IHSG dan Rupiah Melemah Imbas Tarif Impor AS dan Konflik Geopolitik

Smallest Font
Largest Font

Tekanan dari faktor eksternal memaksa Indeks Harga Saham Gabungan dan nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Senin, 27 Juli 2026. IHSG terkoreksi 10,63 poin atau 0,17 persen ke level 6.185,80, sementara rupiah merosot ke posisi Rp17.972 per dolar AS.

Pelemahan rupiah melanjutkan tren penurunan dari akhir pekan sebelumnya yang ditutup pada level Rp17.963 per dolar AS. Pada saat yang sama, saham emiten perbankan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turut dibuka merosot 1,01 persen ke harga Rp2.930 per lembar saham.

Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu pengetatan kebijakan perdagangan internasional oleh pemerintah Amerika Serikat yang memberlakukan tarif impor baru sebesar 10 hingga 12,5 persen bagi 60 negara mitra, termasuk Indonesia, mulai Jumat (24/7/2026).

Penguatan mata uang dolar AS turut ditopang oleh membaiknya data tenaga kerja domestik AS, yang mencatatkan penurunan klaim pengangguran awal menjadi 187 ribu. Selain isu global, pelaku pasar dalam negeri juga mencermati pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia setelah Gubernur BI Perry Warjiyo mengundurkan diri dan digantikan oleh Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengonfirmasi dampak penerapan kebijakan tarif baru tersebut terhadap pergerakan mata uang harian.

"Trump resmi memberlakukan tarif impor baru terhadap barang dari 60 mitra dagang mulai Jumat (24/7). Kebijakan tersebut menetapkan tarif sebesar 10 persen dan 12,5 persen terhadap berbagai produk impor, termasuk barang asal Indonesia," ucap Ibrahim Assuaibi, Analis Pasar Uang.

Kondisi pasar saham regional Asia juga mengalami guncangan menyusul penurunan tajam indeks Kospi Korea Selatan hingga 8 persen akibat peningkatan konflik militer antara Iran dan Israel. Situasi geopolitik tersebut meningkatkan kecemasan investor terhadap risiko arus modal keluar dari pasar berkembang.

Meskipun demikian, terdapat faktor penahan koreksi yang berasal dari penurunan harga minyak mentah dunia jenis Brent sekitar 4,5 persen ke posisi 87 dolar AS per barel, serta kepastian arah kebijakan moneter pasca penunjukan Destry Damayanti di Bank Indonesia.

Founder Republik Investor Hendra Wardana menyoroti pergerakan harga komoditas energi tersebut sebagai katalis positif yang mampu meredam volatilitas bursa domestik.

"Terdapat sentimen positif yang berpotensi membatasi tekanan di pasar saham. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya sempat mendekati level 100 dolar AS per barel kini terkoreksi sekitar 4,5 persen ke kisaran 87 dolar AS per barel," kata Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal.

Pasar keuangan global selanjutnya akan berfokus pada hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada 28–29 Juli 2026 untuk menentukan arah suku bunga acuan The Fed.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed