Harga Minyak Dunia Turun Tajam di Tengah Harapan Perdamaian AS-Iran
Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam pada 24 Juli 2026, menanggapi harapan baru mengenai perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun masih mencatat kenaikan mingguan yang signifikan akibat ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah.
Harga minyak Brent turun sebesar US$ 3,91 menjadi US$ 96,78 per barel, setelah sebelumnya melewati angka US$ 100, sedangkan WTI turun US$ 2,88 ke US$ 89,31 per barel. Meskipun mengalami penurunan, Brent mencatat lonjakan hampir 10% dan WTI meningkat sekitar 8,3% selama pekan tersebut.
Penurunan harga ini ditopang oleh inisiatif China untuk memulai kembali perundingan damai antara AS dan Iran, meskipun banyak yang meragukan keberhasilan kesepakatan tersebut.
"Tak ada yang lebih disukai pasar selain harapan. Setiap sinyal bahwa konflik dapat diselesaikan langsung disambut positif oleh pelaku pasar," ujar John Kilduff dari Again Capital.
Namun, pasar energi tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan terkait meningkatnya ketegangan, termasuk serangan rudal AS-Iran serta penurunan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dan serangan oleh kelompok Houthi di Laut Merah.
Phil Flynn dari Price Futures Group mengingatkan bahwa pasar minyak sangat rentan akibat ketatnya pasokan global dan situasi dapat berubah dengan cepat.
Presiden AS Donald Trump mengancam "hukuman militer besar" terhadap Iran dan Houthi setelah serangan terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Iran juga diduga mendorong Houthi menutup jalur Bab el-Mandeb, rute penting pengiriman energi, jika serangan AS terhadap infrastruktur Iran berlanjut.
Kelompok Houthi mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi yang mengalihkan ekspor minyak melalui pipa untuk menghindari gangguan di Selat Hormuz. Namun, data pelacakan kapal menunjukkan aktivitas pelayaran membaik dengan peningkatan kapal di Bab el-Mandeb pada 23 Juli.
"Kapal-kapal masih tetap beroperasi sehingga blokade yang dikhawatirkan pasar belum terjadi secara penuh," kata Giovanni Staunovo dari UBS.
JPMorgan memperkirakan gangguan pasokan selama satu bulan dapat menaikkan harga Brent US$ 7-8 per barel, dan jika gangguan berlangsung hingga tiga bulan, harga Brent bisa mencapai US$ 114 per barel.
Risiko pasokan energi juga muncul dari Eropa, di mana Rusia menyerang pelabuhan Ukraina dan Kazakhstan menunda produksi minyak akibat penutupan terminal ekspor di Laut Hitam karena serangan drone Ukraina.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow