Bank Sentral Borong Emas 289 Ton pada Kuartal II 2026

Smallest Font
Largest Font

Aksi borong emas oleh bank-bank sentral global sebanyak 289 ton bersih pada kuartal kedua 2026 berhasil menjaga harga emas bertahan di level kritis US$ 4.000 per troy ounce, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Selasa (4/8/2026). Berdasarkan laporan Tren Permintaan Emas dari World Gold Council, volume pembelian sektor resmi tersebut melonjak tajam dibandingkan kuartal pertama 2026 yang hanya mencatatkan angka 56,5 ton. Lonjakan transaksi ini melampaui konsumsi perhiasan global yang justru merosot 17 persen secara tahunan menjadi 278 ton, sementara akumulasi emas oleh bank sentral mengalami kenaikan 62 persen dibanding periode sama tahun lalu.

Standard Chartered menilai bahwa peningkatan transaksi dua arah dari bank sentral memberikan dampak yang lebih sehat bagi pergerakan harga komoditas ini dibanding dorongan pasar ritel.

Poin pentingnya adalah pembelian oleh bank sentral kembali meningkat pada kuartal kedua tahun 2026 ke level tertinggi sejak kuartal pertama tahun 2024, kata Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas Global di Standard Chartered. Suki Cooper menambahkan bahwa lonjakan penawaran dan permintaan sektor resmi turut menjaga stabilitas pasar dalam jangka panjang.

Kami telah mencatat bahwa peningkatan arus dua arah, di mana penjualan emas oleh bank sentral dan peningkatan produksi tambang jauh lebih sehat untuk tren harga emas dalam jangka panjang daripada lonjakan permintaan ritel, ujar Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas Global di Standard Chartered. Pihak Standard Chartered juga memproyeksikan institusi keuangan negara bakal memanfaatkan pelemahan harga sebagai momentum untuk menambah cadangan emas.

Peningkatan pembelian yang dilaporkan baru-baru ini, ditambah dengan survei bank sentral baru-baru ini, menunjukkan bahwa penurunan harga kemungkinan masih akan dilihat sebagai peluang pembelian, tutur Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas Global di Standard Chartered. Ia menekankan bahwa langkah pengelola cadangan devisa berfokus pada strategi ketahanan finansial jangka panjang. Manajer cadangan terus melihat emas sebagai diversifikasi jangka panjang daripada perdagangan jangka pendek, kata Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas Global di Standard Chartered.

Meski mendapatkan dukungan kuat dari bank sentral, investasi emas diprediksi masih menghadapi tantangan dari tingginya imbal hasil riil serta pergerakan kurs dolar AS.

Fokus emas telah bergeser ke hambatan makro jangka pendek, dengan korelasi bergulir tiga bulan dengan imbal hasil riil lima tahun semakin dalam menjadi -39%, dan menjadi -47% dengan imbal hasil nominal lima tahun. Demikian pula, korelasi emas dengan USD tetap signifikan di -55%, sementara korelasinya dengan minyak berada di -29%, ujar Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas Global di Standard Chartered.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed