Harga Minyak Dunia Melonjak Hampir 8 Persen Akibat Konflik Timur Tengah

Smallest Font
Largest Font

Eskalasi konflik militer di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global. Seperti dilansir dari Investor Daily, kondisi tersebut mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga hampir 8 persen pada Rabu (29/7/2026) malam WIB.

Penguatan harga komoditas energi ini juga dipengaruhi oleh penurunan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat. Berdasarkan data Oilprice, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 6,24 atau 7,87 persen menjadi US$ 85,50 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent melonjak US$ 6,96 atau 8,28 persen ke tingkat US$ 91,05 per barel.

Ancaman terhadap jalur pelayaran vital kembali menjadi faktor sentral di balik reli harga ini. Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai intensifikasi aksi militer dan potensi gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz menjadi pemicu utama kenaikan.

"Serangan militer yang diperbarui di Timur Tengah dan pernyataan berulang dari pejabat Iran bahwa mereka ingin mengendalikan aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz di tengah penurunan aliran minyak melalui selat tersebut kembali mendorong kenaikan harga minyak," ujarnya seperti dikutip Reuters.

Aksi saling serang di kawasan meningkat setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok yang didukung Iran di Irak. Langkah tersebut diambil atas tuduhan serangan pesawat nirawak terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, selang beberapa jam usai militer AS mengklaim menggagalkan serangan Iran.

Sebaliknya, pihak Iran dilaporkan menembaki kapal-kapal di Selat Hormuz serta pangkalan militer AS di Yordania. Eskalasi makin meruncing seiring pernyataan Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan Fox News yang menjanjikan aksi balasan ke Iran.

Di samping itu, Teheran menolak usulan Oman terkait pengelolaan bersama Selat Hormuz. Penolakan ini makin memperecil peluang pengakhiran kebuntuan navigasi di kawasan Teluk.

Hingga pertengahan pekan, aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz tercatat masih sangat terbatas. Sebaliknya, pergerakan di Selat Bab el-Mandeb mencatatkan peningkatan dengan lima kapal melintas pada Rabu dan 39 kapal pada Selasa, menjadi angka tertinggi sejak 19 Juli sebelum Houthi mengumumkan blokade terhadap Arab Saudi.

Laporan Reuters juga menyebutkan kelompok Houthi mengkaji opsi penarikan biaya bagi kapal komersial yang melintas di Laut Merah bagian selatan. Di lain sisi, China menggelar dialog langsung bersama Houthi untuk memastikan keamanan jalur kapal tankernya.

Mengenai prospek pasar, Kepala Riset Energi DBS Bank Suvro Sarkar memperkirakan pergerakan harga minyak Brent masih akan tertahan di rentang tinggi.

“Kami yakin harga minyak Brent akan terus berfluktuasi di kisaran US$ 80–US$ 100 per barel dalam waktu dekat seiring dengan pasang surutnya konflik di Timur Tengah,” katanya.

Suvro Sarkar menekankan bahwa negosiasi yang berulang kali menemui jalan buntu membuat pembukaan blokade secara menyeluruh sulit terwujud.

“Serangkaian negosiasi yang tersendat-sendat ini berarti penghapusan blokade Selat Hormuz secara menyeluruh tidak tercapai, dan harga minyak bisa mencapai titik terendah yang lebih tinggi sekitar US$ 80 per barel bahkan dalam skenario de-eskalasi,” ujar Sarkar.

Kenaikan harga minyak turut mendapat sokongan dari faktor fundamental di AS. Data American Petroleum Institute (API) mencatat persediaan minyak mentah AS menyusut sekitar 3,3 juta barel pada pekan yang berakhir 24 Juli, menjelang rilis resmi Badan Informasi Energi AS.

Sementara itu, OPEC+ membuka opsi untuk menunda rencana peningkatan produksi minyak selama tiga bulan mulai Oktober mendatang setelah menyelesaikan program pengembalian kuota pasca-pemangkasan sukarela.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed