EMC Healthcare dan Kings College London Gelar Simposium Saraf

Smallest Font
Largest Font

Dokter dan ahli neurologi dari Indonesia serta King’s College London berkumpul dalam "The 1st International King’s–EMC Neuroscience Masterclass & Symposium 2026" di Jakarta pada Selasa (25/8/2026) untuk memperkuat deteksi dini dan penanganan penyakit saraf seperti Parkinson, demensia, dan stroke, dilansir dari Investor Daily.

Penyakit neurologis dan gangguan gerak semakin menjadi perhatian serius masyarakat Indonesia seiring meningkatnya angka harapan hidup. Penanganan medis yang lebih cepat dipandang sangat krusial untuk menjaga kualitas hidup para penderita.

Forum ilmiah ini menjadi wujud kolaborasi akademik yang telah terjalin selama tiga tahun antara EMC Healthcare dan King’s College London. Kerja sama tersebut difokuskan untuk meningkatkan kompetensi dokter serta tenaga medis dalam mengatasi berbagai gangguan saraf.

CEO EMC Healthcare Jusup Halimi menjelaskan bahwa perhatian khusus terhadap Parkinson dan gangguan gerak dipicu oleh masih maraknya kasus yang terlambat terdiagnosis di lapangan.

"Parkinson dan movement disorder lainnya sering kali terlambat didiagnosis. Ketika diagnosis dilakukan terlambat, treatment-nya menjadi lebih kompleks, lebih sulit, dan tentunya meningkatkan biaya," ujar Jusup Halimi, CEO EMC Healthcare.

Faktor utama keterlambatan diagnosis ini berakar dari pandangan keliru masyarakat yang menganggap penurunan fungsi tubuh lansia sebagai proses penuaan yang lumrah.

"Padahal banyak hal seperti ini sebenarnya bisa diatasi sehingga kualitas hidup para penderitanya dapat ditingkatkan," kata Jusup Halimi, CEO EMC Healthcare.

Program pelatihan bersama King's College London rutin diikuti oleh dokter spesialis neurologi, dokter rehabilitasi medik, dan tenaga kesehatan lainnya, termasuk melalui pelatihan khusus di Dubai.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai kerja sama internasional sanggup mengakselerasi pertukaran pengetahuan medis, khususnya dalam pengembangan metode diagnostik serta terapi terbaru.

"Saya berharap bisa menstimulasi keinginan dokter-dokter di Indonesia dan peneliti Indonesia terkait penyakit neuro seperti ini untuk bisa berhubungan dengan teman-teman di luar negeri," ujar Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.

Pemerintah berharap proses transfer pengalaman ilmiah ini dapat menyejajarkan kompetensi tenaga medis domestik dengan standar pelayanan kesehatan global.

"Terpenting nantinya bisa mengakselerasi pemahaman teman-teman Indonesia terhadap penyakit ini setara dengan yang di luar negeri," kata Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.

Pemerintah terus memperluas jangkauan fasilitas medis dengan menghadirkan layanan CT scan di 514 kabupaten dan kota serta menyiapkan fasilitas cath lab guna mendukung penanganan kasus stroke berat.

Tantangan medis di sektor neurologi dinilai masih amat besar, terutama untuk penyakit kompleks seperti Alzheimer dan demensia yang masih memerlukan banyak penelusuran ilmiah.

Guna menghadapi tantangan tersebut, penyiapan teknologi diagnostik canggih, biomarker, genomik, kecerdasan buatan, hingga bioteknologi terus didorong untuk mendeteksi potensi gangguan otak sejak dini.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed