Berkshire Hathaway Tumpuk Kas Rp6.350 Triliun di Tengah Pasar Spekulatif
Konglomerat investasi Berkshire Hathaway mengumpulkan cadangan likuiditas dalam bentuk dana kas dan surat utang pemerintah Amerika Serikat (Treasury bills) senilai US$ 397,4 miliar atau setara Rp 6.350 triliun. Penumpukan dana tunai terbesar dalam sejarah perusahaan tersebut terjadi di tengah lonjakan rekor indeks pasar saham yang dipicu oleh euforia kecerdasan buatan, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Senin (10/8/2026).
Nilai cadangan likuiditas raksasa tersebut bahkan melampaui total kapitalisasi pasar ExxonMobil hingga Produk Domestik Bruto (PDB) Afrika Selatan. Di bawah kepemimpinan CEO Greg Abel, Berkshire terus memangkas kepemilikan sahamnya dan mencatatkan aksi jual bersih (net seller) ekuitas selama lebih dari 14 kuartal secara beruntun. Meski belum mengalokasikannya ke saham baru, dana Treasury bills tersebut memberikan imbal hasil bunga sekitar US$ 12 miliar per tahun bagi perusahaan.
Pendiri sekaligus mantan CEO Berkshire Hathaway, Warren Buffett, menyampaikan kritik keras terkait maraknya perdagangan instrumen spekulatif jangka pendek seperti opsi harian dan pasar prediksi. Ia mengibaratkan kondisi pasar keuangan saat ini seperti tempat ibadah yang berdiri tepat di samping tempat perjudian.
"Kita tidak pernah menyaksikan masyarakat berada dalam suasana hati yang lebih suka berjudi daripada saat ini," ujar Warren Buffett, Mantan CEO Berkshire Hathaway.
Meskipun menolak memprediksi waktu pasti terjadinya koreksi harga, investor senior tersebut menegaskan bahwa tingginya angka penilaian instrumen saham saat ini berpotensi terlihat tidak rasional di masa depan.
"Gereja" mewakili investasi jangka panjang, sedangkan "kasino" adalah spekulasi jangka pendek.
Dua indikator utama penilaian pasar saham saat ini telah mengindikasikan sinyal bahaya. Indikator Buffett, yakni rasio pasar saham terhadap PDB, menyentuh level 234,3 persen per akhir Juli 2026. Angka ini berada 41,6 persen di atas rata-rata historisnya sebesar 165,5 persen, melampaui ambang batas 200 persen yang pernah diperingatkan Buffett pada 2001. Sementara itu, Rasio Shiller CAPE berada pada posisi 41,9, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 44,2 yang terjadi pada puncak gelembung dot-com tahun 1999.
Kondisi pasar modal modern dinilai berbeda dari era dot-com karena didukung oleh perusahaan teknologi raksasa yang mencetak laba bersih riil lebih dari US$ 400 miliar pada tahun fiskal terakhir. Kendati demikian, masuknya investor ritel melalui aplikasi tanpa komisi dan instrumen derivatif berisiko tinggi terus mendorong volatilitas harga melampaui nilai wajarnya. Buffett mengimbau para pemodal untuk tetap fokus pada strategi investasi nilai jangka panjang serta memangkas porsi transaksi spekulatif.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow