Bayan Resources Pertahankan Margin Efisiensi Biaya Produksi
PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dinilai memiliki keunggulan struktur biaya rendah yang menopang ketahanan margin usahanya. Dilansir dari Investor Daily, integrasi rantai logistik dari tambang hingga pelabuhan menjadi kunci utama efisiensi perseroan.
Analis KB Valbury Sekuritas, Adolf RB Setiadi, menjelaskan bahwa skala produksi yang besar serta operasional terintegrasi memungkinkan BYAN menekan biaya pengangkutan dan pengiriman secara signifikan.
Pada 2025, BYAN mencatatkan biaya tunai (cash cost) sebesar US$ 32,5 per metrik ton (MT). Angka ini lebih efisien dibandingkan panduan perusahaan yang dipatok pada level US$ 39,1/MT.
Pencapaian tersebut ditopang oleh rasio pengupasan tanah penutup (stripping ratio/SR) sebesar 3,9 kali. Angka ini berada di bawah target 4,5 kali dan tercatat sebagai salah satu yang terendah di industri.
Sebagai pembanding, stripping ratio PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) berada di angka 5,4 kali, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) 6 kali, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) 6,1 kali, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencapai 9,4 kali.
Keunggulan efisiensi tersebut berlanjut hingga kuartal I-2026. Meskipun volume penjualan melandai, cash cost BYAN terjaga pada level US$ 33,1/MT dari batas panduan US$ 36,8/MT.
Kinerja operasional tersebut menghasilkan margin EBITDA sebesar 33,9% dan margin laba bersih 22,9% sepanjang tahun 2025.
"Rendahnya biaya tunai menunjukkan kemampuan BYAN mengelola kegiatan produksi dan logistik secara efisien. Keunggulan ini juga memberikan ruang yang lebih besar bagi perusahaan untuk mempertahankan margin ketika harga batu bara berfluktuasi," jelas Adolf.
Memasuki kuartal I-2026, BYAN membukukan penurunan pendapatan sebesar 0,5% secara tahunan dan laba bersih yang terkoreksi 16,9% akibat berbagai hambatan industri.
Kendati demikian, emiten batu bara ini masih sanggup meraih EBITDA sebesar US$ 285,6 juta, melebihi estimasi internal awal yang sebesar US$ 247 juta.
"Capaian EBITDA yang melampaui estimasi menunjukkan bahwa efisiensi biaya dan integrasi operasional BYAN masih mampu menopang kinerja di tengah tekanan terhadap pendapatan dan laba bersih," sebut Adolf.
Di sisi kepemilikan, Low Tuck Kwong menguasai 40,2% saham produsen batu bara termal terbesar ketiga di Indonesia ini. Sementara itu, Elaine Low memegang 22% porsi saham perusahaan.
Prospek penguatan harga batu bara ke depan diperkirakan menjadi pendorong tambahan bagi kinerja operasional dan profitabilitas BYAN.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow