IHSG Melonjak 20 Persen Dekati Bull Market
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak sekitar 20 persen dari titik terendah awal Juni 2026 demi menuju zona bull market. Penguatan ini didorong oleh pemulihan pasar regional serta keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat dan prospek Indonesia.
Dilansir dari Bloomberg, sentimen pasar saham dalam negeri mulai membaik setelah sempat menjadi salah satu yang berkinerja terburuk di dunia pada tahun ini. Penurunan harga minyak dunia dan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia secara kumulatif sebesar 50 basis poin pada Juni turut menjadi faktor penstabil pasar.
Mitra di SGMC Capital Pte Ltd Singapura, Mohit Mirpuri menilai pasar saat ini mulai memperhitungkan stabilitas ekonomi dibandingkan potensi memburuknya kondisi. Kendati demikian, ia melihat bahwa posisi kepemilikan investor global di pasar modal Indonesia masih tergolong rendah.
"Menurut saya, level terendah pada 8 Juni akan tetap bertahan karena pasar kini semakin memperhitungkan stabilisasi dibandingkan memburuknya kondisi," ujar Mohit Mirpuri, partner di SGMC Capital Pte Ltd, Singapura.
Mirpuri menambahkan bahwa situasi pasar saat ini memberikan tekanan tersendiri bagi para pelaku modal asing yang menunda investasi mereka. Kondisi pemulihan yang sedang berjalan membuat keputusan untuk menunggu menjadi lebih berisiko.
"Biaya karena kesalahan akibat menunggu pemulihan, kini menjadi lebih besar dibandingkan biaya jika masuk lebih awal secara selektif," imbuh Mohit Mirpuri seperti dikutip Bloomberg.
Sejumlah pelaku pasar menyatakan bahwa reli indeks saham ini didorong oleh langkah-langkah pemerintah dalam memulihkan kepercayaan investor. Bank Indonesia secara tak terduga mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen pada Rabu serta mengumumkan insentif modal masuk, sementara pemerintah memperkuat disiplin fiskal dengan mengurangi skala program makan siang gratis.
Kebijakan tersebut berdampak positif pada penguatan mata uang rupiah lebih dari 1 persen pada Kamis dibandingkan posisi terendah sepanjang sejarah pada awal Juni. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun juga turun lebih dari 10 basis poin dari level tertinggi tiga tahun pada akhir Juni.
Meskipun IHSG mencatat kenaikan sekitar 14 persen sepanjang bulan ini dan menjadi salah satu indeks dengan kinerja terbaik di dunia, keraguan terhadap keberlanjutan pemulihan masih ada. IHSG secara akumulatif masih turun sekitar 26 persen tahun ini akibat kekhawatiran transparansi pasar dan arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto, ditambah rencana MSCI Inc. dan S&P Dow Jones Indices yang akan memutuskan penurunan status pasar menjadi frontier market pada November nanti.
Kewaspadaan manajer investasi global terlihat dari arus dana asing yang masih mencatat aksi jual bersih secara harian, mingguan, bulanan, maupun tahunan. Nilai keluar dana asing sepanjang bulan ini mencapai sekitar USD161 juta, kendati angka tersebut sudah lebih rendah dibandingkan arus keluar pada Juni lalu yang menembus USD1 miliar.
Co-Head Global Emerging Markets Equity Strategy di JPMorgan Chase & Co., Rajiv Batra menyatakan bahwa pasar saat ini belum sepenuhnya memperhitungkan langkah reformasi pemerintah demi menghindari penurunan status pasar saham oleh MSCI. Menurutnya, posisi underweight investor jangka panjang terhadap saham domestik masih sangat masif.
"Ketika investor mulai meyakini bahwa Indonesia akan tetap berada dalam indeks emerging market dan MSCI menyetujui berbagai langkah yang telah dilakukan pemerintah, arus dana asing diperkirakan akan kembali masuk ke Indonesia sehingga reli pasar saham akan menjadi jauh lebih berkelanjutan," kata Rajiv Batra, Co-Head Global Emerging Markets Equity Strategy di JPMorgan Chase & Co. dalam wawancara dengan Bloomberg TV.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow