Harga Emas Dunia Anjlok Usai The Fed Berisinyal Naikkan Suku Bunga

Smallest Font
Largest Font

Harga emas spot merosot tajam hingga 3,22 persen ke level US$4.452,67 per troy ounce pada sesi perdagangan Jumat (28/8/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh penguatan dolar AS setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh memberikan sinyal potensi kenaikan suku bunga acuan.

Tekanan terhadap logam mulia terjadi usai pidato perdana Warsh dalam simposium tahunan The Fed di Jackson Hole, Wyoming. Dalam kesempatan tersebut, Warsh menegaskan komitmen penuh bank sentral AS untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen, yang dinilai masih cukup tinggi berdasarkan data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Juli sebesar 3,7 persen.

Sikap tegas The Fed memicu lonjakan ekspektasi pasar terhadap pengetatan moneter lanjutan. Berdasarkan pemantauan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga AS pada pertemuan September melonjak menjadi 58 persen dari sebelumnya 36 persen, sementara probabilitas kenaikan pada Desember mencapai 89 persen.

Menanggapi guncangan harga di pasar komoditas, Analis Independen Tai Wong memberikan pandangannya mengenai dampak langsung dari pernyataan pimpinan bank sentral AS tersebut terhadap persepsi para pelaku pasar keuangan.

"Harga emas terpukul keras karena Ketua Warsh menegaskan bahwa inflasi tidak melambat secara signifikan dan The Fed masih 'harus bekerja keras.' Meskipun mungkin sekali lagi akan 'berbicara lantang tetapi membawa tongkat pendek', hal ini akan membuat pasar menilai pertemuan September sebagai sesuatu yang tidak pasti," kata Analis Independen Tai Wong.

Pernyataan tersebut merespons langsung ketegasan pimpinan bank sentral yang mengisyaratkan bahwa instrumen suku bunga jangka pendek tetap menjadi alat utama dalam mengendalikan laju kenaikan harga-harga di tingkat konsumen.

"Kebijakan nonkonvensional untuk mendorong aktivitas ekonomi mungkin sesuai untuk menghadapi krisis yang sebenarnya, tetapi di luar itu sebaiknya digunakan secara terbatas, jika memang perlu digunakan," kata Ketua Federal Reserve Kevin Warsh.

Pernyataan itu dinilai mengonfirmasi bahwa bank sentral tidak akan ragu mengambil langkah pengetatan moneter lanjutan jika data ekonomi pendukung menunjukkan indikasi pemburukan laju inflasi harian.

"We must be confident that underlying inflation is moving to our objective, clearly and at sufficient speed. Otherwise, we have work to do," kata Ketua Federal Reserve Kevin Warsh.

Penguatan Indeks Dolar AS (DXY) ke level 99,13 serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun menjadi 4,30 persen makin menekan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil. Penjualan masif oleh penasihat perdagangan komoditas (CTA) yang mengikuti tren turut mempercepat aksi lepas aset emas di pasar global.

Ekspektasi pasar terhadap proyeksi pergerakan harga emas dalam beberapa waktu ke depan turut disampaikan oleh Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities Bart Melek yang menyoroti pergeseran fokus investor.

"Pasar menafsirkan pernyataan ini sebagai indikasi bahwa bank sentral AS lebih mungkin menaikkan suku bunga kebijakan pada September dan Desember, sebuah perubahan signifikan dibandingkan ekspektasi sebelum pidato Warsh," kata Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek.

Perubahan fokus instrumen moneter ini diprediksi membatasi ruang gerak kenaikan harga emas dalam jangka pendek, mengabaikan tren pemburukan nilai mata uang yang sebelumnya menjadi pendorong utama reli harga.

"Kenaikan suku bunga di bagian pendek kurva imbal hasil seharusnya mengimbangi setiap perbaikan kondisi keuangan yang berasal dari operasi likuiditas Departemen Keuangan di bagian panjang kurva," kata Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek.

Proyeksi pergerakan teknikal menunjukkan emas berisiko menguji batas bawah kisaran perdagangan terbaru di kisaran US$4.200 hingga US$4.700 per troy ounce pada akhir tahun. Meski demikian, sejumlah analis menilai pergerakan jangka panjang emas masih ditopang akumulasi cadangan oleh bank sentral global seperti PBOC Tiongkok serta kekhawatiran terhadap lonjakan utang pemerintah AS.

Kondisi konsolidasi pasar sebelum pidato utama pimpinan bank sentral sempat disampaikan oleh Analis Pasar Keuangan Senior Capital.com Kyle Rodda saat memantau pergerakan tipis harga emas pada perdagangan harian.

"Saya pikir pergerakan harga akhir-akhir ini cukup konstruktif dan kami tidak melihat banyak pergerakan karena kami menunggu pidato Warsh di Jackson Hole," kata Analis Pasar Keuangan Senior Capital.com Kyle Rodda.

Meski mengalami tekanan teknikal jangka pendek, potensi pemulihan harga emas diperkirakan tetap terbuka seiring dinamika kebijakan moneter global menjelang penutupan tahun.

"Sangat mungkin kita akan melihat emas kembali mencapai 5.000 dollar AS, setidaknya pada akhir tahun. Namun, sekali lagi, semuanya bergantung pada perubahan bahasa The Fed dan apa yang mereka lakukan terhadap kebijakan," kata Analis Pasar Keuangan Senior Capital.com Kyle Rodda.

Langkah kebijakan suku bunga The Fed berikutnya akan ditentukan dalam pertemuan penetapan kebijakan moneter Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada 15-16 September 2026.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed