Bank Indonesia Pertahankan BI Rate dan Tawarkan Insentif Modal Asing

Smallest Font
Largest Font

Bank Indonesia memilih mengoptimalkan skema insentif terarah guna memikat aliran modal asing daripada kembali menaikkan suku bunga acuan. Langkah ini diambil usai imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia berada pada level puncak sekitar 7,6 persen, sebagaimana dilaporkan Investor Daily pada Rabu (22/7/2026).

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa instrumen SRBI terus dimaksimalkan untuk menjaring investasi portofolio asing. Penetapan imbal hasilnya difokuskan agar tetap selaras dengan instrumen pasar keuangan lain seperti Surat Berharga Negara.

"Kalau kita perhatikan dalam beberapa kali lelang terakhir, suku bunganya itu atau yield-nya SRBI itu sudah relatif tidak bergerak. Jadi sudah mencapai peak-nya, sehingga kalau kita lihat SRBI yang satu tahun ini, sekarang dia berada di level 7,6% dan selalu berada di sekitar level itu," ujar Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti.

Sikap netral bank sentral ini mempertahankan BI-Rate pada kisaran 5,75 persen. Keputusan tersebut diambil setelah BI sempat menerapkan kebijakan pengetatan dengan menaikkan suku bunga acuan secara akumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei hingga Juni 2026.

"Kami tidak menaikkan suku bunga saat ini. Yang kita lakukan adalah memberikan insentif sehingga dana asing tetap tertarik masuk, baik ke SRBI maupun SBN," kata Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti.

Perluasan insentif dilakukan BI mencakup transaksi Swap Jual Lindung Nilai dengan kenaikan insentif dari 10 persen menjadi 12,5 persen. Selain itu, BI memberikan insentif transaksi Domestic Non-Deliverable Forward Jual Lindung Nilai sebesar 15 persen, serta insentif skema Local Currency Transaction dengan negara mitra.

"Yang terjadi adalah kita memberikan insentif kepada dana asing yang ini masuk ke dalam, untuk memberi apakah itu SBN ataupun SRBI, sehingga dana itu tentunya adalah dana fresh money yang masuk," tutur Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mencatat imbal hasil SRBI sebelumnya terbukti efektif mendongkrak kepemilikan investor nonresiden. Nilai kepemilikan modal asing melesat dari Rp238,09 triliun pada 15 Juni 2026 menjadi Rp288,65 triliun atau 27,11 persen dari total outstanding SRBI per 20 Juli 2026.

"Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperluas pemberian insentif untuk tetap menarik aliran masuk modal asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah," terang Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed