Gelombang Panas Ekstrem Landa Jepang Suhu Tembus 411 Derajat Celsius

Smallest Font
Largest Font

Gelombang panas ekstrem menerjang berbagai wilayah di Jepang hingga memicu lonjakan kasus serangan panas serta merenggut sedikitnya 14 korban jiwa dalam sepekan terakhir. Suhu udara bahkan mencatatkan rekor tertinggi mencapai 41,1 derajat Celsius di Kota Hamamatsu, Prefektur Shizuoka.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) melaporkan berakhirnya musim hujan lebih lambat dari tahun sebelumnya, yang memicu lonjakan suhu ekstrem secara mendadak di lebih dari 250 titik pengamatan. Kondisi ini membuat pemerintah Jepang memperkenalkan istilah meteorologi baru bernama kokushobi untuk menggambarkan hari yang sangat panas dengan suhu mencapai 40 derajat Celsius atau lebih.

Dampak cuaca ekstrem ini dirasakan langsung oleh masyarakat sipil maupun turis mancanegara yang berada di area publik.

"Kami telah merencanakan perjalanan untuk memastikan bisa menghabiskan waktu di metro untuk mendinginkan diri, mencari toko-toko kecil yang ber-AC, melakukan segala yang kami bisa untuk tetap sejuk," kata Nick Estes, seorang turis asal Amerika Serikat.

Kondisi iklim yang membahayakan ini menuntut kebiasaan adaptasi ekstra bagi para pelancong yang membawa anggota keluarga.

"Terutama untuk anak-anak kecil, ini benar-benar berat. Musim panas lalu saya ke sini, tapi entah kenapa tahun meksipun terasa jauh lebih panas," kata Estes.

Di Tokyo saja, Departemen Pemadam Kebakaran mencatat 453 orang dilarikan ke rumah sakit dalam satu hari pada Rabu (22/7/2026), menjadi angka tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2010. Panggilan darurat darurat juga melonjak ke level tertinggi sejak 1963.

Otoritas keselamatan publik mengimbau masyarakat untuk segera mengambil tindakan pencegahan demi menghindari risiko fatal akibat cuaca panas.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap terhidrasi dan menggunakan pendingin udara," kata juru bicara pemadam kebakaran kepada Channel News Asia.

Secara nasional, Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang melaporkan lebih dari 11.000 orang membutuhkan perawatan medis darurat dalam kurun waktu sepekan. Lembaga tersebut menilai fenomena ini telah bergeser dari sekadar cuaca panas biasa menjadi situasi darurat keselamatan.

Penilaian atas kondisi darurat nasional ini disampaikan secara resmi oleh otoritas terkait.

"Tidak berlebihan untuk menyebut gelombang panas ekstrem ini sebagai 'bencana' dengan banyak orang dilarikan ke rumah sakit atau bahkan meninggal akibat heat stroke," tegas Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang.

Pemerintah setempat mengimbau warga dan wisatawan untuk terus memantau peringatan cuaca dari JMA, rutin mengonsumsi air tanpa menunggu haus, memakai pakaian longgar, serta menggunakan pelindung seperti payung atau topi saat beraktivitas di luar ruangan.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed