Harga Kontrak CPO Melonjak Akibat Kenaikan Ekspor dan Sentimen B50
Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) melonjak signifikan pada Senin (13/7/2026) setelah sebelumnya mengalami tekanan tajam dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Dilansir dari Investor Daily, lonjakan ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar ringgit, penguatan harga minyak nabati di bursa Dalian dan Chicago, serta kenaikan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Data penutupan BMD pada Senin (13/7/2026) mencatat kenaikan bervariasi pada seluruh kontrak berjangka, di mana kontrak Juli 2026 menguat 17 Ringgit Malaysia menjadi 4.472 Ringgit Malaysia per ton, sedangkan kontrak Desember 2026 naik 21 Ringgit Malaysia hingga menyentuh 4.633 Ringgit Malaysia per ton.
Peningkatan harga ini juga didukung oleh kinerja positif ekspor Malaysia, dengan data perusahaan survei kargo menunjukkan pengiriman CPO periode 1-10 Juli tumbuh sekitar 1,6% hingga 5,1% dibandingkan periode yang sama pada Juni.
Selain itu, prospek permintaan CPO kian solid seiring rencana pemerintah Indonesia meningkatkan mandatori biodiesel dari B40 ke B50, yang diperkirakan mendongkrak konsumsi domestik menjadi 16,3 juta hingga 17 juta ton tahun ini. Namun, kenaikan harga CPO masih tertahan oleh melimpahnya pasokan di Malaysia setelah Malaysian Palm Oil Board (MPOB) melaporkan stok Juni naik 4,8% dan produksi tumbuh 8,1% akibat musim panen.
Tekanan tambahan juga datang dari penurunan impor India ke level terendah dalam 14 bulan terakhir pada Juni akibat menyusutnya selisih harga CPO dengan minyak nabati pesaing.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow