Gelombang Merger Kampus di Inggris Menguat Dipicu Krisis Keuangan

Smallest Font
Largest Font

Sejumlah universitas di Inggris marak melakukan penggabungan institusi atau merger guna memulihkan kondisi finansial dan memperluas skala riset internasional, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Tren ini dipicu oleh ancaman defisit hingga risiko kebangkrutan yang membayangi puluhan perguruan tinggi di negara tersebut.

City, University of London dan St George's, University of London memelopori langkah ini dengan merampungkan merger pada 1 Agustus 2024 menjadi City St George's, University of London.

"Penggabungan secara sukarela ini telah menjadikan kami salah satu tujuan pendidikan tinggi terbesar bagi para mahasiswa di London, serta sebuah institusi multi-fakultas yang tangguh dengan fokus khas pada pendidikan profesional dan penelitian yang berada di garis depan praktik," demikian alasan merger yang ditulis di situs kampus.

Langkah serupa diambil Kent University dan Greenwich University yang mengumumkan rencana penggabungan pada akhir 2025. Entitas baru bernama London and South East University Group (LASEUG/LASE) ini dijadwalkan meluncur pada 7 September 2026 dan menjadi universitas terbesar ketiga di Inggris dengan daya tampung lebih dari 50.000 mahasiswa di empat kampus.

Selain itu, King's College London dan Cranfield University menyepakati keputusan merger pada Mei 2026. Penggabungan yang ditargetkan rampung pada akhir musim panas 2027 tersebut akan menambah 5.000 mahasiswa pascasarjana ke King's College London, memosisikannya sebagai universitas terbesar kedua di Inggris dengan total 47.000 mahasiswa.

Tekanan finansial pada sektor ini dikonfirmasi oleh Office for Students (OfS) yang memperingatkan bahwa 24 institusi pendidikan tinggi berisiko bangkrut dalam kurun waktu 12 bulan sejak November 2025. Regulator pendidikan tersebut juga mencatat sebanyak 45 persen institusi berpotensi mengalami defisit pada tahun akademik 2025–2026.

Kondisi ini diperkuat oleh laporan Komite Khusus Bidang Pendidikan Parlemen Inggris pada Mei 2026 yang mengonfirmasi adanya krisis keuangan nyata di sektor perguruan tinggi. Banyak universitas terpaksa memangkas karyawan, menjual aset properti, hingga menutup program studi.

"Dampaknya akan sangat serious, tidak hanya bagi mahasiswa dan staf, tetapi juga bagi perekonomian lokal, masyarakat, dan reputasi akademis global Inggris," demikian bunyi laporan komite tersebut.

Pemerintah menyambut baik langkah konsolidasi antar-kampus ini sebagai solusi menjaga keberlangsungan lembaga pendidikan tinggi secara jangka panjang.

"Kami berkomitmen untuk menciptakan masa depan yang aman bagi universitas-universitas kami yang berkelas dunia agar mereka dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa, pembayar pajak, pekerja, dan perekonomian; kami juga mengharapkan universitas untuk mengambil keputusan yang tepat guna menjamin keberlangsungan jangka panjang mereka. Kami telah mengambil langkah-langkah untuk memperkuat kondisi keuangan universitas, termasuk dengan mengarahkan kembali fokus Office for Students pada pemantauan kesehatan keuangan sektor ini," demikian dikatakan Departemen Pendidikan Inggris melalui juru bicaranya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed