Banjir Bandang Nepal dan Tibet Timbulkan Korban Jiwa dan Hilang
Banjir bandang dan tanah longsor dahsyat melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, China pada Rabu (26/8/2026), memicu puluhan korban jiwa serta menyebabkan ratusan orang termasuk wisatawan mancanegara hilang akibat tersapu arus air bercampur lumpur.
Terjangan air bah yang dipicu longsoran es dan batuan dari gletser tersebut menghancurkan rumah, jalan, jembatan, hingga proyek pembangkit listrik di sepanjang alur Sungai Lhende Khola dan Bhote Koshi.
Data kepolisian Nepal mencatat sedikitnya 95 orang meninggal dunia dan ratusan warga serta aparat keamanan masih belum ditemukan. Di pihak China, laporan mencatat tiga korban tewas dan 265 orang hilang di Pelabuhan Gyirong, Wilayah Otonomi Xizang.
Pemerintah Nepal mencatat 384 wisatawan mancanegara, termasuk dari India, Amerika Serikat, Inggris, dan Malaysia, dilaporkan hilang saat melakukan perjalanan di wilayah pegunungan tersebut.
Kepanikan warga dan situasi mencekam di lokasi bencana disaksikan langsung oleh seorang pilot helikopter yang melintas di atas area terdampak.
"Sekitar lima menit sebelum mendarat, kami melihat debu membumbung tinggi dari sungai," ujar Aman Budathoki, pilot helikopter.
Budathoki menambahkan bahwa awal mula terjangan air sungai yang keruh sempat dikira aktivitas militer di kawasan pegunungan Himalaya tersebut.
"Awalnya terlihat seperti tanah longsor. Kami bahkan sempat mengira apakah tentara sedang menggunakan bahan peledak untuk pembangunan jalan," imbuhnya.
Gelombang air tinggi yang membawa material kayu dan kendaraan merusak wilayah permukiman di sepanjang aliran sungai dengan cepat.
"Kami bisa melihat gelombang air setinggi lima hingga enam meter. Kami mulai berputar-putar di atas desa-desa di sana dan melihat pohon-pohon besar serta beberapa kendaraan tersapu derasnya arus," kata dia.
Arus banjir bandang yang deras menyulitkan pemantauan skala kerusakan di lokasi kejadian.
"Situasinya sangat menakutkan. Kami bahkan sempat mencoba mengejar alur banjir tersebut sebentar untuk menilai kerusakan yang terjadi," sambungnya.
Jumlah korban jiwa di Nepal dilaporkan terus meningkat seiring upaya evakuasi yang dilakukan tim penyelamat di lapangan.
"Sejauh ini 95 kematian telah dilaporkan," kata Abi Narayan Kafle, Juru bicara kepolisian setempat.
Di area terdampak, kerusakan parah menghancurkan seluruh permukiman warga yang berada tepat di tepi aliran sungai.
"Akan ada potensi korban jiwa atau kerugian harta benda yang berat," kata Narendra Pariyar, administrator distrik.
Petugas kesehatan di Distrik Rasuwa mengonfirmasi kehancuran total di wilayah permukiman dekat sungai.
"Di mana pun kami melihat, terjadi kehancuran. Permukiman di samping sungai telah sepenuhnya tersapu. Lima kerabat saya sendiri hilang," ujar Tula Bahadur BK, pekerja kesehatan di Rasuwa.
Pemerintah Nepal langsung menginstruksikan pengerjaan evakuasi darurat bagi warga yang berada di area rawan bencana.
"Instruksi telah diberikan ... untuk memindahkan orang-orang yang tinggal di daerah yang lebih rendah ke tempat yang lebih aman. Masyarakat di sepanjang sungai diimbau untuk ekstra hati-hati dan tetap waspada," kata Balendra Shah, Perdana Menteri Nepal.
Presiden China Xi Jinping mengeluarkan instruksi tegas untuk memaksimalkan operasi pencarian dan penyelamatan korban di Pelabuhan Gyirong.
Xi Jinping menekankan pentingnya langkah evakuasi cepat, perawatan medis bagi korban luka, serta penguatan sistem peringatan dini guna mencegah bencana susulan di wilayah terdampak flood control tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow