Banjir Bandang Nepal Hancurkan Infrastruktur dan Tewaskan 1.056 Orang

Smallest Font
Largest Font

Banjir bandang yang menerjang wilayah Trishuli, Nepal, pada Rabu, 26 Agustus 2026, menewaskan 1.056 orang dan menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur, seperti jembatan dan jalan raya.

Gelombang banjir akibat runtuhnya gletser Himalaya di perbatasan Nepal-China ini membawa lumpur, batu besar, dan material lainnya sejauh 168 kilometer ke hilir, menghancurkan fasilitas publik dan rumah-rumah.

Rumah berwarna hijau di Trishuli Bazaar menjadi simbol ketahanan setelah mampu melindungi keluarga di lantai atas saat air bah menerjang. Keluarga Prakash Pandey Pyakurel selamat meski lantai dasar rumah terendam lumpur dan air bah.

"Kami sangat ketakutan. Kami bersiap diri, ini adalah akhir zaman. Saya memberi tahu semua orang bahwa kita harus mati bersama," ujar Pyakurel saat menceritakan pengalaman mencekam tersebut.

Pyakurel menuturkan bahwa mereka masih tidak percaya bisa selamat dari bencana tersebut.

Kepala Sekolah Menengah Tribhuvan Trishuli, Rajendra Dawadi, menyelamatkan sekitar 900 siswa dari banjir dalam waktu 14 menit pada saat kejadian.

"Dari sekitar 1.600 siswa yang terdaftar, sebanyak 900 siswa berada di sekolah ketika banjir datang," kata Dawadi.

Korban hilang juga sangat banyak, terutama warga asing. Kementerian Luar Negeri Nepal melaporkan sekitar 590 warga negara asing dari 39 negara masih hilang.

Lebih dari 10.000 orang berhasil diselamatkan, termasuk 323 warga asing.

Ratusan jenazah yang belum teridentifikasi dimakamkan secara massal di Distrik Chitwan dengan pendataan dan pengambilan sampel DNA untuk identifikasi lebih lanjut.

Menurut data Stimson Center, lebih dari 10 persen kapasitas pembangkit listrik Nepal lumpuh akibat bencana ini.

Keshav Prasad Baral, warga Desa Tupche yang berada sekitar 25 kilometer dari perbatasan, menggambarkan banjir sebagai semburan lumpur besar yang menghanyutkan istrinya.

Rekaman CCTV menunjukkan air bah mulai masuk ke wilayah Nepal pukul 08.32 waktu setempat, dan peringatan darurat massal baru dapat dikirimkan pukul 09.13 setelah beberapa stasiun pemantau hancur.

Peneliti iklim menyatakan bencana ini terkait dengan pemanasan global yang menyebabkan ketidakstabilan gletser dan permafrost di Himalaya, meski hubungan langsung dengan perubahan iklim masih perlu bukti lebih lanjut.

"Pemanasan global sedang mengubah cara sistem bumi bekerja," ujar Nofiyendri Sudiar, dosen fisika dan peneliti perubahan iklim.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed