Investor Asing Akumulasi Saham BCA Ditengah Tren Pelemahan Harga
Investor asing gencar mengumpulkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan total akumulasi net buy mencapai Rp 259,73 miliar sejak 12 Agustus 2026. Seperti dilansir dari Investor Daily, aksi beli ini berlanjut pada Selasa (18/8/2026) dengan torehan net buy Rp 45,05 miliar saat harga saham ditutup koreksi 0,79% ke level Rp 6.300.
Pergerakan saham BBCA bertahan di kisaran Rp 6.000-an sepanjang bulan terakhir. Data Stockbit Sekuritas mencatat rasio price to book value (PBV) bank swasta ini berada di level 2,87 kali, lebih rendah dibanding rata-rata tiga tahun terakhir sebesar 4,3 kali.
Melihat tingkat valuasi tersebut, Mandiri Sekuritas merekomendasikan aksi beli untuk strategi swing trade dengan titik masuk di kisaran Rp 6.450. Broker ini memproyeksikan pergerakan harga saham dapat menyentuh level Rp 7.000 dalam waktu dekat.
Di sisi lain, perolehan laba bersih BCA pada semester I-2026 tercatat mencapai Rp 29,5 triliun. Penopang utama kinerja finansial tersebut berasal dari pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan, pendapatan non-bunga, ekspansi kredit korporasi, serta kekuatan dana murah.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata memberikan analisis mengenai ketahanan kinerja keuangan emiten perbankan tersebut.
"Laba bersih BCA (BBCA) pada semester I-2026 masih resilien, dengan pertumbuhan 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau secara tahunan (year on year/yoy)," tulis Liza dalam risetnya.
Pertumbuhan kinerja bisnis perusahaan didukung oleh perolehan pre-provision operating profit (PPOP) yang mengalami kenaikan sebesar 2,5% secara tahunan.
"Pendapatan non-bunga yang lebih kuat juga membantu BBCA menahan dampak pelemahan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) dan tekanan NIM," sebut dia.
Kinerja penyaluran kredit total BCA menembus Rp 1.035,6 triliun, tumbuh 8% yoy atau 4,2% secara kuartalan. Sektor kredit korporasi menjadi pendorong utama setelah melonjak 13,6% yoy hingga mencapai Rp 513,4 triliun, sedangkan segmen pembiayaan kendaraan bermotor pada kredit konsumer masih mengalami perlambatan.
Struktur pendanaan emiten ditopang dana murah (CASA) sebesar Rp 1.082,3 triliun yang tumbuh 10,2% yoy. Adapun rasio kredit bermasalah (NPL gross) terjaga di angka 1,9% dan loan at risk (LAR) sebesar 4,9%.
Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA menggunakan kombinasi metode P/BV dan dividend discount model (DDM) dengan target harga 12 bulan di level Rp 8.075. Lembaga tersebut mencatat risiko berupa tekanan NIM yang berkepanjangan, persaingan dana, serta potensi pembengkakan biaya kredit.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow