Investor Global Cermati Risiko Lelang Surat Utang Negara

Smallest Font
Largest Font

Daya tarik lelang Surat Utang Negara (SUN) dinilai tetap menjanjikan di tengah era suku bunga tinggi meskipun investor global masih mencermati sejumlah faktor risiko pasar keuangan domestik. Potensi ini didorong oleh imbal hasil (yield) SUN yang menarik sehingga memicu kembalinya aliran dana asing ke pasar obligasi Indonesia, seperti dilansir dari Investor Daily pada Minggu (12/7/2026). Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet memaparkan bahwa tingkat yield SUN untuk tenor 10 tahun saat ini berada pada kisaran 7,1% hingga 7,3%.

Angka tersebut menjadi salah satu imbal hasil tertinggi di antara negara berkembang di kawasan Asia sehingga memiliki daya saing kuat untuk memikat investor. "Kalau melihat kondisi pasar saat ini, yield SUN memang sudah berada pada level yang cukup menarik. Indonesia masih menawarkan salah satu imbal hasil tertinggi di antara negara berkembang di Asia, sehingga wajar kalau investor asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Meskipun demikian, situasi arus masuk modal asing saat ini dipandang belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan kepercayaan secara total terhadap pasar keuangan domestik. Masuknya dana tersebut dinilai lebih dipengaruhi oleh pemanfaatan valuasi obligasi yang menguntungkan setelah terjadinya kenaikan tingkat yield dalam beberapa bulan terakhir.

"Arus masuk yang terjadi lebih mencerminkan investor memanfaatkan valuasi yang menarik. Yield yang tinggi pada dasarnya merupakan kompensasi atas meningkatnya risiko, terutama setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia. Faktor stabilitas nilai tukar rupiah dan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) menjadi indikator utama yang terus dipantau oleh investor asing karena fluktuasi kurs dapat memengaruhi realisasi keuntungan investasi. Selain faktor eksternal tersebut, kredibilitas fiskal pemerintah terkait defisit APBN semester I-2026, perkembangan neraca perdagangan, peringkat utang, hingga peninjauan klasifikasi pasar oleh MSCI turut memengaruhi persepsi risiko investor.

"Setinggi apa pun kupon obligasi, keuntungan itu bisa hilang apabila nilai tukar terus melemah. Setelah itu, perhatian investor tertuju pada arah kebijakan The Fed karena penurunan suku bunga di Amerika Serikat biasanya mendorong arus dana kembali ke pasar negara berkembang," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia. Di sisi lain, struktur pasar obligasi Indonesia saat ini dinilai lebih kokoh karena ditopang oleh basis investor domestik seperti perbankan, perusahaan asuransi, dan dana pensiun yang menjadi penyerap utama. Porsi kepemilikan asing di pasar obligasi tercatat berada di kisaran 12,6%.

"Ini sebenarnya menjadi kekuatan karena kelompok investor tersebut memiliki kebutuhan yang berkelanjutan terhadap SBN sebagai instrumen investasi yang aman dan likuid," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia. Namun, kapasitas investor domestik dalam menyerap instrumen ini memiliki batasan tertentu karena penempatan dana juga dialokasikan ke instrumen lain seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Terkait strategi pembiayaan, langkah pemerintah melakukan percepatan penerbitan SBN pada semester I-2026 sebagai upaya front loading berkonsekuensi pada biaya penerbitan yang lebih tinggi. "Dengan target penerbitan yang masih besar pada semester II, tantangan berikutnya adalah menjaga agar tambahan pasokan SBN tetap dapat diserap pasar tanpa mendorong kenaikan yield yang terlalu tajam," ujarnya Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Mengenai preferensi pasar, investor yang bersikap defensif saat ini cenderung memilih obligasi tenor pendek untuk meminimalkan risiko di tengah era suku bunga tinggi, sedangkan investor lainnya mulai mengincar SUN tenor 10 tahun demi mengejar potensi capital gain. Bagi kelompok investor ritel, instrumen Savings Bond Ritel (SBR) dan Sukuk Tabungan (ST) bermodel kupon mengambang tetap menjadi pilihan karena memberikan perlindungan terhadap risiko kenaikan suku bunga.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed