Ekonomi Indonesia Tumbuhan 5,29 Persen Pada Kuartal II-2026
Ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II-2026, dilansir dari Investor Daily. Hasil yang dirilis Badan Pusat Statistik ini menunjukkan penurunan angka kemiskinan dan tingkat pengangguran terbuka, meskipun kualitas penyerapan tenaga kerja formal masih disorot.
Persentase penduduk miskin per Maret 2026 turun menjadi 8,07 persen atau setara 22,93 juta orang, berkurang 920 ribu orang dibanding Maret 2025. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka berada di angka 4,65 persen pada Mei 2026.
Peneliti ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai pertumbuhan di atas 5 persen selama lima kuartal berturut-turut memperlihatkan daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
"Namun, jika ukuran yang digunakan adalah kualitas pertumbuhan, masih ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan. Fakta sebagian besar tambahan pekerjaan masih di sektor informal dan jasa berproduktivitas rendah menunjukkan pertumbuhan ekonomi nasional masih lebih kuat dari sisi kuantitas dibanding kualitas," tutur Yusuf.
Elastisitas penyerapan tenaga kerja Indonesia saat ini berada di kisaran 0,2 hingga 0,3, jauh di bawah standar negara berkembang lain yang mencapai 0,3 hingga 0,7. Hal tersebut menyebabkan perlambatan penguatan kelas menengah.
"Dengan pertumbuhan sekitar 5,3%, Indonesia seharusnya dapat menciptakan sekitar 1,5-2 juta pekerjaan baru setiap tahun apabila elastisitasnya mendekati 0,4," ungkap Yusuf.
Sektor manufaktur yang menjadi penyerap tenaga kerja formal terbesar dilaporkan hanya tumbuh 4,52 persen. Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya biaya logistik, energi, persaingan impor, serta karakter investasi berbasis sumber daya alam yang cenderung padat modal.
"Dengan demikian, APBN tidak hanya menjaga konsumsi, tetapi juga memperkuat kapasitas ekonomi dalam menciptakan pekerjaan formal dan meningkatkan produktivitas," tandas Yusuf.
Secara terpisah, pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menekankan bahwa pertumbuhan berkualitas harus diukur dari penciptaan lapangan kerja produktif dan peningkatan pendapatan pekerja.
"Jika ekonomi Indonesia telah tumbuh di atas 5% selama lima kuartal berturut-turut, mengapa memperoleh pekerjaan formal dengan upah yang layak masih terasa sulit bagi begitu banyak orang? Makanya, pertumbuhan ekonomi harus diuji melalui pertanyaan yang lebih nyata, antara lain berapa banyak pekerjaan produktif diciptakan," jelas Achmad.
Rincian pertumbuhan ekonomi mencatat capaian 5,12 persen pada triwulan II-2025, 5,04 persen pada triwulan III-2025, 5,39 persen pada triwulan IV-2025, dan 5,61 persen pada triwulan I-2026. Capaian PDB dinilai belum cukup menggambarkan perbaikan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
"Data tersebut patut diapresiasi. Akan tetapi, pertumbuhan berkualitas tidak cukup dinilai dari kemampuan mempertahankan angka PDB (produk domestik bruto) di atas 5%. Tesisnya jelas, pertumbuhan ekonomi RI saat ini belum dapat disebut sepenuhnya berkualitas," tutur Achmad.
Pemerintah diimbau untuk tidak hanya mengejar pertumbuhan melalui belanja konsumtif, melainkan mengalihkan fokus pada penguatan kapasitas produksi nasional.
"Belanja publik harus diarahkan pada kegiatan yang memperkuat kapasitas produksi, seperti infrastruktur logistik, ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, serta dukungan bagi UMKM dan industri padat karya," jelas Achmad.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow