BGN dan Kemenkes Usut Bakteri E Coli Kasus Keracunan MBG
Temuan bakteri Escherichia coli atau E. coli teridentifikasi dalam kasus keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua dan Semarang, Jawa Tengah. Kementerian Kesehatan memberikan masukan teknis penanganan kepada Badan Gizi Nasional untuk menindaklanjuti kasus tersebut.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengonfirmasi bahwa tim Kemenkes telah turun ke lapangan dan menyelesaikan pengujian laboratorium. Bakteri E. coli terdeteksi di beberapa jenis makanan, tidak terbatas pada semangka saja.
"Begitu itu ada keracunan, tim Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah turun. Laporannya sudah ada, hasil labnya juga sudah ada, jadi memang kita identifikasi ada beberapa makanan yang ada bakteri E. coli-nya, bukan hanya semangka tapi ada beberapa makanan lain," kata Menkes Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Kemenkes telah menyampaikan sejumlah saran perbaikan operasional kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Saran tersebut berfokus pada evaluasi kendala di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yang direspons cepat oleh pihak BGN.
Kepala BGN Sudaryono menegaskan pihak pengelola tidak akan menutupi kesalahan jika investigasi menemukan adanya unsur pidana atau perbuatan sengaja. Penanganan hukum diserahkan sepenuhnya kepada kepolisian apabila ada indikasi tindak kejahatan.
"Terkait sanksi tentu saja gini, setiap kejadian itu satu, dapurnya di-suspend. Kemudian makanannya dicek, di lab oleh dinas kesehatan di bawah pengawasan dari Kementerian Kesehatan. Kemudian SPPG-nya dicopot, dan kemudian kita investigasi sebetulnya keracunannya karena apa," kata Sudaryono dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Rabu (5/8/2026).
Investigasi internal BGN menunjukkan keracunan dipicu oleh ketidakpatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP). Petugas dapur MBG tercatat mulai memasak terlalu cepat dari jadwal pendistribusian makanan.
"Nah ini kita lagi cari. Kalau memang ada unsur-unsur lain, misalnya ada unsur kesengajaan, sabotase, dan lain-lain, kami tidak segan-segan untuk kemudian diperiksa oleh pihak kepolisian. Memang kalau ada ya kita serahkan.
Bukan kemudian kita tutupi atau kemudian kita bela-bela. Orang salah kenapa dibela. Cuma kan kita mesti juga ada asas praduga tak bersalah," jelas Sudaryono.
BGN menetapkan standar zero tolerance terhadap insiden keracunan untuk menjamin keselamatan seluruh penerima manfaat program.
"Keracunan ini menjadi suatu hal yang fatal. Jadi saya treatment-nya adalah ini nyawa seseorang, ini kesehatan seseorang, ini adalah keamanan seseorang, keamanan seorang anak yang adalah anggota keluarga dari sebuah keluarga yang harus kita jamin kesehatan dan nyawanya. Jadi zero tolerance sama keracunan," paparnya.
Pemeriksaan log dapur di Papua mencatat aktivitas memasak dimulai pukul 19.00 atau 19.30 malam sebelumnya untuk disajikan pukul 11.00 WIB keesokan harinya. Pola serupa ditemukan di Semarang, tempat dapur mulai memasak pukul 21.00 WIB.
"Target saya adalah gimana caranya, apapun caranya, bagaimana caranya, itu kemudian nol. Case keracunannya," ujar Sudaryono.
Evaluasi BGN juga menemukan satu kasus keracunan yang terjadi karena makanan dibawa pulang oleh siswa dan dikonsumsi bersama anggota keluarga di rumah.
"Kalau di Papua kita lihat dari log. Log dapurnya itu kan kita ada sistem lognya, dia kapan persiapan, kapan nyacah, kapan apa, kapan dimasak itu ada. Jadi memang memulai masaknya kecepatan, kalau gak salah jam 7 atau setengah 8 hari sebelumnya untuk diberi makan di hari berikutnya di jam 11," kata Sudaryono.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, BGN akan meningkatkan edukasi keamanan pangan dan panduan konsumsi bagi siswa serta masyarakat.
"Ini kan masalah kedisiplinan. Nah ini kita lagi cari formula. Kalau memang ada unsur-unsur lain, ya misalnya ada unsur kesengajaan, sabotase, dan lain-lain, kami tidak segan-segan untuk kemudian diperiksa oleh pihak kepolisian," katanya.
Masyarakat mengimbau agar makanan program MBG segera dikonsumsi sesuai jadwal untuk mencegah berkembangnya bakteri.
"Nah ini bagian dari PR kami, bagaimana mengedukasi," ucap Sudaryono.
"Kami melihat beberapa sebab, ada yang misalnya SOP-nya dia masaknya kecepetan. Kalau di Papua, kita lihat log dapurnya, jadi memang memulai masaknya itu kecepetan. Kalau enggak salah, itu jam 7 atau setengah 8 hari sebelumnya untuk digunakan hari berikutnya jam 11. Termasuk yang di Semarang juga sama, dia masak jam 9 malam," beber dia.
BGN memastikan pengawasan ketat terhadap seluruh operasional dapur SPPG terus diperketat di berbagai daerah.
"Termasuk mohon maaf ada satu case keracunan itu karena makanannya dibawa pulang. Jadi misalnya dia sudah benar semua dapurnya, kemudian sudah diberikan ke siswanya di waktu yang juga masih sesuai. Tapi kemudian dibungkus, dibawa pulang, dan dikonsumsi bersama keluarga sehingga yang keracunan bukan hanya siswanya, tapi termasuk anggota keluarga yang mengkonsumsi makanan itu," ucap Sudaryono.
BGN dan Kemenkes terus melanjutkan investigasi menyeluruh untuk memastikan seluruh SPPG mematuhi SOP keamanan pangan secara ketat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow