari anggota keluarga yang berada di kampung halaman.

"Mereka datang jam 10 (malam) itu ya langsung dikubur. Tidak ada kecurigaan apa pun awalnya," ujar Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Namun, rasa curiga bertambah seiring tidak dipulangkannya barang-barang milik almarhum serta ketakutan keluarga menghadapi perkara yang melibatkan figur publik besar.

"Pihak keluarga ya di satu sisi merasa, ini ada apa sih," ucap Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Posisi dilematis dialami keluarga karena keterbatasan ekonomi serta kekhawatiran atas dampak hukum jika membawa masalah ini ke jalur resmi.

"Karena ini berkaitan dengan tokoh besar dan perkara besar yang ada di Indonesia. Mereka menyadari kalau misalnya nanti ada laporan, keluarga pasti direpotkan. Mereka ketakutan," kata Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Kecurigaan kian menguat seiring ponsel dan dompet almarhum yang tidak pernah sampai ke tangan pihak keluarga.

"Setelah kita lihat belakangan, HP enggak pulang-pulang. Dompet enggak pulang dan lain-lain. Ya mereka juga kecurigaannya bertambah," tutur Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Keterbatasan finansial dan rasa tidak berdaya menjadi kendala utama bagi keluarga almarhum dalam menelusuri kejanggalan kematian ini.

"Mereka merasa, 'saya ini siapa'. Siapa yang menjamin kalau ada masalah? Mau wara-wiri saja pasti mengeluarkan uang.

Sementara mereka itu untuk hidup saja susah. Kondisi emosional keluarga, terutama ibu Sutrimo, juga menjadi salah satu pertimbangan," ujar Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Temuan baru muncul dari formulir kronologi yang mencatat adanya busa yang keluar dari mulut dan hidung Sutrimo, dokumen yang sebelumnya tak pernah diperlihatkan kepada keluarga.

"Saya kaget, enggak ada loh. Kita enggak ada surat dari keterangan rumah sakit yang ada begitu. Kita semuanya bahwa memang ini, karena tidak lengkap. Justru tidak ada apapun gitu kan," kata Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Aan menduga pihak pengantar jenazah sengaja menutup-nutupi dokumen kronologis tersebut dari pihak keluarga saat penyerahan jenazah dilakukan.

"Dokumen itu tidak pernah disampaikan kepada keluarga. Jadi memang pengantar jenazah dengan sengaja, orang pengirim jenazah itu menyembunyikan satu formulir kronologis tadi," ujar Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Pihak kuasa hukum juga mendapati kemiripan tanda tangan pada berkas kronologi tersebut setelah disandingkan dengan dokumen lain milik keluarga.

"Kita bandingkan tanda tangan dalam formulir, Febrio (Adiono) itu kan identik dengan yang ada di kami," ungkap Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Sebelum ditemukan tewas, Sutrimo sempat diminta segera kembali ke Jakarta oleh Febrie Adriansyah sehari setelah adanya penggeledahan kediaman oleh kepolisian pada 8 Juli.

"Dia pulang pada saat sehari setelah penggeledahan. Emang disuruh pulang sama bosnya (Febrie Adriansyah) katanya," ujar Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Permintaan kembali ke Jakarta tersebut dipenuhi setelah almarhum diberi kepastian tiket dan ongkos perjalanan oleh atasannya.

"Nah dia pulang memang ditelepon sama Pak Febrie. Pengakuan dari salah satu saksi, bosnya telepon. Intinya, 'kamu pulang saja (ke Jakarta), karena aku ini lagi kalau mau cerita sama siapa' gitu.

Sutrimo menyampaikan, 'saya nggak punya uang, Bos'. Lalu dijawab tiket sudah disiapkan, uang sudah ditransfer, dan nanti kamu ditemani dua orang dari Stasiun Purwokerto," ujar Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Sutrimo tercatat kembali ke Jakarta sebelum pertengahan Juli, meski kepastian tanggalnya belum terverifikasi penuh akibat sebagian riwayat pesan yang hilang.

"Pokoknya sebelum tanggal 19, 18 atau 19, saya enggak pasti karena saya lihat WA-nya mulai 19," jelas Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Jejak komunikasi WhatsApp memperlihatkan Sutrimo masih aktif berinteraksi dengan keluarganya hingga tanggal 23 Juli dini hari.

"Pak Sutrimo ini orangnya penyayang. Selain menjaga ibunya, dia komunikasi baik dengan adiknya. Nanyain keponakannya setiap hari, minta video dan lain-lain," tutur Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Komunikasi terakhir berupa pengiriman foto makanan terjadi beberapa jam sebelum almarhum ditemukan meninggal dunia.

"Terakhir (komunikasi) itu dari tanggal 19 sampai dengan 23 Juli. Dia terakhir jam 03.18 itu ngirim foto makanan," kata Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Menu makanan yang dikirimkan dalam foto tersebut adalah hidangan ayam goreng khas Lamongan dengan piring hijau.

"Makanannya ayam goreng, ayam goreng Lamongan, piringnya hijau. Jadi ayam goreng, lalapan, kayak Lamongan gitu," jelas Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Foto terakhir yang dikirimkan Sutrimo menunjukkan dirinya sedang berada di seberang rumah utama milik Febrie Adriansyah.

"Jam 04.00 dia juga ngirim foto dia lagi duduk di seberang rumah utamanya Pak Febrie," ujar Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Pesan balasan dari pihak keluarga pada pagi harinya sempat terbaca di ponsel almarhum, namun tidak ada tanggapan balasan dari Sutrimo.

"Jam enam itu baru sadar belakangan. Saya bilang ini dibaca ya? Iya dibaca, langsung. Tapi memang, kenapa nggak balas?" kata Aan Rohaeni, Pengacara Keluarga Sutrimo.

Laporan polisi yang telah dilayangkan oleh keluarga Sutrimo kini mendorong penanganan kasus kematian ini ke tahap penyidikan oleh Polda Metro Jaya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed