Belanja Sektor Kesehatan Indonesia Tembus Rp660 Triliun per Agustus 2026

Smallest Font
Largest Font

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mencatat total belanja sektor kesehatan di Indonesia menembus angka Rp660 triliun per Agustus 2026, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Rabu (5/8/2026). Angka belanja ini terbagi rata antara alat kesehatan, layanan kesehatan, serta sektor farmasi.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan sektor kesehatan nasional dapat mencapai 7 hingga 8 persen pada tahun ini, melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

"Total belanja kesehatan sekitar 660 triliun, ini masih cukup baik saya rasa untuk belanja di sektor kesehatan, dan pengamatan saya biasanya belanja alat kesehatan sepertiga dari itu. Jadi jumlahnya pelayanan kesehatan sepertiga, farmasi sepertiga, dan alat kesehatan sepertiga," kata Menteri Budi Gunadi Sadikin.

Pengeluaran khusus untuk komoditas alat kesehatan kini menyentuh angka Rp200 triliun, mencakup barang impor maupun hasil produksi dalam negeri.

"Jadi khusus alat kesehatan Indonesia, itu Rp200 triliun, baik yang impor maupun produksi dalam negeri," tambah Menkes Budi.

Sektor ini diprediksi akan terus bertumbuh seiring tingginya jumlah populasi dan prioritas pemerintah pada pemeliharaan kesehatan masyarakat.

"Saya lihat kesehatan, pertumbuhan (sektor kesehatan) selalu di atas rata-rata pertumbuhan nasional. Biasa kesehatan itu tumbuhnya 6-7%," ungkap dia.

Optimisme pertumbuhan tersebut ditopang oleh langkah Kementerian Kesehatan yang gencar menjalankan program cek kesehatan gratis (CKG) secara bertahap.

"Pertama karena memang dari sisi prioritasnya kan kesehatan tinggi. Ini urusan mati hidup. Yang kedua karena populasi kita juga banyak, sehingga pasti belanja kesehatannya lebih banyak," ujar dia.

Target program pemeriksaan kesehatan gratis dinaikkan secara signifikan guna mencakup seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

"Kementerian meminta kebijakan cek kesehatan gratis (CKG) secara masif. Tahun lalu CKG mencapai 77 juta orang, tahun ini (target) 130 juta, tahun depan mungkin 200 juta. Ini pasti butuh alat kesehatan untuk screening dan lab itu banyak sekali.

Reagen-reagen, kemudian POCT (Point of Care Testing) POCT, ya semua alat-alat buat tes darah itu pasti butuhnya banyak sekali. Itu juga merupakan opportunity buat Bapak-Ibu sekalian, jangan sampai lupa. Karena screeningnya akan kita bikin lebih masif, diharapkan 2, 3, 4 tahun ke depan 287 juta rakyat Indonesia sudah bisa mendapatkan faedah dari screening," kata Menkes Budi.

Langkah pencegahan melalui penapisan kesehatan ini diharapkan dapat meningkatkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia hingga 76 tahun pada 2029.

"Itu merupakan opportunity bagi Bapak-Ibudan bisa membantu Bapak Presiden untuk mencapai pertumbuhan di sektor kesehatan sekira 7%, 8%, yang harusnya kita bisa capai, dan bisa create tenaga kerja di seluruh Indonesia secara merata, dan yang paling penting, bisa merawat Bapak-Ibu sekalian sehingga usianya tidak ada yang di bawah 74 tahun. Karena itu adalah rata-rata usia rakyat Indonesia sekarang, dan tugas saya adalah naikin itu dari 74 ke 76 pada 2029," kata Menkes Budi.

Ajang pameran Indohealthcare Gakeslab Expo 2026 yang berlangsung pada 5–7 Agustus di JIExpo Kemayoran menghadirkan 60 perusahaan dari sembilan negara untuk mendorong ekosistem industri alat kesehatan nasional.

"IndoHealthcare Gakeslab Expo 2026 merupakan bukti nyata komitmen Krista Exhibitions Group dalam menghadirkan platform bisnis dan kolaborasi yang menyatukan seluruh pemangku kepentingan di industri alat kesehatan, mulai dari produsen, distributor, regulator, hingga penyedia layanan kesehatan. Kami berharap pameran ini dapat mempercepat transfer teknologi, memperluas jejaring bisnis, serta mendorong lahirnya inovasi yang mendukung kemandirian dan daya saing industri alat kesehatan Indonesia di pasar global," jelas Daud D Salim.

Selain menampilkan produk inovasi medis modern, kegiatan pameran ini memfasilitasi temu bisnis terarah antar pelaku industri dan jaringan ritel.

"Pameran juga menghadirkan business matching dan hosted buyers. Program ini dirancang untuk memfasilitasi pertemuan bisnis yang terarah antara produsen, distributor, dan pemilik merek dengan jaringan ritel modern, sehingga membuka peluang terciptanya kemitraan strategis, perluasan distribusi produk, serta pengembangan pasar yang berkelanjutan," tandas Daud.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed