Harga Batu Bara Dunia Kembali Turun Akibat Penurunan Impor China

Smallest Font
Largest Font

Penurunan harga batu bara global kembali berlanjut pada perdagangan Jumat (14/8/2026). Dilansir dari Investor Daily, koreksi harga ini dipicu oleh tanda-tanda penurunan kebutuhan impor batu bara termal oleh China, meskipun pembangkit listrik berbasis batu bara masih menjadi penopang utama listrik di negara tersebut.

Berdasarkan data perdagangan, kontrak batu bara Newcastle untuk Agustus 2026 tercatat turun US$ 0,15 menjadi US$ 129,25 per ton. Sementara itu, kontrak September 2026 melemah US$ 0,3 ke posisi US$ 133,6 per ton, dan kontrak Oktober 2026 menyusut US$ 0,3 ke tingkat US$ 136,1 per ton.

Tren penurunan juga melanda batu bara Rotterdam. Kontrak Agustus 2026 mengalami penurunan US$ 0,1 ke level US$ 121,9 per ton. Penurunan lebih tajam terjadi pada kontrak September 2026 yang anjlok US$ 0,85 menjadi US$ 120,95 per ton, sedangkan kontrak Oktober 2026 terkikis US$ 0,55 menuju US$ 123,6 per ton.

Kebutuhan impor batu bara termal China memasuki paruh kedua 2026 dengan tren yang lebih rendah. Menurut data pelayaran yang dikutip dari Hellenic Shipping News, pengiriman batu bara termal jalur laut ke China sepanjang Januari-Mei 2026 mengalami penurunan 13,5% secara tahunan menjadi 109 juta ton.

Meskipun data awal Juni dan Juli memperkecil penurunan kumulatif selama tujuh bulan menjadi 4,8%, angka ini masih dapat mengalami penyesuaian seiring pencocokan data muatan kapal yang terlambat. Kondisi ini mengindikasikan bahwa China mulai mengurangi ketergantungan pada pasokan impor, meski konsumsi domestik untuk pembangkit listrik tetap tergolong besar.

Batu bara menyumbang 49,7% dari total pembangkitan listrik di China pada paruh pertama 2026. Capaian tersebut menjadi momen pertama kalinya porsi batu bara berada di bawah kisaran 50% dalam catatan data resmi setempat.

Pada rentang waktu yang sama, kontribusi energi terbarukan dalam pembangkitan listrik China berhasil mencapai 41,2%. Kendati demikian, secara keseluruhan konsumsi listrik China masih mengalami peningkatan, seperti pada Mei yang bertambah 56,0 terawatt-jam (TWh) dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya.

Dari total tambahan konsumsi listrik tersebut, sekitar 45,2 TWh berhasil dipasok oleh pembangkit berbasis energi terbarukan seperti angin, surya, hidro, hingga nuklir. Alhasil, pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dan gas hanya perlu memenuhi sekitar 10,9 TWh dari porsi tambahan kebutuhan listrik tersebut.

Kenaikan kontribusi energi terbarukan ini mulai menahan laju kebutuhan pasokan tambahan dari pembangkit listrik berbasis batu bara.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed