Bank Indonesia Pertemukan Proyek Kalimantan senilai Rp62 Triliun

Smallest Font
Largest Font

Bank Indonesia memfasilitasi 15 proyek strategis di Kalimantan senilai Rp62,13 triliun dengan 20 investor domestik maupun asing pada ajang Forum Investasi Pamor Borneo 2026. Pertemuan ini membuahkan 12 kesepakatan awal investasi pada Jumat, 7 Agustus 2026.

Forum yang berlangsung di Banjarmasin tersebut menghubungkan pemilik proyek dengan calon investor melalui sesi seminar dan pencocokan bisnis. Langkah ini dilakukan guna mengeksplorasi peluang sekaligus mengatasi hambatan yang selama ini menunda pelaksanaan proyek.

"Sebanyak 15 proyek strategis senilai Rp62,13 triliun (3,8 miliar dolar AS) dipresentasikan dalam forum tersebut," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan, Haris Munandar.

Bank Indonesia bertindak sebagai fasilitator yang menjembatani pemilik proyek dengan calon investor untuk mendukung negosiasi dan mempercepat realisasi investasi. Proyek-proyek tersebut berasal dari Kalimantan Selatan serta provinsi lain di Pulau Kalimantan.

"Sebanyak 20 investor menggelar pertemuan bisnis dengan pemilik proyek, menghasilkan 12 Surat Intent (LoI) sebagai tindak lanjut awal dari negosiasi investasi," kata Haris Munandar.

Proyek terbesar yang ditawarkan adalah pabrik pemrosesan hilirisasi batu bara menjadi methanol di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, dengan nilai kebutuhan investasi mencapai Rp46,17 triliun. Proyek besar lainnya mencakup Pembangkit Listrik Tenaga Air Kusan di Kabupaten Tanah Bumbu senilai Rp2,6 triliun dan pembangunan Pelabuhan Margasari Baru di Kabupaten Tapin senilai Rp1,69 triliun.

Selain itu, dipromosikan pula proyek industri oleokimia di Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan di Kutai Timur, Kalimantan Timur, senilai Rp8,6 triliun. Proyek Sistem Penyediaan Air Minum Sepaku Semoi di Balikpapan juga ditawarkan dengan nilai Rp2,15 triliun.

Peluang investasi lainnya meliputi proyek pengolahan sampah menjadi energi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, senilai Rp780 miliar, serta proyek budidaya udang vaname di Sukamara, Kalimantan Tengah, senilai Rp140 miliar.

"Penyelesaian hambatan investasi sangat penting untuk mempercepat implementasi proyek karena investasi menciptakan lapangan kerja, merangsang aktivitas ekonomi, memperkuat industri hilir, dan menghasilkan output bernilai tambah lebih tinggi di seluruh Kalimantan," kata Haris Munandar.

Inisiatif ini diharapkan mampu mendorong transformasi wilayah Kalimantan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi nasional yang berdaya saing dan berkelanjutan.

"Bank Indonesia berharap 12 Surat Intent yang ditandatangani pada forum ini dapat mengarah pada pelaksanaan proyek, mendukung transformasi Kalimantan menjadi pusat ekonomi yang kompetitif, terdiversifikasi, dan berkelanjutan serta menjadi salah satu pusat pertumbuhan nasional Indonesia," kata Haris Munandar.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed