BMKG Prediksi Kemarau Dominasi Indonesia Hingga Pertengahan Oktober 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi kondisi kemarau hingga pertengahan Oktober 2026 akibat fenomena El Nino yang mencapai intensitas sangat kuat. Kondisi ini memicu kekeringan serta peningkatan titik panas kebakaran hutan dan lahan di beberapa daerah.
Berdasarkan analisis Dasarian I Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Curah hujan kategori rendah tercatat mendominasi 90,79 persen wilayah, dengan 87,28 persen daerah mengalami sifat hujan di bawah normal yang dipicu fase positif Indian Ocean Dipole (IOD).
Dampak berkurangnya curah hujan ini memicu kebakaran hutan dan lahan yang terdeteksi melalui citra satelit Himawari-9 pada 19 Agustus 2026. Sebaran asap terpantau di Sumatera bagian tengah dan selatan serta Kalimantan, sebelum meluas terbawa pola angin.
BMKG mengidentifikasi empat wilayah utama yang menjadi prioritas penanganan titik panas karhutla harian. Kalimantan Barat mencatatkan jumlah titik panas terbanyak, disusul oleh Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Kalimantan Timur.
"Saat ini terkait dengan analisis titik panas untuk update 19 Agustus, ada empat provinsi yang menjadi prioritas. Yang pertama Kalimantan Barat, kebetulan jumlah hotspot-nya paling banyak ketua. Kemudian Kalimantan Tengah, selanjutnya Papua Selatan dan juga Kalimantan Timur," kata Teuku Faisal Fathani, Ketua BMKG.
Pertumbuhan awan hujan diperkirakan masih minim dalam sepuluh hari ke depan di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Maluku, hingga Papua. Kondisi kekeringan ini membuat potensi cuaca kering terus berlanjut di berbagai daerah.
"Untuk potensi pertumbuhan awan hingga sepuluh hari ke depan ini kami sampaikan bahwa diperkirakan masih minim di sebagian besar Indonesia terutama Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Maluku, dan sebagian Papua," kata Teuku Faisal Fathani.
Musim hujan diproyeksikan baru akan dimulai secara merata pada bulan Oktober. Untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang memanjang, pemerintah mengupayakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di beberapa titik strategis.
"Kalau dari prediksi BMKG Bapak Ketua mohon izin para anggota Komisi V, diperkirakan pada pertengahan Oktober musim hujan baru mulai datang Pak, pertengahan Oktober," kata Teuku Faisal Fathani.
Langkah modifikasi cuaca tersebut diarahkan untuk memicu penambahan pasokan air di daerah yang mengalami penurunan cadangan air. Pelaksanaan operasi dilakukan secara bertahap di wilayah prioritas penanganan.
"Seluruh operasi modifikasi cuaca di bulan Agustus tidak hanya untuk kebakaran hutan dan lahan di Riau juga kami sampaikan juga ada operasi yang masih berlangsung kemudian untuk Jawa Barat ini untuk pengisian waduk dan juga di IKN untuk pengisian waduk Sepaku Semoi di sana yang juga mulai mengalami kekeringan," kata Teuku Faisal Fathani.
Meski kondisi kering mendominasi, BMKG mencatat potensi hujan lokal berintensitas pendek tetap dapat terjadi di beberapa area. Sementara itu, persiapan teknis seperti perbaikan drainase dan pemangkasan tanaman rimbun di area taman tetap dianjurkan guna mengantisipasi luapan air saat hujan lokal atau perubahan cuaca mendadak terjadi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow