Pengamat Sebut Beras Fortifikasi Bukan Pemicu Kenaikan Harga Beras

Smallest Font
Largest Font

Pengamat pertanian Khudori menilai peredaran beras fortifikasi bukan pemicu utama lonjakan harga beras sepanjang 2026. Volume beras yang diperkaya vitamin dan mineral tersebut dianggap belum cukup besar untuk memengaruhi dinamika pasar secara keseluruhan, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Kamis (13/8/2026).

“Beras fortifikasi tidak signifikan dan tidak tepat dijadikan kambing hitam kenaikan harga beras saat ini,” ujar Khudori, Pengamat Pertanian.

Kenaikan harga beras di pasaran justru dipicu oleh melandainya produksi usai panen raya serta lonjakan harga gabah di tingkat petani. Harga gabah kering panen (GKP) di berbagai daerah telah melampaui Rp 8.000 per kilogram, melewati harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kilogram.

“Gabah adalah bahan baku beras. Ketika harga bahan baku naik, harga beras juga akan ikut naik,” ujar Khudori.

Memasuki musim gadu periode Juni hingga September, pasokan beras mengalami penurunan dibandingkan puncaknya pada Maret dan April. Berdasarkan data BPS, proyeksi produksi gabah kering giling (GKG) berada di kisaran 4,29 juta hingga 5,83 juta ton per bulan, jauh di bawah capaian panen raya yang menembus 8,71 juta ton.

Data BPS menunjukkan harga beras ritel konsumen pada pekan pertama Agustus 2026 menyentuh rata-rata Rp 15.545 per kilogram, atau naik 0,16% dibanding Juli. Angka ini melampaui HET beras medium sebesar Rp 13.500 per kg dan beras premium sebesar Rp 14.900 per kg di zona I, di tengah stok beras pemerintah di gudang Perum Bulog yang tercatat 5,25 juta ton per 9 Agustus 2026.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed