Harga Emas Dunia Turun Meski Cetak Kenaikan Bulanan Pertama

Smallest Font
Largest Font

Harga emas dunia mengalami penurunan signifikan pada sesi perdagangan Jumat (31/7/2026) menyusul penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat. Kendati tertekan, logam mulia ini berhasil membukukan kenaikan bulanan pertamanya dalam lima bulan terakhir.

Penguatan bulanan tersebut ditopang oleh data inflasi Amerika Serikat yang melemah, sehingga meredam ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed. Seperti dilansir dari Investor Daily, pergerakan ini memberi angin segar bagi pasar logam mulia.

Berdasarkan data perdagangan, harga emas spot merosot 1,44% ke level US$ 4.044,613 per ons troi, setelah sempat jatuh hingga 2% dalam sesi tersebut. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus merosot 1,49% menjadi US$ 4.098,6 per ons troi.

Secara kumulatif sepanjang bulan ini, harga emas mencatatkan penguatan sekitar 1,49%. Performa positif tersebut merupakan kenaikan bulanan terbesar bagi logam mulia sejak Februari 2026.

Selain dorongan dari data inflasi AS yang melunak, penurunan harga minyak ke level sebelum konflik Iran juga turut mengurangi tekanan inflasi global. Kombinasi faktor tersebut sempat memberi kelonggaran bagi pergerakan harga emas.

Kepala Analis Pasar Bybit Han Tan memberikan pandangannya terkait kondisi pasar terkini.

"Meski emas berpeluang mengakhiri tren penurunan selama empat bulan berturut-turut, logam mulia masih kesulitan menjauh dari level psikologis US$ 4.000 per ons troi," kata Han Tan.

Han Tan menambahkan bahwa emas masih mendapat sokongan dari ekspektasi kebijakan bank sentral.

"Emas masih memperoleh dukungan dari ekspektasi bahwa Ketua The Fed Kevin Warsh akan memperluas fokus kebijakan bank sentral, tidak hanya pada indikator inflasi utama tetapi juga mempertimbangkan faktor lain dalam menentukan arah suku bunga," ujar Han Tan.

Laporan yang dirilis pada Kamis pekan lalu memperlihatkan bahwa laju inflasi AS melambat sepanjang Juni. Namun, melandainya inflasi diperkirakan berumur pendek seiring meningkatnya kembali tensi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak.

Pada minggu ini, Kevin Warsh kembali menegaskan komitmennya untuk menekan inflasi tanpa memberikan petunjuk mengenai rencana kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Sikap ini menjadi perhatian utama para pelaku pasar finansial.

Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau stabil setelah sehari sebelumnya melonjak usai turun sekitar 2,4%, yang merupakan penurunan harian terbesarnya sejak Januari 2023. Penguatan mata uang AS membuat harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan.

Berdasarkan pantauan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada September kini berada di angka 65%. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan sepekan sebelumnya yang sempat menembus lebih dari 80%.

Tekanan harga juga terjadi pada komoditas logam mulia lainnya. Harga perak spot anjlok 2,4% menuju posisi US$ 57,59 per ons. Sementara itu, harga platinum terkoreksi 0,91% menjadi US$ 1.649,27 per ons, dan paladium melempar 2,69% ke level US$ 1.284,11 per ons. Meskipun melemah di akhir pekan, platinum dan paladium tetap berada dalam jalur untuk mengamankan kenaikan bulanan.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed