Jaksa Agung Michigan Peringatkan Demokrat Terkait Pemilih Yahudi

Smallest Font
Largest Font

Jaksa Agung Michigan Dana Nessel menyampaikan peringatan keras kepada pimpinan Partai Demokrat pada Rabu untuk tidak meminimalisasi kekhawatiran pemilih Yahudi menjelang pemilu sela di Amerika Serikat.

Nessel menilai tindakan mengabaikan isu tersebut dapat membuat pemilih dari kalangan Yahudi meninggalkan partai. Peringatan ini muncul di tengah ketegangan internal Partai Demokrat terkait dukungan terhadap kandidat Senat Michigan, Abdul El-Sayed, yang memicu penolakan dari sebagian komunitas Yahudi.

Sorotan terhadap sikap pimpinan partai juga disampaikan oleh mantan pengatur kampanye Hillary Clinton, Kaivan Shroff. Ia menyebut risiko kehilangan basis pemilih utama makin nyata jika Demokrat terus memicu keresahan mengenai identitas anggotanya.

"Menurut saya, ini adalah kesalahan mendasar bagi Partai Demokrat untuk berpikir bahwa Anda bisa begitu saja mengusir orang-orang Demokrat Yahudi dan menyederhanakannya dengan mengganti mereka dengan populasi lain," kata Nessel, Jaksa Agung Michigan.

Pertumbuhan faksi sayap kiri di dalam partai dinilai turut memperlebar jarak dengan para pendukung setia dari faksi moderat. Shroff menegaskan agar pimpinan partai tidak mengorbankan koalisi yang ada demi merangkul figur-figur progresif radikal.

"Apa yang dikatakan Nessel seharusnya membuat Demokrat gugup karena ini bukanlah perdebatan mengenai Netanyahu atau bahkan kebijakan Israel. Ini tentang apakah orang-orang Demokrat Yahudi mulai merasa bahwa mereka harus menjelaskan atau membela bagian mendasar dari identitas mereka untuk tetap berada dalam posisi yang baik di partai," kata Shroff, mantan pengatur digital kampanye Hillary Clinton.

Penolakan terhadap retorika politik yang mendiskreditkan kelompok tertentu juga memicu kritik mendalam terkait batasan toleransi di dalam partai. Shroff menambahkan bahwa merampingkan koalisi demi merangkul pembuat konten kontroversial hanya akan merugikan elektabilitas kandidat partai.

"Ironisnya, Demokrat tidak mampu terus mempersempit tenda politik mereka atas nama memperluasnya ke orang-orang seperti Hasan Piker dan kemudian berakting terkejut ketika bagian-bagian dari koalisi mulai keluar," ujar Shroff.

Perdebatan ini makin mengemuka di Michigan lantaran persaingan perebutan kursi Senat yang sangat krusial bagi penguasaan parlemen. Keterlibatan figur publik yang melontarkan pernyataan bernada antisemit memicu keretakan di tingkat akar rumput.

"Tentu saja, Nessel adalah seorang Demokrat terkemuka di Michigan, negara bagian di mana sebagian besar perdebatan ini sekarang terpusat di sekitar calon Senat Abdul El-Sayed dan afiliasinya dengan streamer Hasan Piker, yang telah membuat komentar kontroversial yang dinilai banyak pihak Demokrat lainnya sebagai antisemit," tutur Shroff.

Ketegangan ini dinilai dapat memengaruhi tingkat partisipasi pemilih pada pemilu sela mendatang. Kehilangan dukungan dari pemilih loyal di negara bagian krusial dianggap sebagai ancaman nyata bagi partai.

"Ini adalah kursi Senat yang sangat penting untuk dimenangkan oleh Demokrat, dan mereka membutuhkan semua pemilih mereka dan lebih banyak lagi untuk hadir. Jadi, membuat pemilih Demokrat yang setia seperti Nessel merasa tidak nyaman adalah masalah besar dan seharusnya memicu alarm utama," kata Shroff.

Nessel membeberkan bahwa perasaan terasing di kalangan pemilih Yahudi Demokrat makin menguat sejak peristiwa serangan di Israel pada 7 Oktober 2023. Ia mengkritik ganda standar pimpinan partai dalam menanggapi keluhan diskriminasi dari berbagai kelompok minoritas.

"Ketika seorang warga Kulit Hitam mengatakan bahwa frasa yang Anda gunakan atau cara Anda membicarakan masalah ini menurut saya rasis, kami ingin Anda menghentikannya — kami menghormati hal itu," ujar Nessel.

Ia menyoroti sikap acuh tak acuh yang sering diterima oleh pemilih Yahudi saat menyuarakan keresahan mengenai ancaman prasangka keagamaan. Hal tersebut dianggap menyangkal hak kelompok korban untuk mendefinisikan bentuk diskriminasi yang mereka hadapi.

"Ini menjadi hal yang menyimpang bagi saya," ucap Nessel.

Pernyataan dari pihak luar yang mencoba mengambil alih definisi antisemitisme dinilai sangat merendahkan komunitas yang terdampak secara langsung. Nessel menegaskan ketidaksetujuannya terhadap pola komunikasi semacam itu.

"Saya mendapati orang-orang berkata, 'Anda tidak akan memberi tahu kami apa yang Anda anggap antisemit. Kami yang akan menentukan apa yang antisemit. Itu bukan hak Anda, populasi Yahudi, untuk memutuskan,'" kata Nessel.

Ia menegaskan komitmen pribadinya terhadap identitas keagamaan di atas kesetiaan pada organisasi politik mana pun. Pilihan tersebut akan diambil jika partai terus mengabaikan keselamatan dan martabat konstituennya.

"Saya mendapati hal itu sangat tidak menyenangkan dan menyinggung," lanjut Nessel.

Sikap tegas ini didasari oleh prinsip pribadi yang dipegangnya jauh sebelum menjabat di pemerintahan. Kesetiaan terhadap garis keturunan dan keyakinan dianggap bersifat absolut.

"Saya merasa itu sama sekali tidak dapat diterima," ujar Nessel.

Nessel menyatakan tidak akan ragu melepas afiliasi partainya jika dituntut untuk mengorbankan identitas dirinya demi kelangsungan politik.

"Jika itu adalah kesepakatan yang harus dibuat, dan saya sudah sangat jujur tentang hal ini, saya adalah seorang Yahudi sebelum saya menjadi jaksa agung Michigan. Saya akan tetap menjadi seorang Yahudi setelahnya," kata Nessel.

Prinsip tersebut berlaku tanpa memandang posisi politik atau jabatan publik yang sedang diembannya saat ini.

"Saya adalah seorang Yahudi sebelum saya menjadi anggota Partai Demokrat, dan jika harus, saya akan tetap menjadi seorang Yahudi setelahnya juga," tutur Nessel.

Kritik juga diarahkan pada respons calon Senat Abdul El-Sayed terkait insiden percobaan serangan terhadap rumah ibadah di West Bloomfield awal tahun ini. Pernyataan El-Sayed dinilai minim empati terhadap ancaman keselamatan warga.

"Banyak dari kami mengartikan hal itu sebagai semacam memberi alasan bagi seseorang yang berusaha membunuh lebih dari 100 anak usia pra-TK, dan mentalitas seperti itulah yang sangat mengganggu saya," ucap Nessel.

Meski El-Sayed telah mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh komunitas, penolakannya untuk menarik pernyataan masa lalu tetap memicu kekhawatiran di kalangan pemilih.

Sementara itu, streamer Hasan Piker sempat memicu kecaman luas akibat pernyataannya mengenai potensi tindakan kekerasan terhadap warga Yahudi di Amerika Serikat.

"Jika orang-orang Yahudi di Amerika terus melontarkan gagasan bahwa mereka hanya berinvestasi di Israel, pada akhirnya seseorang akan datang dan mengambil tindakan, bukan terhadap negara Israel, tetapi terhadap orang Yahudi Amerika," kata Piker dalam siaran langsungnya.

Pernyataan Piker tersebut langsung direspons secara tegas oleh Senator AS asal Michigan, Elissa Slotkin, melalui unggahan di media sosial.

"Ini seharusnya tidak sulit: tidak ada komunitas yang boleh menghadapi ancaman kekerasan karena pandangan politik mereka. Titik," tulis Slotkin.

Slotkin menegaskan bahwa perlindungan terhadap warga negara harus berlaku mutlak tanpa memandang perbedaan orientasi politik maupun isu yang dibela.

"Itu berlaku jika Anda pro-Israel, pro-Palestina, pro-choice, pro-life, atau tujuan lain apa pun yang Anda pedulikan. Dan menyalahkan korban kekerasan atas nasib yang menimpa mereka hanya akan makin membahayakan orang-orang," tulis Slotkin.

Di sisi lain, laporan Jewish Insider menyebutkan Nessel sempat menyampaikan pandangan kontroversial saat menghadiri acara Michigan Democratic Jewish Caucus pada Minggu, 31 Agustus 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak pemilih untuk mempertimbangkan kepentingan global di atas keselamatan pribadi.

"Kita memiliki kewajiban moral untuk menempatkan kebutuhan dunia di atas kepentingan diri kita sendiri dan, ya, bahkan kelangsungan hidup kita sendiri," ujar Nessel.

Pandangan tersebut disampaikan di tengah retorika politik Nessel yang membandingkan tantangan keselamatan komunitas dengan isu lingkungan hidup.

"Apa gunanya mempertahankan tanah air bersejarah leluhur kita dan menuntut agar para kandidat mengakui haknya untuk berdiri," kata Nessel.

Ia mengaitkan keberlangsungan klaim politik dan sejarah dengan ancaman krisis ekologis global yang dihadapi bumi saat ini.

"Jika planet tempatnya berada tidak lagi dapat dihuni?" tutur Nessel.

Pernyataan tersebut memicu perdebatan luas di kalangan pengamat politik dan internal Partai Demokrat mengenai prioritas perlindungan terhadap kelompok minoritas di tengah dinamika pemilu sela 2026.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed