BMKG Ungkap Puncak Musim Kemarau Agustus-September 2026 dan Hujan Masih Terjadi
Indonesia diperkirakan mencapai puncak musim kemarau pada Agustus hingga September 2026, namun hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih terjadi di sejumlah wilayah. Informasi ini disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada akhir Juli 2026.
Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan bahwa saat ini sudah lebih dari setengah wilayah Indonesia atau 54,5 persen telah memasuki musim kemarau, terutama di wilayah selatan khatulistiwa seperti Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Meski begitu, Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agita Vivi, menjelaskan bahwa hujan masih berpeluang terjadi pada pekan terakhir Juli hingga awal Agustus 2026 di sejumlah daerah seperti Aceh, Sumatera, Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sulawesi Selatan, Maluku, hingga wilayah Papua.
"Meskipun secara umum Indonesia sudah memasuki musim kemarau, peluang terjadinya hujan masih terdapat di beberapa wilayah Indonesia," ujar Vivi.
Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer seperti Madden–Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, dan Kelvin yang mendukung pembentukan awan hujan di wilayah tertentu. Sirkulasi siklonik di sekitar Samudra Pasifik juga memicu daerah konvergensi dan konfluensi massa udara di Indonesia.
Vivi menambahkan, "Oleh karena itu, meskipun kondisi kering diprakirakan masih lebih dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat tetap berpeluang terjadi, terutama di wilayah yang dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik, serta daerah konvergensi dan konfluensi."
Di samping itu, BMKG juga memperingatkan potensi angin kencang di beberapa wilayah perairan seperti Laut Andaman, Laut China Selatan, Laut Natuna, dan Samudra Hindia bagian barat daya Lampung hingga selatan Nusa Tenggara Timur. Peningkatan kecepatan angin ini dapat memicu kenaikan tinggi gelombang laut.
Dalam menghadapi musim kemarau, Ardhasena menekankan pentingnya antisipasi di sektor pertanian dengan penyesuaian musim tanam dan varietas tanaman. Selain itu, sektor sumber daya air dan energi juga harus memperhatikan informasi curah hujan untuk perencanaan penggunaan air dan antisipasi lonjakan konsumsi energi akibat cuaca panas.
"Tidak kalah penting juga sektor kesehatan. Seiring musim kemarau, cuaca panas dan berkurangnya tutupan awan dapat memicu heatstroke dan penurunan kualitas udara yang berasosiasi dengan penyakit ISPA," tambah Ardhasena.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow