Harga Barang di Mal Diprediksi Naik Signifikan pada Kuartal IV 2026
Lonjakan harga barang di pusat perbelanjaan atau mal diproyeksikan bakal terjadi menjelang akhir tahun atau kuartal IV-2026. Seperti dilansir dari Detik Finance, tekanan inflasi ini didorong oleh gejolak kurs, biaya logistik, hingga biaya energi.
Para pelaku usaha ritel saat ini tengah menyiapkan pasokan barang baru untuk periode semester II 2026. Produk yang disiapkan untuk sisa akhir tahun tersebut diproduksi dengan biaya yang jauh lebih tinggi akibat kenaikan harga bahan baku sebelumnya.
"Sekarang ini di triwulan II, triwulan III, relatif harga masih naik harga tapi belum signifikan. Karena itu adalah barang-barang produk hasil stok yang lama. Tapi nanti di triwulan IV hampir pasti harga akan naik. Jadi saya kira itu yang harus diantisipasi," kata Alphonzus.
Kondisi operasional saat ini dinilai penuh tantangan karena bertepatan dengan masa sepi pengunjung atau low season. Pengaruh dari ketidakpastian situasi global juga mulai memberikan dampak langsung pada sektor ini.
"Ditambah lagi situasi di dalam kondisi dalam negeri juga saya kira penuh dengan tantangan. Biaya logistik naik, biaya energi naik, nilai tukar rupiah naik, kemudian tingkat suku bunga pinjaman juga naik," tambah Alphonzus.
Kenaikan harga ini dipastikan bakal menyasar hampir seluruh kategori produk yang dijual di mal. Beban operasional para pengelola juga sempat bertambah akibat gangguan pemadaman listrik bergilir yang terjadi beberapa waktu lalu.
Peningkatan harga barang tersebut diproyeksikan bakal menekan daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok kelas menengah ke bawah. Kondisi konsumsi masyarakat dinilai belum pulih sepenuhnya ke tingkat yang normal.
"Kalau harga naik yang terdampak itu adalah kelas menengah bawah. Karena memang daya beli sekarang kan masih belum pulih normal. Jadi itu yang harus diantisipasi saya kira di triwulan," jelasnya.
Sektor industri mengharapkan adanya dukungan dari pemerintah untuk menjaga stabilitas domestik tetap kondusif. Pelaku usaha berharap tidak ada lagi kendala teknis yang memperberat situasi, seperti ketidakpastian pasokan listrik.
"Ya saya kira pemerintah harus berusaha semaksimal mungkin untuk membuat kondisi di dalam negeri lebih kondusif. Misalkan tingkat suku bunga pinjaman. Kemudian juga nilai tukar mata uang asing. Kalau yang di kelas menengah bawah, memang mereka tidak terdampak langsung dengan contoh misalkan isu nilai tukar," imbuh ia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow